Artikel Terbaru
Menebar Kebaikan di Hari Jumat: BAZNAS Kota Depok, Jembatan Amanah untuk Berbagi
Hari Jumat merupakan hari yang istimewa dalam Islam. Selain menjadi hari terbaik dalam sepekan, Jumat juga menjadi momentum bagi setiap muslim untuk memperbanyak amal saleh, memperkuat ibadah, dan menebarkan kebaikan kepada sesama. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah bersedekah, karena setiap harta yang dikeluarkan di jalan Allah akan menjadi investasi pahala yang terus mengalir dan membawa keberkahan bagi kehidupan.
Allah SWT berfirman:
"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir; pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 261)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa setiap rupiah yang diinfakkan dengan ikhlas tidak akan pernah berkurang nilainya di sisi Allah. Sebaliknya, Allah menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi hamba-Nya yang gemar berbagi.
Keutamaan sedekah pada hari Jumat juga dijelaskan oleh ulama besar, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, yang mengatakan:
"Sedekah pada hari Jumat dibandingkan dengan hari-hari lainnya seperti sedekah pada bulan Ramadan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya."
Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa hari Jumat merupakan waktu yang sangat istimewa untuk memperbanyak amal kebaikan, terutama dengan membantu mereka yang membutuhkan.
Namun, agar sedekah benar-benar memberikan manfaat yang luas dan tepat sasaran, diperlukan lembaga yang amanah, profesional, dan terpercaya dalam mengelolanya. Di sinilah BAZNAS Kota Depok hadir sebagai jembatan kebaikan antara para muzaki dengan masyarakat yang membutuhkan.
Sebagai lembaga resmi yang dibentuk pemerintah sesuai amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, BAZNAS Kota Depok mengelola dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) secara transparan, akuntabel, dan profesional. Dana yang dihimpun disalurkan kepada mustahik melalui berbagai program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Penyaluran tersebut diwujudkan melalui lima pilar program, yaitu Depok Sehat, Depok Cerdas, Depok Peduli, Depok Makmur, dan Depok Taqwa. Melalui program-program tersebut, BAZNAS Kota Depok membantu masyarakat dalam bidang kesehatan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, bantuan kemanusiaan, hingga penguatan nilai-nilai keagamaan. Dengan demikian, setiap zakat, infak, dan sedekah yang ditunaikan menjadi bagian dari upaya membangun kesejahteraan umat secara berkelanjutan.
Hari Jumat menjadi momentum terbaik untuk menguatkan kepedulian sosial. Ketika seseorang berbagi, bukan hanya penerima yang merasakan manfaatnya, tetapi juga pemberi yang memperoleh ketenangan hati, keberkahan rezeki, serta pahala yang terus mengalir. Semangat berbagi inilah yang menjadi fondasi terciptanya masyarakat yang saling peduli dan saling menguatkan.
Mari jadikan setiap Jumat sebagai langkah nyata untuk menebarkan kebaikan. Salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Depok agar setiap amanah yang dititipkan dapat dikelola secara profesional dan disalurkan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan. Bersama BAZNAS Kota Depok, setiap kebaikan yang kita berikan akan menjadi harapan bagi sesama, menghadirkan senyum bagi yang membutuhkan, serta menjadi jalan menuju keberkahan dunia dan akhirat.
"Berbagi bukanlah tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa besar kepedulian yang kita tanamkan. Melalui BAZNAS Kota Depok, setiap kebaikan menjadi lebih bermakna, tepat sasaran, dan membawa manfaat bagi umat."
ARTIKEL03/07/2026 | M Hilmi Zuhdi
Awal Mula Kalender Hijriah dan Peran Besar Khalifah Umar bin Khattab
Kalender Hijriah menjadi sistem penanggalan yang digunakan umat Islam untuk menentukan berbagai waktu ibadah, seperti Ramadan, Idulfitri, Iduladha, dan ibadah haji. Di balik penggunaannya, terdapat sejarah penting tentang bagaimana kalender ini ditetapkan pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, yang menjadi tonggak dalam perkembangan administrasi dan peradaban Islam.
Latar Belakang Penetapan Kalender Hijriah
Pada masa awal Islam, umat Muslim belum memiliki sistem penanggalan resmi. Berbagai surat, dokumen pemerintahan, dan keputusan administratif sering kali hanya mencantumkan nama bulan tanpa menyebutkan tahun. Kondisi ini menimbulkan kebingungan, terutama ketika wilayah kekuasaan Islam semakin luas dan urusan pemerintahan menjadi semakin kompleks.
Diriwayatkan bahwa salah seorang gubernur mengirimkan surat kepada Khalifah Umar bin Khattab untuk menyampaikan bahwa surat-surat resmi yang diterima tidak mencantumkan tahun, sehingga menyulitkan pelaksanaan administrasi pemerintahan. Masukan tersebut kemudian menjadi salah satu alasan perlunya menetapkan sistem penanggalan yang baku.
Musyawarah Para Sahabat
Untuk menentukan penanggalan resmi, Khalifah Umar mengundang para sahabat Rasulullah SAW bermusyawarah. Dalam pertemuan tersebut muncul beberapa usulan mengenai titik awal perhitungan tahun, di antaranya berdasarkan tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW, tahun diangkatnya beliau menjadi nabi, tahun wafat beliau, maupun tahun hijrah dari Makkah ke Madinah.
Setelah mempertimbangkan berbagai pendapat, para sahabat sepakat menjadikan peristiwa hijrah sebagai awal penanggalan Islam. Hijrah dipilih karena menjadi titik balik yang menandai lahirnya masyarakat Islam yang mandiri serta awal terbentuknya pemerintahan Islam di Madinah.
Mengapa Disebut Kalender Hijriah?
Istilah "Hijriah" berasal dari kata hijrah, yaitu perpindahan Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Peristiwa tersebut bukan sekadar perpindahan tempat tinggal, tetapi menjadi momentum penting dalam sejarah Islam karena membuka jalan bagi perkembangan dakwah dan terbentuknya masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Oleh karena itu, kalender yang digunakan umat Islam kemudian dikenal sebagai kalender Hijriah.
Mengapa Muharram Menjadi Bulan Pertama?
Meskipun hijrah Nabi Muhammad SAW berlangsung pada bulan Rabiulawal, para sahabat menetapkan Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah.
Keputusan tersebut didasarkan pada beberapa pertimbangan. Muharram merupakan bulan yang datang setelah Zulhijah, ketika umat Islam menyelesaikan ibadah haji. Selain itu, setelah Baiat Aqabah, kaum muslimin mulai mempersiapkan hijrah pada bulan Muharram sehingga bulan ini dipandang sebagai awal dari perjalanan menuju terbentuknya masyarakat Islam di Madinah.
Peran Besar Khalifah Umar bin Khattab
Sebagai khalifah kedua, Umar bin Khattab memiliki peran penting dalam menetapkan kalender Hijriah sebagai sistem penanggalan resmi negara Islam. Keputusan tersebut memberikan banyak manfaat bagi kehidupan umat Islam, di antaranya:
* Menyatukan sistem administrasi pemerintahan.
* Mempermudah pencatatan surat-menyurat dan dokumen resmi.
* Menjadi acuan dalam penentuan waktu ibadah.
* Memperkuat identitas umat Islam melalui sistem penanggalan yang berlandaskan sejarah Islam.
Kebijakan ini menunjukkan kepemimpinan Umar bin Khattab yang mengedepankan musyawarah, ketertiban administrasi, dan kemaslahatan umat.
Kalender Hijriah dalam Kehidupan Umat Islam
Hingga saat ini, kalender Hijriah masih digunakan untuk menentukan berbagai ibadah dan hari-hari besar Islam. Awal Ramadan, Idulfitri, Iduladha, ibadah haji, hingga bulan-bulan mulia seperti Muharram, Rajab, Zulkaidah, dan Zulhijah semuanya mengacu pada penanggalan Hijriah.
Selain menjadi pedoman ibadah, kalender Hijriah juga mengingatkan umat Islam pada perjalanan dakwah Rasulullah SAW serta perjuangan para sahabat dalam membangun peradaban Islam.
Warisan Peradaban yang Terus Digunakan
Penetapan kalender Hijriah oleh Khalifah Umar bin Khattab merupakan salah satu warisan penting dalam sejarah Islam yang manfaatnya masih dirasakan hingga kini. Melalui sistem penanggalan ini, umat Islam memiliki acuan yang tidak hanya mengatur waktu ibadah, tetapi juga menghubungkan setiap pergantian tahun dengan peristiwa hijrah yang menjadi simbol pengorbanan, perjuangan, dan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.
Karena itu, setiap datangnya tahun baru Hijriah, umat Islam tidak hanya memperingati pergantian kalender, tetapi juga mengenang nilai-nilai hijrah sebagai inspirasi untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
ARTIKEL02/07/2026 | M Hilmi Zuhdi
Peran BAZNAS dalam Menghidupkan Nilai Ukhuwah melalui Budaya Berbagi
Islam adalah agama yang mengajarkan kasih sayang, kepedulian, dan persaudaraan. Salah satu cara nyata untuk memperkuat persaudaraan (ukhuwah islamiyah) adalah melalui budaya berbagi kepada sesama. Berbagi bukan sekadar memberikan sebagian harta, tetapi merupakan wujud keimanan yang melahirkan kepedulian sosial, mengurangi kesenjangan, serta mempererat hubungan antarumat.
Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat, semangat berbagi menjadi kebutuhan bersama. Ketika seseorang membantu saudaranya yang sedang kesulitan, sesungguhnya ia sedang membangun kekuatan umat. Dari sinilah lahir masyarakat yang saling menopang, saling mendoakan, dan saling menguatkan.
Allah Swt. berfirman:
"Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah [2]: 261)
Ayat tersebut menegaskan bahwa setiap harta yang dikeluarkan di jalan Allah tidak akan mengurangi kekayaan, justru akan dilipatgandakan keberkahannya oleh Allah Swt. Hal ini menunjukkan bahwa berbagi merupakan investasi akhirat sekaligus solusi bagi kesejahteraan sosial.
Selain itu, Allah juga berfirman:
"Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian." (QS. Az-Zariyat [51]: 19)
Ayat ini mengingatkan bahwa dalam setiap rezeki yang Allah titipkan terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan. Oleh karena itu, zakat, infak, dan sedekah bukan hanya bentuk kebaikan sukarela, tetapi juga manifestasi tanggung jawab sosial seorang muslim.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menjelaskan bahwa harta merupakan amanah dari Allah Swt. yang akan menjadi berkah apabila dimanfaatkan untuk kemaslahatan orang lain. Beliau menegaskan bahwa sifat dermawan merupakan salah satu akhlak mulia yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah dan kepada sesamanya.
Senada dengan itu, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata:
"Sedekah memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menolak berbagai musibah, meskipun berasal dari orang yang berbuat maksiat atau bahkan dari orang zalim. Sebab Allah menghilangkan berbagai musibah dengan sedekah."
Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa berbagi memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial. Sedekah tidak hanya memberi manfaat bagi penerimanya, tetapi juga menjadi sebab datangnya keberkahan dan perlindungan bagi pemberinya.
Zakat, Infak, dan Sedekah sebagai Pilar Ukhuwah
Zakat, infak, dan sedekah (ZIS) merupakan instrumen ekonomi Islam yang memiliki dampak luas bagi kehidupan masyarakat. Melalui zakat, kebutuhan dasar mustahik dapat dipenuhi secara lebih terstruktur. Sementara infak dan sedekah menjadi ruang bagi setiap muslim untuk terus menebarkan manfaat kapan pun dan dalam keadaan apa pun.
Budaya berbagi melalui ZIS melahirkan berbagai manfaat, di antaranya:
Mempererat ukhuwah islamiyah dan solidaritas sosial.
Mengurangi kesenjangan ekonomi di tengah masyarakat.
Menumbuhkan rasa syukur dan kepedulian terhadap sesama.
Mendorong pemberdayaan ekonomi umat secara berkelanjutan.
Menghadirkan keberkahan dalam kehidupan pribadi maupun sosial.
Ketika budaya berbagi menjadi kebiasaan, masyarakat akan tumbuh menjadi komunitas yang kuat, saling mendukung, dan mampu menghadapi berbagai tantangan bersama.
Peran BAZNAS dalam Mengelola Zakat, Infak, dan Sedekah
Sebagai lembaga resmi yang dibentuk pemerintah untuk mengelola zakat, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) memiliki peran strategis dalam menghimpun, mengelola, dan mendistribusikan dana zakat, infak, dan sedekah secara amanah, profesional, dan tepat sasaran.
Melalui berbagai program di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, kemanusiaan, dan dakwah, BAZNAS berupaya memastikan bahwa dana yang dititipkan oleh para muzaki memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat yang membutuhkan. Pengelolaan yang transparan dan akuntabel juga menjadi bentuk komitmen untuk menjaga kepercayaan publik.
Di tingkat daerah, BAZNAS turut menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendukung pengentasan kemiskinan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta pemberdayaan mustahik agar dapat bertransformasi menjadi muzaki di masa depan. Dengan demikian, zakat tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga produktif dan berkelanjutan.
Penutup
Budaya berbagi adalah fondasi kuat dalam membangun ukhuwah islamiyah. Melalui zakat, infak, dan sedekah, umat Islam tidak hanya menjalankan perintah Allah Swt., tetapi juga menghadirkan harapan bagi mereka yang membutuhkan. Semakin banyak tangan yang memberi, semakin kuat pula persaudaraan yang terjalin di tengah masyarakat.
Mari menjadikan berbagi sebagai gaya hidup dan bagian dari ibadah sehari-hari. Salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS agar setiap amanah yang dititipkan dapat dikelola secara profesional, tepat sasaran, serta memberikan manfaat yang luas bagi kemajuan dan kesejahteraan umat.
ARTIKEL01/07/2026 | M Hilmi Zuhdi
Berbagi Bersama, Menguatkan Umat: Spirit Zakat, Infak, dan Sedekah dalam Islam
Islam merupakan agama yang mengajarkan keseimbangan antara ibadah kepada Allah SWT dan kepedulian terhadap sesama. Salah satu bentuk nyata kepedulian tersebut diwujudkan melalui zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Ketiganya bukan sekadar bentuk kedermawanan, tetapi juga instrumen yang mampu memperkuat persaudaraan, mengurangi kesenjangan sosial, serta membangun kesejahteraan umat.
Allah SWT berfirman:
"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 261)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa setiap harta yang dikeluarkan dengan ikhlas di jalan Allah tidak akan mengurangi kekayaan seseorang. Sebaliknya, Allah menjanjikan balasan yang berlipat ganda, baik berupa keberkahan hidup maupun pahala di akhirat.
Zakat merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat nisab dan haul. Melalui zakat, terjadi pemerataan ekonomi sehingga harta tidak hanya beredar di kalangan orang-orang yang mampu. Sementara itu, infak dan sedekah memberikan ruang yang lebih luas bagi setiap muslim untuk berbagi sesuai kemampuan, kapan pun dan dalam jumlah berapa pun.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulum al-Din menjelaskan bahwa:
"Harta hanyalah amanah. Kesempurnaan syukur atas nikmat harta adalah dengan menunaikan hak-hak Allah di dalamnya serta membantu mereka yang membutuhkan."
Pernyataan tersebut mengingatkan bahwa kepemilikan harta bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui kemanfaatan bagi sesama.
Senada dengan itu, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah mengatakan:
"Sedekah memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menolak berbagai musibah, meskipun berasal dari orang yang berbuat zalim atau bahkan dari orang yang belum sempurna keimanannya. Sebab Allah menjadikan pada sedekah kekuatan yang luar biasa."
Kutipan tersebut menggambarkan bahwa sedekah bukan hanya bernilai sosial, tetapi juga menjadi sebab datangnya perlindungan dan keberkahan dari Allah SWT.
Spirit ZIS juga memiliki dampak yang luas dalam kehidupan bermasyarakat. Dana zakat, infak, dan sedekah dapat dikelola secara produktif untuk membantu pendidikan anak-anak dhuafa, meningkatkan layanan kesehatan, memperkuat perekonomian melalui pemberdayaan usaha mikro, membantu korban bencana, hingga membiayai berbagai program dakwah dan kemanusiaan. Dengan pengelolaan yang amanah dan profesional, ZIS menjadi solusi nyata dalam mengurangi kemiskinan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Lebih dari itu, budaya berbagi membentuk karakter seorang muslim agar tidak diperbudak oleh kecintaan terhadap harta. Rasulullah SAW bersabda:
"Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa memberi merupakan kemuliaan yang harus terus diupayakan oleh setiap muslim. Semangat berbagi menjadikan seseorang lebih peduli, rendah hati, serta memiliki tanggung jawab sosial terhadap lingkungan sekitarnya.
Di era modern, semangat ZIS semakin relevan untuk menjawab berbagai tantangan sosial. Ketika semakin banyak umat Islam menunaikan zakat, memperbanyak infak, dan membiasakan sedekah, maka akan lahir masyarakat yang saling menguatkan, saling membantu, dan tumbuh dalam keberkahan.
Mari jadikan zakat sebagai kewajiban yang ditunaikan dengan penuh kesadaran, infak sebagai kebiasaan, dan sedekah sebagai gaya hidup. Dengan berbagi bersama, kita tidak hanya membantu mereka yang membutuhkan, tetapi juga memperkuat persatuan umat, menumbuhkan solidaritas sosial, dan meraih ridha Allah SWT.
Berbagi bukanlah tentang seberapa besar yang kita miliki, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat kita hadirkan bagi sesama. Sebab, umat yang kuat adalah umat yang saling menguatkan melalui zakat, infak, dan sedekah.
ARTIKEL30/06/2026 | M Hilmi Zuhdi
Sejarah Muharram: Asal Usul Bulan Mulia dalam Islam
Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah sekaligus salah satu dari empat bulan yang dimuliakan dalam Islam. Bulan ini memiliki kedudukan istimewa karena menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperbanyak amal saleh, meningkatkan ketakwaan, dan melakukan refleksi diri dalam menyambut tahun baru Hijriah.
Muharram sebagai Awal Tahun Hijriah
Kalender Hijriah mulai digunakan pada masa pemerintahan Umar bin Khattab sebagai sistem penanggalan resmi bagi umat Islam. Penetapan kalender ini didasarkan pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, sebuah peristiwa penting yang menandai awal terbentuknya masyarakat Islam.
Meskipun peristiwa hijrah terjadi pada bulan Rabiulawal, para sahabat sepakat menjadikan Muharram sebagai awal tahun Hijriah karena pada bulan inilah kaum muslimin mulai mempersiapkan hijrah setelah terjadinya Baiat Aqabah. Selain itu, Muharram datang setelah berakhirnya musim ibadah haji pada bulan Zulhijah, sehingga dianggap sebagai waktu yang tepat untuk memulai lembaran baru.
Asal Usul Nama Muharram
Secara bahasa, kata Muharram berasal dari bahasa Arab yang berarti "diharamkan" atau "dimuliakan". Nama ini menunjukkan bahwa sejak masa Arab pra-Islam, bulan Muharram telah dipandang sebagai bulan yang memiliki kehormatan, terutama karena peperangan dilarang dilakukan pada bulan tersebut.
Islam kemudian menegaskan kembali kemuliaan Muharram sebagai salah satu bulan haram yang harus dihormati oleh umat Islam.
Muharram Termasuk Bulan Haram
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an bahwa jumlah bulan menurut ketetapan-Nya adalah dua belas bulan, dan di antaranya terdapat empat bulan haram. Keempat bulan tersebut adalah Zulkaidah, Zulhijah, Muharram, dan Rajab.
Pada bulan-bulan haram, umat Islam dianjurkan untuk lebih menjaga diri dari perbuatan dosa serta memperbanyak amal kebajikan. Nilai pahala atas amal saleh dilipatgandakan, sementara pelanggaran terhadap larangan Allah juga memiliki konsekuensi yang lebih besar.
Keutamaan Bulan Muharram
Muharram memiliki sejumlah keutamaan yang dijelaskan dalam hadis-hadis Rasulullah SAW. Salah satunya adalah anjuran memperbanyak puasa sunnah pada bulan ini.
Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram. Oleh karena itu, banyak umat Islam yang melaksanakan puasa sunnah, terutama pada tanggal 9 dan 10 Muharram (Tasua dan Asyura), atau tanggal 10 dan 11 Muharram.
Selain berpuasa, Muharram juga menjadi momentum untuk memperbanyak zikir, sedekah, membaca Al-Qur'an, dan berbagai amal kebajikan lainnya.
Peristiwa Penting di Bulan Muharram
Dalam tradisi Islam, tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura memiliki nilai sejarah yang penting. Salah satu peristiwa yang paling dikenal adalah diselamatkannya Musa AS beserta kaumnya dari kejaran Fir'aun. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, Nabi Musa berpuasa pada hari tersebut.
Ketika tiba di Madinah, Rasulullah SAW mendapati kaum Yahudi berpuasa pada Hari Asyura untuk mengenang peristiwa tersebut. Beliau kemudian turut berpuasa dan menganjurkan umat Islam untuk melaksanakannya, dengan menambahkan puasa pada hari sebelumnya atau sesudahnya agar berbeda dari tradisi kaum Yahudi.
Muharram sebagai Momentum Muhasabah
Datangnya bulan Muharram menjadi pengingat bagi umat Islam untuk melakukan evaluasi terhadap perjalanan hidup selama satu tahun terakhir. Tahun baru Hijriah bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, tetapi juga kesempatan untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.
Momentum ini juga dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak amal sosial seperti sedekah, infak, dan zakat sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat yang membutuhkan.
Menyambut Muharram dengan Amal Kebaikan
Kemuliaan bulan Muharram menjadi kesempatan bagi setiap muslim untuk memulai tahun Hijriah dengan semangat beribadah dan berbuat baik. Dengan memperbanyak amal saleh, menjaga akhlak, serta meningkatkan kepedulian sosial, Muharram dapat menjadi awal yang penuh keberkahan bagi kehidupan pribadi maupun masyarakat.
Memaknai Muharram tidak hanya sebatas mengenang sejarah, tetapi juga menjadikannya sebagai momentum untuk memperkuat keimanan dan membangun komitmen dalam menjalankan ajaran Islam sepanjang tahun.
ARTIKEL29/06/2026 | M Hilmi Zuhdi
Makna Hijrah dalam Islam yang Relevan untuk Kehidupan Masa Kini
Makna hijrah dalam Islam merupakan salah satu konsep penting yang tidak hanya berkaitan dengan perpindahan tempat, tetapi juga perubahan diri menuju kehidupan yang lebih baik sesuai tuntunan Allah SWT. Ketika mendengar kata hijrah, sebagian besar umat Islam mungkin langsung teringat pada peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Namun, sesungguhnya hijrah memiliki makna yang jauh lebih luas dan relevan dalam kehidupan modern saat ini.
Makna hijrah dalam Islam mengajarkan bahwa setiap muslim memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, meninggalkan kebiasaan buruk, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hijrah menjadi simbol transformasi spiritual yang membawa seseorang dari keadaan kurang baik menuju keadaan yang lebih diridhai oleh-Nya.
Dalam kehidupan yang penuh tantangan seperti sekarang, makna hijrah dalam Islam menjadi semakin penting. Arus informasi yang cepat, perubahan gaya hidup, dan berbagai godaan dunia membuat umat Islam perlu memiliki pegangan yang kuat agar tetap berada di jalan yang benar.
Hijrah bukan sekadar tren atau perubahan penampilan semata. Sebaliknya, makna hijrah dalam Islam menekankan perubahan hati, pola pikir, dan perilaku yang didasarkan pada nilai-nilai keimanan serta ketakwaan kepada Allah SWT.
Melalui pemahaman yang benar tentang makna hijrah dalam Islam, seorang muslim dapat menjalani kehidupan dengan lebih terarah, penuh tujuan, dan senantiasa berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.
Sejarah dan Dasar Makna Hijrah dalam Islam
Makna hijrah dalam Islam tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan Rasulullah SAW bersama para sahabat. Peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah menjadi titik balik penting dalam perkembangan dakwah Islam dan pembentukan masyarakat muslim yang kuat.
Dalam sejarah tersebut, makna hijrah dalam Islam menunjukkan keberanian, pengorbanan, serta ketaatan kepada perintah Allah SWT. Rasulullah SAW meninggalkan kampung halaman yang dicintainya demi menjaga dan mengembangkan ajaran Islam.
Selain perpindahan fisik, makna hijrah dalam Islam juga mengandung pesan spiritual yang mendalam. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa hijrah sejati adalah meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT.
Hadis Nabi SAW menjelaskan bahwa seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah. Oleh karena itu, makna hijrah dalam Islam tidak terbatas pada perpindahan geografis, tetapi mencakup perubahan perilaku menuju ketaatan.
Hingga saat ini, makna hijrah dalam Islam tetap menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk terus memperbaiki diri dan berjuang menegakkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Makna Hijrah dalam Islam sebagai Perubahan Akhlak
Salah satu bentuk nyata dari makna hijrah dalam Islam adalah perubahan akhlak yang lebih baik. Akhlak merupakan cerminan keimanan seseorang dan menjadi salah satu indikator keberhasilan proses hijrah.
Ketika seseorang memahami makna hijrah dalam Islam, ia akan berusaha meninggalkan sifat-sifat buruk seperti sombong, iri hati, dengki, dan suka menyakiti orang lain. Sebagai gantinya, ia berusaha menumbuhkan sifat sabar, rendah hati, dan penuh kasih sayang.
Dalam kehidupan sosial, makna hijrah dalam Islam juga terlihat dari cara seseorang memperlakukan keluarga, tetangga, dan masyarakat. Seorang muslim yang berhijrah akan berusaha menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Perubahan akhlak yang baik merupakan bukti bahwa makna hijrah dalam Islam telah benar-benar meresap ke dalam hati. Hijrah bukan hanya tampak dari luar, tetapi juga terlihat dalam sikap dan tindakan sehari-hari.
Karena itu, setiap muslim hendaknya menjadikan makna hijrah dalam Islam sebagai motivasi untuk terus memperbaiki karakter dan menjadi teladan yang baik bagi orang lain.
Makna Hijrah dalam Islam di Era Modern
Di era digital saat ini, makna hijrah dalam Islam memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan masa lalu. Kemajuan teknologi memberikan banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan berbagai ujian yang dapat menjauhkan seseorang dari nilai-nilai Islam.
Memahami makna hijrah dalam Islam berarti mampu menggunakan teknologi secara bijak. Seorang muslim hendaknya memanfaatkan media sosial, internet, dan berbagai platform digital untuk hal-hal yang bermanfaat dan bernilai ibadah.
Selain itu, makna hijrah dalam Islam juga dapat diwujudkan dengan meninggalkan konten negatif, ujaran kebencian, serta perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Hijrah digital menjadi salah satu bentuk hijrah yang relevan pada masa kini.
Dalam dunia kerja dan pendidikan, makna hijrah dalam Islam mendorong umat Islam untuk bekerja secara jujur, profesional, dan bertanggung jawab. Nilai-nilai Islam harus tetap menjadi pedoman dalam setiap aktivitas.
Dengan demikian, makna hijrah dalam Islam tetap relevan meskipun zaman terus berubah. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mampu menjadi solusi bagi berbagai persoalan kehidupan modern.
Makna Hijrah dalam Islam dan Kepedulian Sosial
Makna hijrah dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia kepada Allah SWT, tetapi juga hubungan dengan sesama manusia. Islam mengajarkan bahwa seorang muslim yang baik harus memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Ketika memahami makna hijrah dalam Islam, seseorang akan terdorong untuk membantu orang yang membutuhkan, memperhatikan kaum dhuafa, dan berkontribusi bagi kesejahteraan masyarakat.
Salah satu contoh nyata implementasi nilai hijrah adalah semangat berbagi dan pemberdayaan umat melalui berbagai program sosial. Program kurban yang diselenggarakan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menunjukkan bagaimana ibadah dapat memberikan dampak sosial yang luas. Program Kurban Berkah Berdayakan Desa 2026 tidak hanya membantu penerima manfaat, tetapi juga memberdayakan peternak kecil di berbagai daerah.
Lebih jauh lagi, makna hijrah dalam Islam tercermin dalam upaya membantu masyarakat yang terdampak bencana serta saudara-saudara muslim di Palestina. BAZNAS menyalurkan kurban ke wilayah bencana dan Palestina sebagai bentuk kepedulian sosial yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.
Melalui semangat berbagi tersebut, makna hijrah dalam Islam menjadi lebih nyata karena mendorong umat Islam untuk tidak hanya memperbaiki diri sendiri, tetapi juga memberikan manfaat bagi orang lain.
Langkah Menerapkan Makna Hijrah dalam Islam dalam Kehidupan Sehari-hari
Untuk mewujudkan makna hijrah dalam Islam, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah memperkuat niat karena Allah SWT. Setiap perubahan yang dilakukan harus dilandasi keikhlasan agar bernilai ibadah.
Selanjutnya, makna hijrah dalam Islam dapat diterapkan dengan memperbaiki kualitas ibadah seperti shalat, membaca Al-Qur'an, berzikir, dan memperbanyak doa kepada Allah SWT.
Langkah berikutnya adalah memilih lingkungan yang baik. Makna hijrah dalam Islam mengajarkan pentingnya berteman dengan orang-orang saleh yang dapat memberikan pengaruh positif dalam kehidupan.
Selain itu, makna hijrah dalam Islam juga diwujudkan dengan terus menuntut ilmu agama. Pengetahuan yang benar akan membantu seseorang memahami ajaran Islam secara lebih mendalam dan menghindari kesalahan dalam beribadah.
Dengan konsistensi dan kesabaran, makna hijrah dalam Islam akan menjadi bagian dari kehidupan seorang muslim yang senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Pada akhirnya, makna hijrah dalam Islam merupakan proses perubahan menuju kehidupan yang lebih baik sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya. Hijrah tidak hanya berarti perpindahan tempat, tetapi juga transformasi hati, pikiran, dan perilaku.
Di tengah berbagai tantangan kehidupan modern, makna hijrah dalam Islam tetap relevan sebagai pedoman bagi umat Islam untuk menjaga keimanan, memperbaiki akhlak, dan meningkatkan kualitas ibadah. Hijrah mengajarkan bahwa setiap muslim memiliki kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya.
Lebih dari itu, makna hijrah dalam Islam juga mendorong kepedulian sosial, semangat berbagi, dan pemberdayaan masyarakat sebagaimana dicontohkan dalam berbagai program kemanusiaan dan pemberdayaan umat yang dijalankan oleh lembaga-lembaga Islam.
Dengan memahami dan mengamalkan makna hijrah dalam Islam, setiap muslim dapat menjalani kehidupan yang lebih bermakna, penuh keberkahan, serta memberikan manfaat bagi sesama dan lingkungan sekitar.
ARTIKEL26/06/2026 | M Hilmi Zuhdi
Zakat untuk Pendidikan Anak Dhuafa: Dampak Nyata yang Bisa Dilihat
Zakat tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat kurang mampu, tetapi juga berperan penting dalam membuka akses pendidikan bagi anak-anak dhuafa. Melalui dana zakat yang dikelola secara amanah dan profesional oleh Badan Amil Zakat Nasional, banyak anak dari keluarga prasejahtera mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan meraih masa depan yang lebih baik.
Mengapa Pendidikan Penting?
Pendidikan Membuka Peluang Masa Depan
Pendidikan merupakan salah satu kunci utama untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang. Dengan memperoleh pendidikan yang layak, anak-anak memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan potensi, memperoleh pekerjaan yang baik, dan meningkatkan taraf hidup keluarganya di masa depan.
Bagi anak-anak dhuafa, pendidikan sering kali menjadi jalan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan yang dialami keluarganya selama bertahun-tahun.
Mengurangi Risiko Putus Sekolah
Keterbatasan ekonomi menjadi salah satu penyebab utama anak-anak dari keluarga kurang mampu mengalami kesulitan mengakses pendidikan. Biaya sekolah, perlengkapan belajar, transportasi, hingga kebutuhan penunjang lainnya sering kali menjadi beban yang berat bagi keluarga.
Melalui dukungan dana zakat, berbagai hambatan tersebut dapat dikurangi sehingga anak-anak memiliki kesempatan untuk terus belajar dan menyelesaikan pendidikannya.
Membangun Generasi yang Berkualitas
Investasi dalam bidang pendidikan tidak hanya memberikan manfaat bagi individu, tetapi juga bagi masyarakat secara luas. Anak-anak yang memperoleh pendidikan yang baik berpotensi menjadi generasi yang produktif, mandiri, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya.
Bentuk Bantuan dari Zakat
Beasiswa Pendidikan
Salah satu bentuk pemanfaatan zakat yang paling banyak dirasakan adalah pemberian beasiswa bagi siswa dan mahasiswa dari keluarga dhuafa. Bantuan ini membantu meringankan biaya pendidikan sehingga mereka dapat fokus pada proses belajar.
Bantuan Perlengkapan Sekolah
Dana zakat juga dapat digunakan untuk menyediakan perlengkapan sekolah seperti seragam, tas, buku, alat tulis, dan kebutuhan belajar lainnya. Bantuan ini membantu memastikan anak-anak memiliki sarana yang memadai untuk mengikuti kegiatan pendidikan.
Dukungan Biaya Pendidikan
Selain beasiswa, zakat dapat dimanfaatkan untuk membantu biaya pendidikan yang harus dibayarkan oleh keluarga mustahik, termasuk kebutuhan akademik tertentu yang mendukung keberlangsungan proses belajar.
Program Pembinaan dan Pengembangan Diri
Beberapa program pendidikan berbasis zakat tidak hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga menyediakan pembinaan karakter, pelatihan keterampilan, pendampingan belajar, serta pengembangan kapasitas diri agar penerima manfaat dapat tumbuh secara optimal.
Dampak bagi Keluarga Mustahik
Meringankan Beban Ekonomi Keluarga
Bantuan pendidikan dari dana zakat membantu keluarga mustahik mengurangi pengeluaran yang berkaitan dengan kebutuhan sekolah anak. Dengan demikian, keluarga dapat lebih fokus memenuhi kebutuhan pokok lainnya tanpa harus mengorbankan pendidikan anak.
Meningkatkan Semangat Belajar Anak
Ketika kebutuhan pendidikan terpenuhi, anak-anak cenderung lebih termotivasi untuk belajar dan berprestasi. Dukungan yang diberikan melalui program zakat menjadi bentuk perhatian yang mendorong mereka untuk terus mengejar cita-cita.
Memberikan Harapan untuk Kehidupan yang Lebih Baik
Pendidikan yang berkelanjutan membuka peluang bagi anak-anak dhuafa untuk memperoleh masa depan yang lebih cerah. Kesempatan ini tidak hanya berdampak pada individu penerima manfaat, tetapi juga memberikan harapan baru bagi keluarganya untuk meningkatkan kondisi ekonomi di masa mendatang.
Memutus Rantai Kemiskinan
Salah satu dampak terbesar dari program pendidikan berbasis zakat adalah kemampuannya dalam membantu memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Anak yang memperoleh pendidikan yang baik memiliki peluang lebih besar untuk mencapai kemandirian ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
Zakat untuk Masa Depan Generasi Bangsa
Pemanfaatan zakat di bidang pendidikan menunjukkan bahwa zakat memiliki peran yang sangat strategis dalam pembangunan sumber daya manusia. Melalui bantuan pendidikan yang tepat sasaran, anak-anak dhuafa dapat memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan meraih cita-cita mereka.
Setiap zakat yang ditunaikan tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga menjadi investasi sosial yang memberikan manfaat jangka panjang bagi masa depan umat. Dengan mendukung pendidikan anak-anak dhuafa, zakat turut berkontribusi dalam menciptakan generasi yang lebih berdaya, mandiri, dan siap membangun Indonesia yang lebih sejahtera.
ARTIKEL24/06/2026 | M Hilmi Zuhdi
Cara Menyambut Muharram dengan Ibadah dan Semangat Hijrah
Muharram merupakan salah satu bulan yang sangat istimewa dalam kalender Islam. Bulan ini menjadi penanda awal tahun baru Hijriah sekaligus momentum bagi umat Islam untuk melakukan introspeksi diri, memperbaiki amal, dan memperkuat tekad dalam menjalani kehidupan yang lebih baik sesuai tuntunan agama. Oleh karena itu, memahami Cara Menyambut Muharram dengan benar sangat penting agar pergantian tahun Hijriah tidak hanya menjadi peristiwa seremonial, tetapi juga menjadi sarana peningkatan keimanan dan ketakwaan.
Sebagai seorang muslim, datangnya Muharram seharusnya disambut dengan rasa syukur kepada Allah SWT karena masih diberikan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan hidup dan memperbanyak amal saleh. Semangat hijrah yang diwariskan dari peristiwa perpindahan Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah dapat menjadi inspirasi bagi setiap muslim untuk meninggalkan kebiasaan buruk menuju kehidupan yang lebih baik.
Artikel ini akan membahas secara lengkap Cara Menyambut Muharram dengan ibadah dan semangat hijrah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Keutamaan Bulan Muharram dalam Islam
Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Dalam bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal kebaikan dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan.
Keutamaan Muharram juga terlihat dari berbagai hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan bahwa puasa sunnah terbaik setelah puasa Ramadan adalah puasa di bulan Muharram. Hal ini menunjukkan betapa besarnya nilai ibadah yang dilakukan pada bulan tersebut.
Selain itu, Muharram menjadi pengingat akan sejarah besar umat Islam, yaitu hijrah Rasulullah SAW yang menjadi titik awal perkembangan peradaban Islam hingga menyebar ke berbagai penjuru dunia.
Mengapa Muharram Identik dengan Semangat Hijrah?
Ketika membahas Cara Menyambut Muharram, kita tidak dapat melepaskan pembahasan tentang hijrah. Secara umum, hijrah berarti berpindah atau meninggalkan sesuatu menuju keadaan yang lebih baik.
Dalam konteks kehidupan seorang muslim saat ini, hijrah dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, antara lain:
Meninggalkan kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik.
Meninggalkan kemalasan menuju semangat beribadah.
Meninggalkan perbuatan maksiat menuju ketaatan.
Meninggalkan sikap negatif menuju akhlak yang lebih mulia.
Semangat hijrah bukan sekadar perubahan penampilan luar, melainkan transformasi hati, pola pikir, dan perilaku agar semakin dekat kepada Allah SWT.
Cara Menyambut Muharram dengan Memperbanyak Muhasabah
Salah satu Cara Menyambut Muharram yang sangat dianjurkan adalah melakukan muhasabah atau evaluasi diri. Pergantian tahun Hijriah menjadi waktu yang tepat untuk meninjau kembali perjalanan hidup selama setahun terakhir.
Muhasabah dapat dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada diri sendiri:
Apakah kualitas salat sudah semakin baik?
Apakah hubungan dengan keluarga sudah harmonis?
Apakah masih ada kebiasaan buruk yang perlu ditinggalkan?
Apakah target ibadah tahun lalu sudah tercapai?
Melalui muhasabah, seorang muslim dapat mengetahui kekurangan yang masih perlu diperbaiki dan merancang langkah-langkah positif untuk masa depan.
Memperbanyak Taubat kepada Allah SWT
Muharram merupakan momen yang tepat untuk memperbarui taubat. Setiap manusia pasti memiliki kesalahan dan dosa, baik yang disadari maupun yang tidak disadari.
Karena itu, salah satu Cara Menyambut Muharram yang paling utama adalah memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah SWT.
Taubat yang sungguh-sungguh mencakup beberapa hal:
Menyesali perbuatan dosa yang pernah dilakukan.
Berhenti dari perbuatan tersebut.
Bertekad tidak mengulanginya kembali.
Mengembalikan hak orang lain jika berkaitan dengan sesama manusia.
Dengan taubat yang tulus, seorang muslim dapat memasuki tahun baru Hijriah dengan hati yang lebih bersih dan penuh harapan.
Memperbanyak Ibadah Sunnah
Muharram merupakan waktu yang tepat untuk meningkatkan kualitas ibadah. Selain menjalankan ibadah wajib dengan baik, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak amalan sunnah.
Beberapa ibadah sunnah yang dapat dilakukan antara lain:
1. Puasa Sunnah Muharram
Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak puasa sunnah pada bulan Muharram. Salah satu yang paling terkenal adalah puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram.
Selain itu, dianjurkan pula berpuasa pada tanggal 9 Muharram atau Tasua sebagai pembeda dari tradisi umat lain.
2. Membaca Al-Qur'an
Muharram dapat menjadi momentum untuk meningkatkan interaksi dengan Al-Qur'an. Misalnya dengan:
Menambah target tilawah harian.
Memahami makna ayat-ayat Al-Qur'an.
Menghafalkan surat-surat pendek.
Mengikuti kajian tafsir.
3. Memperbanyak Zikir dan Doa
Zikir membantu hati menjadi lebih tenang dan dekat dengan Allah SWT. Pergantian tahun Hijriah dapat dijadikan pengingat untuk lebih sering mengingat Allah dalam setiap aktivitas.
Menyusun Target Kebaikan di Tahun Baru Hijriah
Sebagian orang membuat resolusi ketika memasuki tahun baru Masehi. Demikian pula dalam Islam, Muharram dapat dijadikan momen untuk menetapkan target kebaikan.
Dalam praktik Cara Menyambut Muharram, menyusun target ibadah sangat bermanfaat agar kehidupan menjadi lebih terarah.
Contoh target yang bisa dibuat:
Salat berjamaah lebih rutin.
Menambah hafalan Al-Qur'an.
Bersedekah secara konsisten setiap bulan.
Mengikuti majelis ilmu secara berkala.
Menjaga hubungan baik dengan keluarga.
Target yang realistis dan terukur akan membantu seseorang lebih mudah mencapainya.
Mempererat Silaturahmi dan Ukhuwah Islamiyah
Muharram juga menjadi waktu yang baik untuk memperbaiki hubungan dengan sesama. Tidak sedikit konflik yang berlangsung bertahun-tahun hanya karena kesalahpahaman kecil.
Oleh sebab itu, salah satu Cara Menyambut Muharram yang bernilai besar adalah mempererat silaturahmi.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Menghubungi keluarga yang lama tidak berkomunikasi.
Meminta maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan.
Mengunjungi kerabat dan sahabat.
Membantu sesama yang membutuhkan.
Silaturahmi bukan hanya memperkuat hubungan sosial, tetapi juga mendatangkan keberkahan dalam kehidupan.
Menumbuhkan Semangat Hijrah dalam Kehidupan Sehari-hari
Semangat hijrah harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Muharram tidak hanya menjadi peringatan sejarah, tetapi juga momentum perubahan diri.
Berikut beberapa bentuk hijrah yang relevan saat ini:
Hijrah dalam Ibadah
Meningkatkan kualitas salat, memperbanyak doa, dan lebih disiplin menjalankan kewajiban agama.
Hijrah dalam Akhlak
Mengurangi amarah, menjaga lisan, menghormati orang tua, dan memperlakukan sesama dengan baik.
Hijrah dalam Pergaulan
Memilih lingkungan yang mendukung kebaikan dan menjauhkan diri dari pergaulan yang dapat merusak iman.
Hijrah dalam Pemanfaatan Waktu
Menggunakan waktu untuk kegiatan yang bermanfaat seperti belajar, bekerja secara produktif, dan beribadah.
Mengajarkan Makna Muharram kepada Keluarga
Muharram juga dapat menjadi sarana pendidikan Islam dalam keluarga. Orang tua dapat mengenalkan nilai-nilai hijrah kepada anak-anak sejak dini.
Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan bersama keluarga:
Membaca kisah hijrah Rasulullah SAW.
Mengadakan diskusi ringan tentang makna tahun baru Hijriah.
Mengajak anak berpuasa sunnah sesuai kemampuannya.
Membiasakan doa dan zikir bersama.
Melalui pendekatan ini, nilai-nilai Islam dapat diwariskan kepada generasi berikutnya dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami.
Hal-Hal yang Perlu Dihindari Saat Menyambut Muharram
Dalam menjalankan Cara Menyambut Muharram, umat Islam juga perlu menghindari berbagai praktik yang tidak memiliki dasar yang jelas dalam syariat.
Beberapa hal yang perlu dihindari antara lain:
Menganggap Muharram sebagai bulan sial.
Melakukan ritual yang tidak memiliki landasan agama.
Berlebihan dalam perayaan hingga melalaikan ibadah.
Mempercayai mitos atau takhayul yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Muharram seharusnya diisi dengan aktivitas yang mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan dengan hal-hal yang dapat mengurangi nilai ibadah.
Hikmah Menyambut Muharram dengan Ibadah dan Semangat Hijrah
Ada banyak hikmah yang dapat diperoleh ketika seorang muslim memahami Cara Menyambut Muharram dengan benar.
Di antaranya adalah:
Meningkatkan kualitas hubungan dengan Allah SWT.
Menumbuhkan kesadaran untuk memperbaiki diri.
Menambah semangat dalam menjalankan ibadah.
Memperkuat hubungan dengan keluarga dan masyarakat.
Menjadikan kehidupan lebih terarah dan bermakna.
Muharram bukan hanya pergantian angka dalam kalender, tetapi kesempatan untuk membuka lembaran baru yang lebih baik.
Pada akhirnya, Cara Menyambut Muharram tidak cukup hanya dengan mengucapkan selamat tahun baru Hijriah, tetapi harus diwujudkan melalui peningkatan ibadah, muhasabah diri, taubat yang tulus, serta semangat hijrah menuju kehidupan yang lebih baik. Muharram adalah momentum yang sangat berharga bagi umat Islam untuk memperbarui niat, memperkuat keimanan, dan memperbanyak amal saleh.
Dengan memahami dan menerapkan Cara Menyambut Muharram secara benar, setiap muslim dapat menjadikan awal tahun Hijriah sebagai titik awal perubahan positif yang berkelanjutan. Semoga Muharram menjadi bulan yang membawa keberkahan, meningkatkan ketakwaan, dan menguatkan semangat hijrah dalam setiap aspek kehidupan kita.
ARTIKEL10/06/2026 | M Hilmi Zuhdi
Keutamaan Bersedekah kepada Anak Yatim di Bulan Muharram
Muharram, Bulan Mulia untuk Memperbanyak Kebaikan
Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Sebagai pembuka tahun Hijriah, bulan ini menjadi momentum bagi umat Muslim untuk memperbaiki diri, meningkatkan ibadah, dan memperbanyak amal saleh. Di antara amalan yang sangat dianjurkan adalah bersedekah kepada anak yatim.
Anak yatim memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Rasulullah ? memberikan perhatian besar kepada mereka dan mendorong umatnya untuk senantiasa menjaga, menyayangi, serta memenuhi kebutuhan mereka. Ketika sedekah diberikan pada bulan Muharram, nilai kebaikan tersebut menjadi semakin bermakna karena dilakukan pada waktu yang penuh keberkahan.
Mendapatkan Pahala yang Berlipat
Setiap sedekah yang diberikan dengan ikhlas akan mendapatkan balasan dari Allah SWT. Terlebih lagi ketika sedekah tersebut diberikan kepada anak yatim yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Sedekah bukan hanya membantu memenuhi kebutuhan mereka, tetapi juga menjadi investasi pahala bagi pemberinya.
Allah SWT berfirman bahwa setiap kebaikan akan dibalas dengan ganjaran yang berlipat ganda. Oleh karena itu, Muharram menjadi kesempatan emas untuk memperbanyak amal yang bermanfaat bagi sesama.
Meneladani Akhlak Rasulullah ?
Rasulullah ? sendiri adalah seorang yatim sejak kecil. Beliau sangat memahami perasaan dan kebutuhan anak yatim. Karena itu, beliau menganjurkan umatnya untuk memuliakan mereka.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah ? bersabda:
"Aku dan orang yang menanggung anak yatim akan berada di surga seperti ini," sambil beliau merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
Hadis ini menunjukkan betapa besar kemuliaan orang yang peduli terhadap kehidupan anak yatim.
Membuka Pintu Keberkahan Rezeki
Sedekah tidak akan mengurangi harta. Sebaliknya, sedekah menjadi sebab datangnya keberkahan, ketenangan hati, dan kemudahan dalam kehidupan. Ketika seseorang membantu anak yatim dengan tulus, ia sedang menanam kebaikan yang kelak akan berbuah keberkahan dalam berbagai bentuk.
Banyak orang merasakan bahwa setelah gemar bersedekah, Allah SWT memberikan jalan keluar dari kesulitan, memperluas rezeki, dan menghadirkan kebahagiaan dalam keluarga.
Menumbuhkan Kepedulian Sosial
Memberikan santunan kepada anak yatim di bulan Muharram juga menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa empati dan kepedulian sosial. Masyarakat diajak untuk tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga memperhatikan mereka yang membutuhkan dukungan.
Semangat berbagi ini akan mempererat persaudaraan dan menciptakan lingkungan yang lebih harmonis serta penuh kasih sayang.
Penutup
Muharram adalah bulan yang tepat untuk memulai tahun dengan amal terbaik. Bersedekah kepada anak yatim bukan hanya membantu mereka menjalani kehidupan yang lebih baik, tetapi juga menjadi jalan meraih keberkahan, pahala, dan kedekatan dengan Allah SWT.
Mari jadikan bulan Muharram sebagai momentum untuk memperbanyak kepedulian dan berbagi kebahagiaan kepada anak-anak yatim. Sebab, senyum yang kita hadirkan untuk mereka dapat menjadi amal yang terus mengalir nilainya di sisi Allah SWT.
ARTIKEL09/06/2026 | M Hilmi Zuhdi
Kurban Hari Ini, Kebahagiaan untuk Banyak Hati
Hari Raya Iduladha bukan sekadar tentang menyembelih hewan kurban. Lebih dari itu, kurban adalah simbol keikhlasan, ketaatan, dan kepedulian kepada sesama. Di tengah kehidupan yang semakin sibuk dan penuh tantangan, ibadah kurban mengajarkan kita untuk kembali membuka hati, berbagi, dan menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain.
Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menjadi pelajaran besar tentang arti pengorbanan dan ketundukan kepada Allah SWT. Dengan penuh keikhlasan, Nabi Ibrahim menjalankan perintah Allah, dan dari situlah lahir makna kurban yang hingga hari ini terus dijalankan umat Islam di seluruh dunia.
Allah SWT berfirman:
“Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”
(QS. Al-Kautsar: 2)
Kurban bukan hanya ibadah pribadi, tetapi juga ibadah sosial. Daging kurban yang dibagikan menjadi kebahagiaan bagi banyak orang, terutama mereka yang jarang menikmati makanan layak. Ada senyum anak-anak, rasa syukur keluarga sederhana, dan hangatnya kebersamaan yang hadir dari setiap potong daging kurban yang dibagikan.
Di balik ibadah kurban, ada nilai empati yang tumbuh. Kita diajak untuk tidak hidup hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga peduli terhadap keadaan sekitar. Sebab sejatinya, harta yang kita miliki juga memiliki hak untuk dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah (hewan kurban).”
(HR. Tirmidzi)
Hari ini, kurban bukan tentang siapa yang paling besar hewannya atau siapa yang paling banyak berkurban. Kurban adalah tentang ketulusan hati. Tentang niat untuk mendekat kepada Allah dan menghadirkan manfaat bagi sesama.
Mungkin bagi sebagian orang, berkurban adalah hal biasa. Namun bagi orang lain, daging kurban yang diterima setahun sekali bisa menjadi kebahagiaan yang sangat berarti. Dari situlah kita belajar bahwa kebahagiaan sejati hadir saat kita mampu berbagi.
Mari jadikan momentum Iduladha sebagai kesempatan untuk memperkuat iman, memperluas kepedulian, dan menebar manfaat. Karena kurban hari ini, bukan hanya tentang ibadah, tetapi tentang menghadirkan kebahagiaan untuk banyak hati.
ARTIKEL21/05/2026 | M Hilmi Zuhdi
Raihlah Ikhlas dan Takwa dari Ibadah Kurban
Menyembelih Kurban adalah suatu ibadah yang mulia dan bentuk pendekatan diri pada Allah. Bahkan, seringkali ibadah Kurban digandengkan dengan ibadah shalat, sesuai dengan firman Allah dalam Surah Al-Kautsar ayat 2:
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah.”
Firman Allah dalam Surah Al-An’am ayat 162 juga menegaskan:
“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, nusuk-ku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.”
Di antara tafsiran an-nusuk adalah sembelihan, menurut pendapat Ibnu ‘Abbas, Sa’id bin Jubair, Mujahid, dan Ibnu Qutaibah. Az Zajaj menyatakan bahwa makna an-nusuk adalah segala sesuatu yang mendekatkan diri pada Allah, namun umumnya digunakan untuk sembelihan.
Namun, yang perlu kita pahami adalah bahwa yang ingin dicapai dari ibadah kurban bukan hanya daging atau darahnya, tetapi keikhlasan dan ketakwaan. Firman Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 37 menyatakan:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”
Allah tidaklah butuh pada segala sesuatu, dan Dialah yang pantas diagungkan. Yang Allah harapkan dari qurban adalah keikhlasan, ihtisab (selalu mengharap-harap pahala dari-Nya), dan niat yang sholih. Oleh karena itu, Allah berfirman, “Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapai ridho-Nya”.
Inilah yang seharusnya menjadi motivasi ketika seseorang berqurban: ikhlas, bukan riya’ atau berbangga dengan harta yang dimiliki, dan bukan pula menjalankannya karena sudah menjadi rutinitas tahunan.
Dalam konteks ini, penting bagi umat Islam untuk merenungkan makna yang lebih dalam dari ibadah kurban. Sembelihan yang dilakukan bukanlah sekadar tindakan mekanis, tetapi ekspresi dari pengabdian dan kesadaran akan keikhlasan kepada Allah Ta’ala.
Bahkan, terkait dengan peribadatan dalam membelanjakan harta halal, memadukan praktik ber qurban dengan investasi yang sesuai syariah juga merupakan bentuk yang sangat bermakna dalam mencapai keberkahan finansial. Dengan memilih investasi yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, kita tidak hanya memastikan kepatuhan terhadap nilai-nilai Islam, tetapi juga mengelola keuangan dengan bijaksana dan bertanggung jawab.
Dengan demikian, sembelihan kurban bukan hanya tentang pengorbanan hewan semata, tetapi juga tentang pengorbanan hati yang ikhlas kepada Allah dan penuh dengan ketakwaan. Melalui ibadah kurban yang dilakukan dengan keikhlasan dan niat yang tulus, serta pengelolaan keuangan yang berdasarkan prinsip-prinsip syariah, kita dapat meraih berkah dan keberkahan dalam hidup kita serta mendekatkan diri pada ridha Allah
ARTIKEL08/04/2026 | M Hilmi Zuhdi
Bulan Rajab: Momentum Memperkuat Kepedulian dan Semangat Berbagi
Bulan Rajab merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Sebagai bagian dari asyhurul hurum, Rajab menjadi waktu yang tepat bagi umat Muslim untuk melakukan refleksi diri dan meningkatkan kualitas ibadah. Bulan ini kerap dimaknai sebagai awal persiapan spiritual sebelum memasuki bulan Ramadan, sehingga menjadi momentum untuk menata niat dan memperbaiki hubungan, baik dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia.
Keutamaan bulan Rajab tidak hanya berkaitan dengan ibadah ritual, tetapi juga dengan amal sosial. Salah satu bentuk amal yang sangat dianjurkan adalah sedekah. Dalam sebuah hadis disebutkan: “Barang siapa bersedekah di bulan Rajab, maka Allah SWT akan menjauhkannya dari api neraka sejauh jarak tempuh burung gagak yang terbang bebas dari sarangnya hingga mati karena tua.” Hadis ini menunjukkan besarnya keutamaan bersedekah di bulan Rajab dan menjadi pengingat bahwa kebaikan yang dilakukan di bulan mulia ini memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah SWT.
Sedekah tidak hanya berdampak pada pahala individu, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi kehidupan sosial. Melalui sedekah, umat Islam diajak untuk lebih peka terhadap kondisi masyarakat di sekitarnya, terutama mereka yang berada dalam keterbatasan ekonomi. Di tengah berbagai tantangan hidup, semangat berbagi menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan empati, solidaritas, dan rasa tanggung jawab sosial.
Bulan Rajab dapat dijadikan momentum untuk mulai membiasakan diri berbagi secara konsisten. Tidak perlu menunggu datangnya Ramadan untuk berbuat kebaikan, karena setiap waktu adalah kesempatan untuk menebar manfaat. Kebiasaan bersedekah yang dimulai sejak Rajab diharapkan dapat menjadi bekal spiritual sekaligus sosial dalam menjalani bulan-bulan berikutnya.
Dalam praktiknya, sedekah dan bentuk kepedulian sosial lainnya dapat disalurkan melalui berbagai cara. Salah satunya melalui lembaga pengelola zakat dan sedekah yang terpercaya, seperti BAZNAS, yang menjadi sarana bagi masyarakat untuk menyalurkan kebaikan secara terorganisir. Namun yang terpenting adalah kesadaran dan niat untuk berbagi, bukan semata pada wadah penyalurannya.
ARTIKEL21/12/2025 | Muzdalifah Arrobby
Peran LAZISMU UMJ dalam Penguatan Pemahaman Fikih Zakat untuk Meningkatkan Kualitas Pengelolaan Zakat Nasional
Penguatan pemahaman fikih zakat merupakan fondasi utama dalam membangun tata kelola zakat yang profesional, akuntabel, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar memiliki potensi zakat yang sangat besar. Namun, potensi tersebut belum tercapai optimal karena masih banyak masyarakat yang memahami zakat secara minimal, sebatas kewajiban ritual tahunan. Rendahnya literasi fikih zakat menyebabkan masyarakat kurang memahami siapa yang wajib membayar zakat, jenis harta apa yang wajib dizakati, serta bagaimana mekanisme pendistribusian yang tepat. Di sinilah peran lembaga amil zakat, termasuk LAZISMU di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), menjadi penting sebagai motor edukasi dan pengelolaan zakat nasional.
Pengelolaan zakat di LAZISMU UMJ mencerminkan implementasi tata kelola zakat yang mengintegrasikan nilai syariah, profesionalisme, dan akuntabilitas. Lembaga ini bukan hanya wadah penghimpunan dana zakat, tetapi juga bagian dari misi dakwah dan kepedulian sosial yang menjadi karakter Muhammadiyah. Sumber penghimpunan dana zakat berasal dari dosen, tenaga kependidikan (tendik), dan para peneliti yang memiliki tingkat literasi zakat relatif tinggi. Mereka secara konsisten membayarkan zakat profesi, sehingga menopang stabilitas keuangan lembaga zakat kampus ini.
Selain sumber internal UMJ, kontribusi zakat juga datang dari masyarakat luar, terutama dari rekanan dosen, kolega akademis, dan mitra penelitian yang mempercayakan pengelolaan zakat mereka kepada LAZISMU UMJ. Kepercayaan ini terbentuk karena transparansi dan profesionalisme lembaga dalam mengelola dana zakat sesuai ketentuan fikih. Hal ini menunjukkan bahwa reputasi akademik UMJ turut memberikan dampak positif terhadap peningkatan kepercayaan publik.
Dalam aspek operasional, LAZISMU UMJ dijalankan oleh amil zakat profesional yang memiliki kompetensi, integritas, dan pemahaman fikih zakat yang baik. Amil berhak menerima 12,5 persen dari dana zakat sesuai dengan ketentuan syariat. Hak amil ini merupakan bentuk penghargaan atas profesionalisme mereka dalam memastikan seluruh proses administrasi, penghimpunan, pendataan, hingga penyaluran zakat berjalan secara efektif. Prinsip tata kelola modern terlihat pada digitalisasi administrasi, pencatatan laporan keuangan, serta asesmen kebutuhan mustahiq yang dilakukan dengan pendekatan ilmiah.
Dalam pendistribusian zakat, LAZISMU UMJ mengembangkan berbagai program yang mencakup bantuan konsumtif, pemberdayaan ekonomi, dan dukungan pendidikan. Salah satu program unggulan adalah pemberian bantuan pendidikan bagi anak karyawan dan dosen UMJ yang menghadapi kendala biaya kuliah. Melalui bantuan ini, beban ekonomi keluarga menjadi lebih ringan, dan keberlanjutan pendidikan dapat terjamin. Selain membantu dari aspek finansial, program ini memperkuat rasa kebersamaan antara sivitas akademika dan lembaga.
Tidak hanya itu, LAZISMU UMJ juga memberikan bantuan pendidikan kepada mahasiswa dalam negeri dengan latar ekonomi lemah, khususnya dari wilayah yang belum berkembang. Zakat pendidikan ini menjadi instrumen mobilitas sosial yang memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk menempuh pendidikan tinggi dan memperbaiki kualitas hidup mereka. Dengan demikian, zakat berfungsi sebagai mekanisme pemerataan kesempatan di bidang pendidikan.
LAZISMU UMJ memperluas manfaat zakat kepada mahasiswa internasional yang sedang menempuh studi di UMJ seperti mahasiswa dari Kamboja, Thailand, dan Suriah. Sebagai bantuan tambahan biaya hidup mereka yang datang ke Indonesia untuk mencari kualitas pendidikan Islam yang lebih baik. Melalui bantuan zakat, mahasiswa internasional dapat menyelesaikan studi tanpa terbebani masalah biaya. Hal ini bukan hanya menunjukkan solidaritas kemanusiaan universal, tetapi juga memperkuat peran UMJ dalam diplomasi pendidikan dunia Islam. Keberadaan mahasiswa asing juga memberikan warna baru pada dinamika akademik di UMJ melalui interaksi multikultural yang memperkaya wawasan seluruh sivitas akademika.
Menurut Ketua LAZISMU UMJ Bapak Drs. Tajudin, M.A. menegaskan dalam wawancara yang saya lakukan bahwa selain fokus pada aspek pendidikan dan pemberdayaan sosial, LAZISMU UMJ juga menyalurkan sebagian dana zakat untuk mendukung sarana peribadatan, terutama masjid dan mushalla di lingkungan kampus maupun masyarakat sekitar. Dukungan ini diberikan karena masjid merupakan pusat aktivitas keagamaan, pendidikan spiritual, dan penguatan nilai-nilai sosial bagi umat Islam. Dalam konteks fikih, bantuan untuk masjid dapat disalurkan melalui mekanisme fi sabilillah, yaitu kelompok penerima zakat yang berkaitan dengan kepentingan kemaslahatan umat dan dakwah Islam.
Pendistribusian zakat untuk sarana peribadatan mencakup berbagai bentuk dukungan, mulai dari perbaikan fisik masjid, pengadaan perlengkapan ibadah, hingga peningkatan fasilitas yang menunjang kenyamanan jamaah, seperti renovasi tempat wudhu, sound system, karpet, dan sarana kebersihan. LAZISMU UMJ memastikan bahwa setiap bentuk bantuan tersebut diawali dengan asesmen kebutuhan sehingga penyalurannya benar-benar tepat sasaran dan memberikan manfaat langsung bagi jamaah.
Di lingkungan UMJ sendiri, masjid kampus memegang peran strategis sebagai ruang pembinaan spiritual bagi mahasiswa, dosen, tendik, serta masyarakat sekitar. Melalui dukungan zakat, kegiatan keagamaan seperti kajian rutin, pembinaan mahasiswa asing, pelatihan ibadah, hingga perayaan hari besar Islam dapat berjalan lebih optimal. Dengan demikian, zakat tidak hanya berfungsi mengurangi kemiskinan, tetapi juga memperkuat kehidupan beragama dan membangun suasana kampus yang religius dan berkarakter.
Kolaborasi LAZISMU dengan fakultas, pusat penelitian, dan organisasi kemahasiswaan semakin memperkuat efektivitas pengelolaan zakat. Pendekatan ilmiah digunakan untuk memastikan bahwa pendistribusian zakat tepat sasaran dan berbasis data. Sinergi ini membuat zakat tidak hanya menjadi mekanisme finansial, tetapi juga instrumen pembelajaran sosial bagi kampus. Melalui program pendampingan, pelatihan pengelolaan zakat profesi, hingga program pemberdayaan UMKM, LAZISMU UMJ membantu mustahiq agar dapat bertransformasi menjadi muzakki di masa depan. Pendekatan pemberdayaan ini memperjelas orientasi zakat dari sekadar bantuan langsung menjadi instrumen pembangunan sosial yang berkelanjutan.
Di sisi edukasi, LAZISMU UMJ berfungsi sebagai pusat literasi fikih zakat. Forum ilmiah, pelatihan, dan kegiatan akademik menjadi sarana bagi dosen, mahasiswa, dan masyarakat untuk mendalami zakat dalam perspektif hukum Islam maupun ekonomi kontemporer. Zakat profesi, zakat perusahaan, zakat perdagangan, dan berbagai isu kontemporer dibahas secara akademis sehingga masyarakat memiliki pemahaman yang relevan dengan kondisi modern. Dengan demikian, LAZISMU berperan sebagai penyambung antara teori fikih klasik dan problematika masyarakat Muslim saat ini.
Selain itu, LAZISMU UMJ mendorong penggunaan teknologi digital dalam penghimpunan dan pendistribusian zakat. Digitalisasi ini meningkatkan efisiensi, transparansi, dan kepercayaan publik. Sistem digital memudahkan proses pembayaran zakat, mengurangi kesalahan administratif, dan mempercepat penyaluran kepada penerima manfaat. Di era digital dan ekonomi modern, sistem ini menjadi keharusan bagi lembaga amil zakat untuk terus relevan dan dipercaya oleh masyarakat.
Di tengah tantangan ekonomi yang semakin kompleks, zakat memiliki posisi strategis dalam mengurangi kesenjangan sosial. Namun pengelolaan zakat harus dilakukan secara profesional dan didukung literasi zakat yang kuat. LAZISMU UMJ menunjukkan bahwa lembaga zakat berbasis kampus mampu menjadi model pengelolaan yang sangat baik: menggabungkan syariat, profesionalisme, riset, dan digitalisasi. Ketika masyarakat memahami zakat secara benar dan lembaga amil bekerja secara profesional, potensi zakat dapat dimaksimalkan untuk kesejahteraan umat.
Secara keseluruhan, peran LAZISMU UMJ dalam penguatan pemahaman fikih zakat bukan hanya relevan sebagai proyek akademik, tetapi menjadi kebutuhan nasional. Dengan mengintegrasikan nilai keagamaan, keilmuan, dan pemberdayaan sosial, LAZISMU UMJ memberikan contoh bagaimana zakat dapat menjadi instrumen pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan. Melalui edukasi, pendampingan, inovasi digital, dan distribusi zakat berbasis pemberdayaan, LAZISMU UMJ membuktikan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban ibadah, tetapi energi sosial yang mampu mendorong perubahan dalam skala lokal, nasional, hingga internasional.
Penulis Vera Marliana
Mahasiswa Program Studi Manajemen Zakat dan Wakaf
Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta
ARTIKEL11/12/2025 | Vera Marliana
Hari Pahlawan 10 November: Meneladani Semangat Juang dalam Kebaikan
Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada makna perjuangan. Hari Pahlawan bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi momentum untuk menumbuhkan kembali semangat pengorbanan di tengah kehidupan kita hari ini. Di masa kemerdekaan, pahlawan berjuang mengangkat senjata dan mempertaruhkan nyawa. Kini, perjuangan itu hadir dalam bentuk yang berbeda bukan lagi di medan perang, tetapi di tengah masyarakat, lewat kepedulian, kejujuran, dan rasa tanggung jawab sosial.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman;
"Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki." (QS. Ali Imran: 169)
Ayat ini mengingatkan bahwa perjuangan di jalan kebaikan tidak pernah sia-sia. Pengorbanan para pahlawan, baik di masa lalu maupun masa kini, selalu dicatat sebagai amal mulia di sisi Allah. Karena sejatinya, pahlawan bukan hanya mereka yang gugur di medan tempur, tetapi juga siapa pun yang mengabdikan diri untuk kemaslahatan umat.
Semangat kepahlawanan itu pula yang menjadi inspirasi bagi lembaga-lembaga sosial seperti BAZNAS. Dalam kesehariannya, perjuangan menyalurkan zakat, infak, dan sedekah bukan hanya soal administrasi bantuan, tapi tentang menegakkan nilai kemanusiaan dan menebar rahmat bagi sesama. Ada jiwa keikhlasan dan dedikasi yang sama dengan perjuangan para pahlawan hanya bentuknya yang kini berubah menjadi perjuangan melawan kemiskinan, ketimpangan, dan ketidakpedulian.
Hari Pahlawan seharusnya menjadi ruang refleksi bagi kita semua: sudahkah kita berbuat sesuatu untuk orang lain? Sudahkah semangat gotong royong itu hidup dalam keseharian kita? Sebab, dalam kehidupan modern yang serba sibuk, kadang kita lupa bahwa menjadi “pahlawan” tidak selalu berarti melakukan hal besar. Kadang cukup dengan membantu sesama, berbagi rezeki, atau bahkan menjaga kejujuran di pekerjaan semua itu adalah bentuk kecil dari perjuangan yang bermakna.
Generasi muda hari ini punya peran penting untuk melanjutkan semangat itu. Bukan dengan mengangkat senjata, tapi dengan ide, karya, dan empati. Dengan keterampilan dan semangat berbagi, mereka bisa menjadi agen perubahan yang membawa manfaat bagi banyak orang. Di sinilah semangat kepahlawanan menemukan wujud barunya: bukan perang fisik, melainkan perjuangan untuk memanusiakan manusia.
Hari Pahlawan bukan tentang masa lalu yang jauh, tetapi tentang keberanian yang masih bisa kita hidupkan hari ini. Semoga semangat mereka terus menyala dalam setiap langkah kebaikan, setiap niat tulus untuk berbagi, dan setiap upaya memperjuangkan kesejahteraan umat.
Karena pada akhirnya, setiap orang bisa menjadi pahlawan bagi keluarga, bagi lingkungan, dan bagi bangsanya.
ARTIKEL10/11/2025 | Mahmuddah Widya Damayanti
Menyalakan Semangat Sumpah Pemuda Lewat Kepedulian Sosial
Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda yaitu sebuah momen penting yang menjadi simbol persatuan dan tekad anak muda untuk membangun negeri. Pada tahun 1928, para pemuda dari berbagai daerah berikrar untuk bersatu dalam satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia. Ikrar itu bukan sekadar kalimat sejarah, tapi semangat yang terus hidup hingga kini.
Di masa sekarang, semangat Sumpah Pemuda bisa diwujudkan dalam banyak hal. Salah satunya lewat kepedulian sosial. Gotong royong dan saling membantu menjadi wujud nyata dari persatuan yang dulu diperjuangkan para pemuda. Ketika kita menolong sesama, berbagi rezeki, atau ikut dalam kegiatan sosial, sebenarnya kita sedang melanjutkan semangat yang sama, semangat untuk bersatu dan membawa manfaat bagi orang lain.
Kepedulian sosial juga menjadi nilai penting yang sejalan dengan peran BAZNAS dalam mengelola zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Melalui ZIS, masyarakat diajak untuk berbagi kepada yang membutuhkan dan memperkuat ikatan sosial di tengah perbedaan. Dengan cara ini, semangat persatuan yang dulu digaungkan para pemuda tidak hanya diingat, tapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata.
Generasi muda hari ini memiliki peran besar untuk menjaga semangat itu tetap hidup. Di tengah era digital dan perubahan zaman yang cepat, pemuda bisa menjadi agen kebaikan seperti menginspirasi orang lain untuk peduli, berbuat, dan berbagi. Satu langkah kecil dalam kebaikan bisa memberi dampak besar bagi banyak orang.
Peringatan Hari Sumpah Pemuda menjadi pengingat bahwa kekuatan bangsa lahir dari kebersamaan. Jika setiap individu mau bersatu dan peduli terhadap sesama, maka cita-cita Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera bukanlah hal yang jauh untuk dicapai. Mari kita terus menyalakan semangat Sumpah Pemuda dengan cara yang sederhana namun bermakna, lewat kepedulian dan kebaikan kepada sesama.
ARTIKEL30/10/2025 | Muzdalifah Arrobby
Peran Generasi Milenial dan Gen Z dalam Membangun Peradaban Zakat Digital
"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka." (Q.S At-Taubah: 103)
"Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul, supaya kamu diberi rahmat." (Q.S An-Nur: 56)
Zakat adalah salah satu rukun Islam yang memiliki peran penting dalam membangun kesejahteraan umat. Di era digital saat ini, zakat tidak lagi terbatas pada metode konvensional, melainkan telah berkembang menjadi zakat digital. Perubahan ini membuka peluang besar bagi generasi milenial dan Gen Z untuk berkontribusi dalam membangun peradaban zakat yang lebih modern, transparan, dan inklusif.
Peran Teknologi dalam Zakat Digital
1. Kemudahan Akses dan Pembayaran
Melalui aplikasi zakat online, website resmi BAZNAS, QRIS, dan dompet digital, pembayaran zakat dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Hal ini menghilangkan hambatan jarak dan waktu.
2. Transparansi dan Akuntabilitas
Teknologi memungkinkan pelaporan real-time, sehingga muzakki dapat memantau penyaluran zakat secara transparan. Laporan digital meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pengelola zakat.
3. Integrasi dengan Sistem Keuangan Syariah
Platform zakat digital kini terhubung dengan perbankan syariah dan e-wallet, sehingga mempermudah proses pembayaran sekaligus memastikan kepatuhan terhadap prinsip syariah.
4. Edukasi dan Sosialisasi Digital
Media sosial, podcast, dan konten kreatif menjadi sarana efektif untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya zakat dan cara membayarnya secara digital. Generasi milenial dan Gen Z berperan besar dalam menciptakan konten yang menarik dan informatif.
5. Inovasi Teknologi
Generasi muda dapat mengembangkan fitur-fitur baru seperti kalkulator zakat otomatis, pengingat pembayaran, hingga integrasi blockchain untuk keamanan data.
Inisiatif Digitalisasi oleh BAZNAS Kota Depok
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Depok mendorong peningkatan kapasitas, kapabilitas, dan kompetensi Organisasi Pengelola Zakat dalam pemanfaatan digitalisasi untuk zakat agar lebih optimal. Untuk itu, BAZNAS Kota Depok terus berupaya memberi kemudahan bagi masyarakat melalui Zakat Online BAZNAS.
Digitalisasi yang dilakukan BAZNAS Kota Depok kini melahirkan tiga produk digital yakni Aplikasi Dek Manis, Sizaki (Sistem Informasi Zakat Terintegrasi) dan Website Berbasis Crowdfunding) yang mana ketiga produk digital ini kami kerjasamakan bersama Kampus STT Terpadu Nurul Fikri. Selain ketiga produk digital tersebut BAZNAS Kota Depok juga mengembangkan potensi pengelolaan zakat melalui pemanfaatan media sosial, e-commerce dan media crowdfunding lainnya.
ARTIKEL20/10/2025 | Hamdan Fathurrahman
Zakat, Infak, dan Sedekah: Pilar Spiritual dan Sosial Menuju Depok yang Penuh Berkah
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan perkotaan yang serba cepat dan kompleks seperti di Kota Depok, nilai-nilai spiritual dan solidaritas sosial menjadi penyeimbang yang sangat dibutuhkan. Islam menawarkan tiga instrumen utama untuk membangun masyarakat yang berkeadilan dan penuh berkah: zakat, infak, dan sedekah. Ketiganya bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan fondasi etis dan praktis dalam membentuk tatanan sosial yang inklusif dan berdaya.
Zakat: Kewajiban Ilahiah yang Menyucikan dan Memberdayakan
"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. At-Taubah: 103)
Zakat merupakan rukun Islam ketiga, sebuah kewajiban yang tidak hanya bersifat spiritual tetapi juga sosial. Ia menjadi mekanisme distribusi kekayaan yang adil, dengan syarat nisab dan haul sebagai penentu kelayakan. Di Depok, peran BAZNAS sebagai lembaga pengelola zakat sangat krusial. Melalui pengelolaan yang amanah dan profesional, zakat tidak hanya membersihkan harta dari sifat tamak, tetapi juga menjadi instrumen strategis dalam mengentaskan kemiskinan dan memperkuat ekonomi umat.
Program-program seperti Depok Cerdas (pendidikan), Depok Sehat (kesehatan), dan Depok Taqwa (penguatan spiritual), Depok Peduli (bantuan bencana alam), dan Depok Sejahtera (kemandirian ekonomi masyarakat) adalah bukti nyata bahwa zakat mampu menjangkau berbagai aspek kehidupan mustahik. Zakat fitrah yang rutin ditunaikan menjelang Idul Fitri dan zakat mal kewajiban umat Muslim untuk mengeluarkan sebagian harta miliknya yang telah mencapai jumlah tertentu (nisab) dan telah dimiliki selama satu tahun (haul), yang tidak bertentangan dengan syariat, untuk diserahkan kepada orang yang berhak menerima, zakat juga menjadi sumber daya yang sangat potensial untuk pembangunan sosial yang berkelanjutan.
Infak: Kontribusi Sukarela yang Menghidupkan Solidaritas
Berbeda dengan zakat, infak tidak terikat oleh syarat nisab atau waktu tertentu. Ia adalah bentuk pemberian yang lahir dari keikhlasan, sebagai wujud kepedulian terhadap sesama. Di Kota Depok, infak menjadi motor penggerak berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan mulai dari bantuan bencana, pembangunan fasilitas ibadah, hingga dukungan terhadap kegiatan dakwah.
Ditegaskan dalam dalil Al-Qur’an juga perumpamaan orang yang berinfak:
“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui”.QS. Al-Baqarah: 261)
BAZNAS Depok menyediakan berbagai kanal untuk memudahkan masyarakat berinfak, baik secara digital maupun langsung. Infak adalah ruang terbuka bagi siapa saja yang ingin berkontribusi, tanpa batasan status ekonomi. Ia adalah ekspresi empati yang bisa dilakukan kapan saja, oleh siapa saja, untuk siapa saja.
Sedekah: Manifestasi Cinta yang Tak Terbatas
Sedekah adalah bentuk amal yang paling luas dan fleksibel. Ia tidak terbatas pada materi, tetapi mencakup segala bentuk kebaikan: tenaga, waktu, ilmu, bahkan sekadar senyuman. Rasulullah saw. bersabda, “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi), menegaskan bahwa setiap tindakan positif memiliki nilai spiritual.
Di era digital, sedekah menjadi semakin mudah diakses dan dilakukan. BAZNAS Depok mendorong masyarakat untuk menjadikan sedekah sebagai gaya hidup, karena setiap kebaikan yang dilakukan adalah investasi akhirat yang tak ternilai. Sedekah adalah cinta yang diwujudkan dalam tindakan nyata, yang mampu menyentuh hati dan mengubah kehidupan.
Mengapa Penting Memahami Perbedaannya?
Memahami perbedaan antara zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar soal hukum fikih, tetapi tentang membangun kesadaran sosial yang utuh. Zakat adalah kewajiban yang menyeimbangkan hak dan tanggung jawab. Infak adalah kontribusi sukarela yang memperkuat solidaritas. Sedekah adalah cinta yang menyebar dalam bentuk kebaikan tanpa batas.
Ketiganya saling melengkapi dan membentuk ekosistem sosial yang sehat dan berdaya. BAZNAS Kota Depok mengajak seluruh warga untuk menunaikan zakat sesuai ketentuan syariat, memperbanyak infak sebagai bentuk kepedulian, dan membiasakan sedekah sebagai ekspresi cinta kepada sesama.
Dengan semangat ini, mari kita bersama-sama membangun Kota Depok yang tidak hanya maju secara fisik, tetapi juga berkah secara spiritual, sejahtera secara sosial, dan diridhai oleh Allah Swt.
ARTIKEL08/10/2025 | Hamdan Fathurrahman
Memahami 8 Asnaf: Menyalurkan Zakat Secara Tepat dan Memberi Dampak Nyata
Zakat merupakan kewajiban dalam Islam yang memiliki dimensi spiritual dan sosial yang mendalam. Sebagai salah satu rukun Islam, zakat tidak hanya menjadi bentuk pengabdian kepada Allah SWT, tetapi juga berfungsi sebagai alat untuk menciptakan keadilan sosial dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Di tengah tantangan sosial ekonomi yang semakin kompleks, zakat memiliki potensi besar untuk menjadi solusi atas berbagai persoalan seperti kemiskinan, ketimpangan, dan keterbatasan akses terhadap pendidikan dan layanan dasar. Namun, agar manfaat zakat benar-benar dirasakan, penyalurannya harus dilakukan secara tepat dan sesuai dengan ketentuan syariat.
Allah SWT telah menetapkan delapan kelompok (asnaf) yang berhak menerima zakat, sebagaimana tercantum dalam Surah At-Taubah ayat 60:
"Sesungguhnya zakat itu hanya untuk orang-orang fakir, miskin, pengurus zakat, orang-orang yang dibujuk hatinya (muallaf), untuk memerdekakan budak, orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan orang yang sedang dalam perjalanan. Sebagai ketetapan dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. At-Taubah: 60)
Ayat ini menjadi pedoman utama dalam menentukan siapa saja yang berhak menerima zakat agar distribusinya benar-benar bermanfaat.
Delapan Golongan Penerima Zakat:
1. Fakir
Mereka yang nyaris tidak memiliki harta atau penghasilan, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar hidup. Zakat kepada fakir bertujuan untuk menyelamatkan mereka dari kondisi ekstrem kemiskinan.
2. Miskin
Kelompok yang memiliki penghasilan, namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok. Zakat kepada miskin membantu mereka mencapai taraf hidup yang lebih layak.
3. Amil
Petugas yang diberi tanggung jawab untuk mengelola zakat, mulai dari pengumpulan hingga pendistribusian. Di era modern, amil bisa berupa lembaga resmi seperti Baznas yang menjalankan tugasnya secara profesional.
4. Muallaf
Orang yang baru memeluk Islam atau yang diharapkan hatinya condong kepada Islam. Zakat kepada muallaf bertujuan memperkuat keimanan dan mendukung proses adaptasi mereka dalam komunitas Muslim.
5. Riqab
Secara tradisional berarti budak yang ingin merdeka. Dalam konteks saat ini, riqab bisa dimaknai sebagai individu yang terjebak dalam sistem penindasan atau eksploitasi, seperti korban perdagangan manusia.
6. Gharim
Orang yang memiliki utang untuk kebutuhan hidup yang halal dan tidak mampu melunasinya. Zakat kepada gharim membantu mereka keluar dari kesulitan finansial.
7. Fisabilillah
Mereka yang berjuang di jalan Allah, termasuk dalam kegiatan dakwah, pendidikan Islam, dan aksi sosial. Zakat kepada fisabilillah mendukung upaya menegakkan nilai-nilai Islam dan kemanusiaan.
8. Ibnu Sabil
Musafir yang kehabisan bekal dalam perjalanan. Meskipun berasal dari golongan mampu, mereka berhak menerima zakat dalam kondisi darurat saat bepergian.
Makna dan Hikmah Penetapan Asnaf
Penetapan delapan asnaf menunjukkan keluasan dan keadilan dalam sistem distribusi zakat. Zakat tidak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga sosial dan spiritual. Dengan cakupan yang luas, zakat mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat yang membutuhkan.
Distribusi zakat yang tepat juga mencegah konsentrasi kekayaan pada segelintir orang dan mendorong terciptanya keseimbangan sosial. Hal ini sejalan dengan tujuan syariat Islam dalam menjaga lima aspek utama kehidupan: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
Zakat sebagai Sarana Pemberdayaan
Zakat bukan sekadar bantuan, tetapi juga alat pemberdayaan. Ketika zakat disalurkan dalam bentuk modal usaha, pelatihan keterampilan, atau akses pendidikan, maka zakat berperan sebagai penggerak perubahan sosial. Mustahik yang diberdayakan berpotensi menjadi muzakki di masa depan, menciptakan siklus kebaikan yang berkelanjutan.
Lembaga zakat seperti Baznas memiliki peran penting dalam memastikan zakat dikelola secara amanah, profesional, dan transparan. Dengan dukungan teknologi dan data, penyaluran zakat dapat dilakukan secara lebih akurat dan berdampak luas.
Memahami delapan asnaf penerima zakat adalah kunci utama dalam memastikan zakat disalurkan secara benar dan memberi manfaat nyata. Zakat bukan hanya kewajiban ibadah, tetapi juga sarana untuk membangun masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.
Setiap muslim hendaknya menunaikan zakat dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab sosial. Dengan pengelolaan zakat yang baik, kita dapat mewujudkan kehidupan yang lebih harmonis, berkeadilan, dan penuh berkah.
ARTIKEL07/10/2025 | Hamdan Fathurrahman
Menyucikan Harta, Meringankan Jiwa: Hikmah Zakat Maal untuk Kesehatan Mental dan Spiritual Muzaki
Zakat Maal adalah salah satu pilar utama dalam Islam yang memiliki dimensi sosial, ekonomi, dan spiritual yang mendalam. Sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, zakat tidak hanya menjadi sarana untuk membersihkan harta, tetapi juga untuk mensucikan jiwa. Di era modern ini, kita menyadari bahwa menunaikan zakat memberikan dampak signifikan pada kesejahteraan sosial sekaligus kesehatan mental dan spiritual para muzaki (pemberi zakat). Dengan berzakat, seorang Muslim tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga membangun keharmonisan dalam diri dan masyarakat.
Kewajiban zakat telah ditegaskan dalam Al-Qur'an. Salah satu dalil utama yang menunjukkan hikmah penyucian jiwa melalui zakat adalah firman Allah SWT:
"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. At-Taubah: 103)
Ayat ini secara eksplisit menyebutkan bahwa zakat berfungsi untuk mensucikan dan membersihkan (tuthahhiruhum wa tuzakkihim) jiwa dan harta, serta mendatangkan ketenteraman jiwa (sakanun) bagi muzaki. Hal ini menunjukkan adanya keterkaitan langsung antara ibadah zakat dengan kondisi batin seseorang.
Hikmah Zakat Maal: Membangun Empati dan Keadilan
Zakat maal adalah madrasah spiritual yang mengajarkan nilai-nilai luhur, seperti keikhlasan, empati, dan kepedulian terhadap sesama. Melalui zakat, seorang muzaki menyadari bahwa harta yang dimilikinya hanyalah titipan dari Allah SWT.
1. Menghilangkan Ketamakan: Kesadaran ini secara alami menumbuhkan rasa syukur dan secara bertahap mengurangi sifat tamak atau kikir.
2. Menciptakan Keadilan Sosial: Zakat juga berperan penting sebagai mekanisme distribusi kekayaan yang adil, yang secara efektif mengurangi kesenjangan sosial.
3. Harmoni Sosial: Pada akhirnya, hikmah ini membentuk masyarakat yang lebih harmonis, saling mendukung, dan kuat (ukhuwah Islamiyah).
Manfaat Zakat untuk Kesehatan Mental dan Spiritual
Menunaikan zakat bukan sekadar transfer dana, melainkan sebuah terapi psikologis dan penguatan spiritual.
1. Ketenangan Batin dan Reduksi Stres (Mental)
Muzaki yang menunaikan zakat dengan ikhlas akan merasakan kelegaan dan ketenangan batin karena telah menunaikan kewajiban agama dan berpartisipasi dalam membantu sesama.
· Tindakan ini berfungsi mengurangi stres, kecemasan, dan rasa bersalah yang mungkin timbul akibat ketidakseimbangan dalam penggunaan harta atau keraguan atas kewajiban.
· Zakat menumbuhkan rasa damai dan bahagia karena harta telah disucikan dan memberikan manfaat nyata bagi yang membutuhkan.
2. Mendekatkan Diri kepada Allah (Spiritual)
Secara spiritual, zakat adalah jembatan yang mendekatkan seorang hamba kepada Rabb-nya.
· Zakat menjadi bekal untuk meraih ridha Allah SWT dan kebahagiaan akhirat.
· Dengan membersihkan harta dan jiwa dari sifat kikir, zakat memperkuat keimanan dan mempererat hubungan sosial (ukhuwah Islamiyah).
Zakat Maal adalah kewajiban finansial yang membawa manfaat universal, mencakup aspek mental dan spiritual, serta menciptakan keseimbangan hidup. Dengan menunaikan zakat, tidak hanya memastikan harta yang dikeluarkan suci dan berkah, tetapi juga berinvestasi pada ketenangan jiwa dan keberkahan harta.
ARTIKEL06/10/2025 | Hamdan Fathurrahman
Global Sumud Flotilla: Pelayaran Ketabahan Menembus Blokade Gaza
Global Sumud Flotilla adalah gerakan maritim sipil internasional yang bertujuan menembus blokade laut terhadap Gaza. Misi ini tidak hanya membawa bantuan kemanusiaan, tetapi juga menjadi simbol perlawanan damai terhadap ketidakadilan dan pelanggaran hak asasi manusia.
Kata Sumud berasal dari bahasa Arab yang berarti keteguhan atau ketahanan. Nama ini mencerminkan semangat para peserta flotilla yang berlayar menuju Gaza dengan keberanian luar biasa, meski menghadapi risiko besar. Keteguhan mereka menjadi cerminan nilai-nilai universal tentang keadilan dan solidaritas.
Selaras dalam dalam ayat Al-Qur’an tentang Ketabahan:
"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga serta bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung." (QS. Ali Imran: 200)
Armada ini membawa bantuan medis dan logistik penting bagi warga Gaza yang tengah mengalami krisis kemanusiaan. Lebih dari itu, misi ini adalah bentuk penolakan terhadap blokade yang dianggap melanggar hukum internasional. Dengan lebih dari 40 kapal dan 500 peserta dari 44 negara, ini menjadi konvoi sipil terbesar yang pernah mencoba menembus blokade tersebut.
Dipimpin oleh Freedom Flotilla Coalition, peserta berasal dari berbagai latar belakang: dokter, pengacara, aktivis, dan tokoh publik seperti Greta Thunberg dan mantan Walikota Barcelona, Ada Colau. Mereka memulai pelayaran dari pelabuhan-pelabuhan di Eropa seperti Barcelona dan Genoa, menuju Gaza melalui Laut Mediterania.
Pada 1 Oktober 2025, sebagian besar kapal dicegat oleh Angkatan Laut Israel di perairan internasional, sekitar 70 mil laut dari Gaza. Para aktivis ditahan dan dideportasi ke Israel. Namun, satu kapal bernama Mikeno berhasil mencapai perairan Palestina, menjadi simbol kecil dari keberhasilan dan keteguhan hati.
Dijelaskan juga dalam ayat Al-Qur’an tentang Membela yang Tertindas:
"Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah di antara laki-laki, wanita, dan anak-anak yang berdoa: 'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zalim...'" (QS. An-Nisa: 75)
Penahanan para aktivis memicu gelombang protes internasional dan memperkuat seruan untuk mengakhiri blokade Gaza. Global Sumud Flotilla bukan hanya pelayaran fisik, tetapi juga pelayaran moral yang menunjukkan bahwa solidaritas global masih hidup dan berani melawan ketidakadilan.
Kita harus menyuarakan penolakan terhadap tindakan intercept dan penculikan terhadap para pejuang kemanusiaan Global Sumud Flotilla. Ini bukan hanya soal Gaza, ini soal kemanusiaan. Indonesia tidak boleh tinggal diam. Dunia menunggu gema suara kita.
Inilah saatnya masyarakat sipil berdiri kokoh bersama Global Sumud Flotilla, menentang kezaliman yang menginjak martabat manusia. Kita bergerak bersama, menyuarakan solidaritas, menegakkan keadilan, dan menunjukkan bahwa suara nurani dunia belum padam
ARTIKEL03/10/2025 | Hamdan Fathurrahman

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Depok.
Lihat Daftar Rekening →