Kefakiran Dekat Dengan Kekufuran?
07/08/2025 | Penulis: Muhamad Alfian
Fakir Dekat Kufur
Adalah sebuah hadits Rosululloh shollallohu 'alayhi wasallam dari Ibni Mas‘ud yang di-takhrij oleh at-Tabarani yang kami menukilnya dari kitab Taudihul adillahnya KH Muallim Syafi'i Hadzami. Rosululloh bersabda:
Manusia itu yakni dua orang laki-laki, yang pertama 'alim artinya yang pandai, dan yang kedua yang belajar (artinya yang mencari kepandaian). Dan tidak ada kebaikan bagi selain dari keduanya. Maka tentu bahwa kemuliaan di dunia ini hanya dapat dicapai dengan menggunakan ilmu. Demikian juga halnya kemuliaan akhirat. Maka berbahagialah bagi orang yang berilmu. Dan celakalah bagi orang yang tidak berilmu atau bodoh, sedangkan dia tidak berusaha supaya menjadi pandai, dan berilmu. Sebagaimana kisah Nabi Sulaiman ‘alayhissalam yang disuruh memilih antara ilmu, kerajaan dan kenabian. Maka beliau memilih ilmu. Maka dengan barokah ilmu, beliau telah Alloh ta'ala karuniakan kerajaan dan kenabian. Jika sekiranya beliau memilih kerajaan, atau kenabian saja tanpa memilih ilmu, maka siapa yang akan mengangkat seorang Raja atau Nabi yang bodoh?
Orang yang bodoh adalah orang yang faqir terhadap ilmu. Dan tidak mau belajar adalah sebab yang membuat pelakunya tercela. Karena ke-faqir-an terhadap ilmu adalah suatu hal yang dapat membawa kepada ke-kufuran. Sabda Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam :
Telah mengabarkan kami Abu Tahir Al-Faqih dengan sanad yang bersambung, Dari Anas bin Malik, ia berkata, Rosululloh Bersabda, “Hampirlah kefakiran itu menjadikan kekufuran.”(HR. Al-Baihaqî).
Kepada faqir ilmu-lah di-ihtimal-kan hadits tersebut, karena berapa banyak orang yang kaya raya menjadi kafir. Dan banyak sekali orang yang faqir harta, malah ta’atnya melebihi orang-orang kaya. Yang nyata faktanya dan lebih dekat kepada pengertian kita, bahwa yang dimaksud dengan ke-faqiran di sini adalah faqir ilmu. Karena kenyataannya yang mudah terjerumus kepada kekufuran adalah orang-orang bodoh dan jauh dari ilmu. Imam al-Manawi berkata ketika menafsirkan hadits pada lafadz, “Laa khoiro fiimaa siwaahumaa.” Bermakna, "Karena dia lebih mirip dengan binatang-binatang."
Artikel Lainnya
Memahami 8 Asnaf: Menyalurkan Zakat Secara Tepat dan Memberi Dampak Nyata
Menyucikan Harta, Meringankan Jiwa: Hikmah Zakat Maal untuk Kesehatan Mental dan Spiritual Muzaki
Titipan (Wadiah) di Dalam Ekonomi Islam
Global Sumud Flotilla: Pelayaran Ketabahan Menembus Blokade Gaza
Zakat, Infak, dan Sedekah: Pilar Spiritual dan Sosial Menuju Depok yang Penuh Berkah
Makna Rabiul Awal sebagai Momentum Cinta Rasulullah SAW

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS
