WhatsApp Icon
Bulan Rajab: Momentum Memperkuat Kepedulian dan Semangat Berbagi

Bulan Rajab merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Sebagai bagian dari asyhurul hurum, Rajab menjadi waktu yang tepat bagi umat Muslim untuk melakukan refleksi diri dan meningkatkan kualitas ibadah. Bulan ini kerap dimaknai sebagai awal persiapan spiritual sebelum memasuki bulan Ramadan, sehingga menjadi momentum untuk menata niat dan memperbaiki hubungan, baik dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia.

Keutamaan bulan Rajab tidak hanya berkaitan dengan ibadah ritual, tetapi juga dengan amal sosial. Salah satu bentuk amal yang sangat dianjurkan adalah sedekah. Dalam sebuah hadis disebutkan: “Barang siapa bersedekah di bulan Rajab, maka Allah SWT akan menjauhkannya dari api neraka sejauh jarak tempuh burung gagak yang terbang bebas dari sarangnya hingga mati karena tua.” Hadis ini menunjukkan besarnya keutamaan bersedekah di bulan Rajab dan menjadi pengingat bahwa kebaikan yang dilakukan di bulan mulia ini memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah SWT.

Sedekah tidak hanya berdampak pada pahala individu, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi kehidupan sosial. Melalui sedekah, umat Islam diajak untuk lebih peka terhadap kondisi masyarakat di sekitarnya, terutama mereka yang berada dalam keterbatasan ekonomi. Di tengah berbagai tantangan hidup, semangat berbagi menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan empati, solidaritas, dan rasa tanggung jawab sosial.

Bulan Rajab dapat dijadikan momentum untuk mulai membiasakan diri berbagi secara konsisten. Tidak perlu menunggu datangnya Ramadan untuk berbuat kebaikan, karena setiap waktu adalah kesempatan untuk menebar manfaat. Kebiasaan bersedekah yang dimulai sejak Rajab diharapkan dapat menjadi bekal spiritual sekaligus sosial dalam menjalani bulan-bulan berikutnya.

Dalam praktiknya, sedekah dan bentuk kepedulian sosial lainnya dapat disalurkan melalui berbagai cara. Salah satunya melalui lembaga pengelola zakat dan sedekah yang terpercaya, seperti BAZNAS, yang menjadi sarana bagi masyarakat untuk menyalurkan kebaikan secara terorganisir. Namun yang terpenting adalah kesadaran dan niat untuk berbagi, bukan semata pada wadah penyalurannya.

21/12/2025 | Kontributor: Muzdalifah Arrobby
Peran LAZISMU UMJ dalam Penguatan Pemahaman Fikih Zakat untuk Meningkatkan Kualitas Pengelolaan Zakat Nasional

Penguatan pemahaman fikih zakat merupakan fondasi utama dalam membangun tata kelola zakat yang profesional, akuntabel, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar memiliki potensi zakat yang sangat besar. Namun, potensi tersebut belum tercapai optimal karena masih banyak masyarakat yang memahami zakat secara minimal, sebatas kewajiban ritual tahunan. Rendahnya literasi fikih zakat menyebabkan masyarakat kurang memahami siapa yang wajib membayar zakat, jenis harta apa yang wajib dizakati, serta bagaimana mekanisme pendistribusian yang tepat. Di sinilah peran lembaga amil zakat, termasuk LAZISMU di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), menjadi penting sebagai motor edukasi dan pengelolaan zakat nasional.

Pengelolaan zakat di LAZISMU UMJ mencerminkan implementasi tata kelola zakat yang mengintegrasikan nilai syariah, profesionalisme, dan akuntabilitas. Lembaga ini bukan hanya wadah penghimpunan dana zakat, tetapi juga bagian dari misi dakwah dan kepedulian sosial yang menjadi karakter Muhammadiyah. Sumber penghimpunan dana zakat berasal dari dosen, tenaga kependidikan (tendik), dan para peneliti yang memiliki tingkat literasi zakat relatif tinggi. Mereka secara konsisten membayarkan zakat profesi, sehingga menopang stabilitas keuangan lembaga zakat kampus ini.

Selain sumber internal UMJ, kontribusi zakat juga datang dari masyarakat luar, terutama dari rekanan dosen, kolega akademis, dan mitra penelitian yang mempercayakan pengelolaan zakat mereka kepada LAZISMU UMJ. Kepercayaan ini terbentuk karena transparansi dan profesionalisme lembaga dalam mengelola dana zakat sesuai ketentuan fikih. Hal ini menunjukkan bahwa reputasi akademik UMJ turut memberikan dampak positif terhadap peningkatan kepercayaan publik.

 

Dalam aspek operasional, LAZISMU UMJ dijalankan oleh amil zakat profesional yang memiliki kompetensi, integritas, dan pemahaman fikih zakat yang baik. Amil berhak menerima 12,5 persen dari dana zakat sesuai dengan ketentuan syariat. Hak amil ini merupakan bentuk penghargaan atas profesionalisme mereka dalam memastikan seluruh proses administrasi, penghimpunan, pendataan, hingga penyaluran zakat berjalan secara efektif. Prinsip tata kelola modern terlihat pada digitalisasi administrasi, pencatatan laporan keuangan, serta asesmen kebutuhan mustahiq yang dilakukan dengan pendekatan ilmiah.

Dalam pendistribusian zakat, LAZISMU UMJ mengembangkan berbagai program yang mencakup bantuan konsumtif, pemberdayaan ekonomi, dan dukungan pendidikan. Salah satu program unggulan adalah pemberian bantuan pendidikan bagi anak karyawan dan dosen UMJ yang menghadapi kendala biaya kuliah. Melalui bantuan ini, beban ekonomi keluarga menjadi lebih ringan, dan keberlanjutan pendidikan dapat terjamin. Selain membantu dari aspek finansial, program ini memperkuat rasa kebersamaan antara sivitas akademika dan lembaga.

Tidak hanya itu, LAZISMU UMJ juga memberikan bantuan pendidikan kepada mahasiswa dalam negeri dengan latar ekonomi lemah, khususnya dari wilayah yang belum berkembang. Zakat pendidikan ini menjadi instrumen mobilitas sosial yang memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk menempuh pendidikan tinggi dan memperbaiki kualitas hidup mereka. Dengan demikian, zakat berfungsi sebagai mekanisme pemerataan kesempatan di bidang pendidikan.

LAZISMU UMJ memperluas manfaat zakat kepada mahasiswa internasional yang sedang menempuh studi di UMJ seperti mahasiswa dari Kamboja, Thailand, dan Suriah. Sebagai bantuan tambahan biaya hidup mereka yang datang ke Indonesia untuk mencari kualitas pendidikan Islam yang lebih baik. Melalui bantuan zakat, mahasiswa internasional dapat menyelesaikan studi tanpa terbebani masalah biaya. Hal ini bukan hanya menunjukkan solidaritas kemanusiaan universal, tetapi juga memperkuat peran UMJ dalam diplomasi pendidikan dunia Islam. Keberadaan mahasiswa asing juga memberikan warna baru pada dinamika akademik di UMJ melalui interaksi multikultural yang memperkaya wawasan seluruh sivitas akademika.

 

Menurut Ketua LAZISMU UMJ Bapak Drs. Tajudin, M.A. menegaskan dalam wawancara yang saya lakukan bahwa selain fokus pada aspek pendidikan dan pemberdayaan sosial, LAZISMU UMJ juga menyalurkan sebagian dana zakat untuk mendukung sarana peribadatan, terutama masjid dan mushalla di lingkungan kampus maupun masyarakat sekitar. Dukungan ini diberikan karena masjid merupakan pusat aktivitas keagamaan, pendidikan spiritual, dan penguatan nilai-nilai sosial bagi umat Islam. Dalam konteks fikih, bantuan untuk masjid dapat disalurkan melalui mekanisme fi sabilillah, yaitu kelompok penerima zakat yang berkaitan dengan kepentingan kemaslahatan umat dan dakwah Islam.

Pendistribusian zakat untuk sarana peribadatan mencakup berbagai bentuk dukungan, mulai dari perbaikan fisik masjid, pengadaan perlengkapan ibadah, hingga peningkatan fasilitas yang menunjang kenyamanan jamaah, seperti renovasi tempat wudhu, sound system, karpet, dan sarana kebersihan. LAZISMU UMJ memastikan bahwa setiap bentuk bantuan tersebut diawali dengan asesmen kebutuhan sehingga penyalurannya benar-benar tepat sasaran dan memberikan manfaat langsung bagi jamaah.

Di lingkungan UMJ sendiri, masjid kampus memegang peran strategis sebagai ruang pembinaan spiritual bagi mahasiswa, dosen, tendik, serta masyarakat sekitar. Melalui dukungan zakat, kegiatan keagamaan seperti kajian rutin, pembinaan mahasiswa asing, pelatihan ibadah, hingga perayaan hari besar Islam dapat berjalan lebih optimal. Dengan demikian, zakat tidak hanya berfungsi mengurangi kemiskinan, tetapi juga memperkuat kehidupan beragama dan membangun suasana kampus yang religius dan berkarakter.

Kolaborasi LAZISMU dengan fakultas, pusat penelitian, dan organisasi kemahasiswaan semakin memperkuat efektivitas pengelolaan zakat. Pendekatan ilmiah digunakan untuk memastikan bahwa pendistribusian zakat tepat sasaran dan berbasis data. Sinergi ini membuat zakat tidak hanya menjadi mekanisme finansial, tetapi juga instrumen pembelajaran sosial bagi kampus. Melalui program pendampingan, pelatihan pengelolaan zakat profesi, hingga program pemberdayaan UMKM, LAZISMU UMJ membantu mustahiq agar dapat bertransformasi menjadi muzakki di masa depan. Pendekatan pemberdayaan ini memperjelas orientasi zakat dari sekadar bantuan langsung menjadi instrumen pembangunan sosial yang berkelanjutan.

 

Di sisi edukasi, LAZISMU UMJ berfungsi sebagai pusat literasi fikih zakat. Forum ilmiah, pelatihan, dan kegiatan akademik menjadi sarana bagi dosen, mahasiswa, dan masyarakat untuk mendalami zakat dalam perspektif hukum Islam maupun ekonomi kontemporer. Zakat profesi, zakat perusahaan, zakat perdagangan, dan berbagai isu kontemporer dibahas secara akademis sehingga masyarakat memiliki pemahaman yang relevan dengan kondisi modern. Dengan demikian, LAZISMU berperan sebagai penyambung antara teori fikih klasik dan problematika masyarakat Muslim saat ini.

Selain itu, LAZISMU UMJ mendorong penggunaan teknologi digital dalam penghimpunan dan pendistribusian zakat. Digitalisasi ini meningkatkan efisiensi, transparansi, dan kepercayaan publik. Sistem digital memudahkan proses pembayaran zakat, mengurangi kesalahan administratif, dan mempercepat penyaluran kepada penerima manfaat. Di era digital dan ekonomi modern, sistem ini menjadi keharusan bagi lembaga amil zakat untuk terus relevan dan dipercaya oleh masyarakat.

Di tengah tantangan ekonomi yang semakin kompleks, zakat memiliki posisi strategis dalam mengurangi kesenjangan sosial. Namun pengelolaan zakat harus dilakukan secara profesional dan didukung literasi zakat yang kuat. LAZISMU UMJ menunjukkan bahwa lembaga zakat berbasis kampus mampu menjadi model pengelolaan yang sangat baik: menggabungkan syariat, profesionalisme, riset, dan digitalisasi. Ketika masyarakat memahami zakat secara benar dan lembaga amil bekerja secara profesional, potensi zakat dapat dimaksimalkan untuk kesejahteraan umat.

Secara keseluruhan, peran LAZISMU UMJ dalam penguatan pemahaman fikih zakat bukan hanya relevan sebagai proyek akademik, tetapi menjadi kebutuhan nasional. Dengan mengintegrasikan nilai keagamaan, keilmuan, dan pemberdayaan sosial, LAZISMU UMJ memberikan contoh bagaimana zakat dapat menjadi instrumen pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan. Melalui edukasi, pendampingan, inovasi digital, dan distribusi zakat berbasis pemberdayaan, LAZISMU UMJ membuktikan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban ibadah, tetapi energi sosial yang mampu mendorong perubahan dalam skala lokal, nasional, hingga internasional.

Penulis Vera Marliana

Mahasiswa Program Studi Manajemen Zakat dan Wakaf

Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta

11/12/2025 | Kontributor: Vera Marliana
Hari Pahlawan 10 November: Meneladani Semangat Juang dalam Kebaikan

Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada makna perjuangan. Hari Pahlawan bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi momentum untuk menumbuhkan kembali semangat pengorbanan di tengah kehidupan kita hari ini. Di masa kemerdekaan, pahlawan berjuang mengangkat senjata dan mempertaruhkan nyawa. Kini, perjuangan itu hadir dalam bentuk yang berbeda bukan lagi di medan perang, tetapi di tengah masyarakat, lewat kepedulian, kejujuran, dan rasa tanggung jawab sosial.

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman;

"Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki." (QS. Ali Imran: 169)

Ayat ini mengingatkan bahwa perjuangan di jalan kebaikan tidak pernah sia-sia. Pengorbanan para pahlawan, baik di masa lalu maupun masa kini, selalu dicatat sebagai amal mulia di sisi Allah. Karena sejatinya, pahlawan bukan hanya mereka yang gugur di medan tempur, tetapi juga siapa pun yang mengabdikan diri untuk kemaslahatan umat.

Semangat kepahlawanan itu pula yang menjadi inspirasi bagi lembaga-lembaga sosial seperti BAZNAS. Dalam kesehariannya, perjuangan menyalurkan zakat, infak, dan sedekah bukan hanya soal administrasi bantuan, tapi tentang menegakkan nilai kemanusiaan dan menebar rahmat bagi sesama. Ada jiwa keikhlasan dan dedikasi yang sama dengan perjuangan para pahlawan hanya bentuknya yang kini berubah menjadi perjuangan melawan kemiskinan, ketimpangan, dan ketidakpedulian.

Hari Pahlawan seharusnya menjadi ruang refleksi bagi kita semua: sudahkah kita berbuat sesuatu untuk orang lain? Sudahkah semangat gotong royong itu hidup dalam keseharian kita? Sebab, dalam kehidupan modern yang serba sibuk, kadang kita lupa bahwa menjadi “pahlawan” tidak selalu berarti melakukan hal besar. Kadang cukup dengan membantu sesama, berbagi rezeki, atau bahkan menjaga kejujuran di pekerjaan semua itu adalah bentuk kecil dari perjuangan yang bermakna.

Generasi muda hari ini punya peran penting untuk melanjutkan semangat itu. Bukan dengan mengangkat senjata, tapi dengan ide, karya, dan empati. Dengan keterampilan dan semangat berbagi, mereka bisa menjadi agen perubahan yang membawa manfaat bagi banyak orang. Di sinilah semangat kepahlawanan menemukan wujud barunya: bukan perang fisik, melainkan perjuangan untuk memanusiakan manusia.

Hari Pahlawan bukan tentang masa lalu yang jauh, tetapi tentang keberanian yang masih bisa kita hidupkan hari ini. Semoga semangat mereka terus menyala dalam setiap langkah kebaikan, setiap niat tulus untuk berbagi, dan setiap upaya memperjuangkan kesejahteraan umat.

Karena pada akhirnya, setiap orang bisa menjadi pahlawan bagi keluarga, bagi lingkungan, dan bagi bangsanya.

 

10/11/2025 | Kontributor: Mahmuddah Widya Damayanti
Menyalakan Semangat Sumpah Pemuda Lewat Kepedulian Sosial

Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda yaitu sebuah momen penting yang menjadi simbol persatuan dan tekad anak muda untuk membangun negeri. Pada tahun 1928, para pemuda dari berbagai daerah berikrar untuk bersatu dalam satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia. Ikrar itu bukan sekadar kalimat sejarah, tapi semangat yang terus hidup hingga kini.

Di masa sekarang, semangat Sumpah Pemuda bisa diwujudkan dalam banyak hal. Salah satunya lewat kepedulian sosial. Gotong royong dan saling membantu menjadi wujud nyata dari persatuan yang dulu diperjuangkan para pemuda. Ketika kita menolong sesama, berbagi rezeki, atau ikut dalam kegiatan sosial, sebenarnya kita sedang melanjutkan semangat yang sama, semangat untuk bersatu dan membawa manfaat bagi orang lain.

Kepedulian sosial juga menjadi nilai penting yang sejalan dengan peran BAZNAS dalam mengelola zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Melalui ZIS, masyarakat diajak untuk berbagi kepada yang membutuhkan dan memperkuat ikatan sosial di tengah perbedaan. Dengan cara ini, semangat persatuan yang dulu digaungkan para pemuda tidak hanya diingat, tapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata.

Generasi muda hari ini memiliki peran besar untuk menjaga semangat itu tetap hidup. Di tengah era digital dan perubahan zaman yang cepat, pemuda bisa menjadi agen kebaikan seperti menginspirasi orang lain untuk peduli, berbuat, dan berbagi. Satu langkah kecil dalam kebaikan bisa memberi dampak besar bagi banyak orang.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda menjadi pengingat bahwa kekuatan bangsa lahir dari kebersamaan. Jika setiap individu mau bersatu dan peduli terhadap sesama, maka cita-cita Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera bukanlah hal yang jauh untuk dicapai. Mari kita terus menyalakan semangat Sumpah Pemuda dengan cara yang sederhana namun bermakna, lewat kepedulian dan kebaikan kepada sesama.

30/10/2025 | Kontributor: Muzdalifah Arrobby
Peran Generasi Milenial dan Gen Z dalam Membangun Peradaban Zakat Digital

 

"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka." (Q.S At-Taubah: 103)

"Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul, supaya kamu diberi rahmat." (Q.S An-Nur: 56)

Zakat adalah salah satu rukun Islam yang memiliki peran penting dalam membangun kesejahteraan umat. Di era digital saat ini, zakat tidak lagi terbatas pada metode konvensional, melainkan telah berkembang menjadi zakat digital. Perubahan ini membuka peluang besar bagi generasi milenial dan Gen Z untuk berkontribusi dalam membangun peradaban zakat yang lebih modern, transparan, dan inklusif.

Peran Teknologi dalam Zakat Digital

1.   Kemudahan Akses dan Pembayaran

Melalui aplikasi zakat online, website resmi BAZNAS, QRIS, dan dompet digital, pembayaran zakat dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Hal ini menghilangkan hambatan jarak dan waktu.

2.   Transparansi dan Akuntabilitas

Teknologi memungkinkan pelaporan real-time, sehingga muzakki dapat memantau penyaluran zakat secara transparan. Laporan digital meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pengelola zakat.

3.   Integrasi dengan Sistem Keuangan Syariah

Platform zakat digital kini terhubung dengan perbankan syariah dan e-wallet, sehingga mempermudah proses pembayaran sekaligus memastikan kepatuhan terhadap prinsip syariah.

4.   Edukasi dan Sosialisasi Digital

Media sosial, podcast, dan konten kreatif menjadi sarana efektif untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya zakat dan cara membayarnya secara digital. Generasi milenial dan Gen Z berperan besar dalam menciptakan konten yang menarik dan informatif.

5.   Inovasi Teknologi

Generasi muda dapat mengembangkan fitur-fitur baru seperti kalkulator zakat otomatis, pengingat pembayaran, hingga integrasi blockchain untuk keamanan data.

Inisiatif Digitalisasi oleh BAZNAS Kota Depok

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Depok mendorong peningkatan kapasitas, kapabilitas, dan kompetensi Organisasi Pengelola Zakat dalam pemanfaatan digitalisasi untuk zakat agar lebih optimal. Untuk itu, BAZNAS Kota Depok terus berupaya memberi kemudahan bagi masyarakat melalui Zakat Online BAZNAS.

Digitalisasi yang dilakukan BAZNAS Kota Depok kini melahirkan tiga produk digital yakni Aplikasi Dek Manis, Sizaki (Sistem Informasi Zakat Terintegrasi) dan Website Berbasis Crowdfunding) yang mana ketiga produk digital ini kami kerjasamakan bersama Kampus STT Terpadu Nurul Fikri. Selain ketiga produk digital tersebut BAZNAS Kota Depok juga mengembangkan potensi pengelolaan zakat melalui pemanfaatan media sosial, e-commerce dan media crowdfunding lainnya.

20/10/2025 | Kontributor: Hamdan Fathurrahman

Artikel Terbaru

Momentum Kebaikan di Bulan Safar
Momentum Kebaikan di Bulan Safar
Bulan Safar adalah bulan kedua dalam kalender Hijriah. Bulan ini dinamai Safar karena pada bulan ini, orang-orang Arab dulunya sering melakukan perjalanan jauh (safar). Bulan ini sering kali dikaitkan dengan berbagai keyakinan dan tradisi yang berkembang dalam masyarakat, termasuk dalam tradisi Islam. Salah satu yang populer adanya pemahaman bahwa bulan ini mengandung kesialan. Sejarah awal Islam, zaman "jahiliyah" mengacu pada periode sebelum datangnya Islam di Arab. Pada masa tersebut, masyarakat Arab hidup dalam berbagai bentuk kepercayaan, khurafat, dan praktik-praktik yang tidak memiliki dasar yang kuat atau ilmiah. Ketika Islam datang, salah satu tujuannya adalah untuk membersihkan masyarakat dari praktik-praktik kebatilan dan membimbing mereka menuju kebenaran. Namun, dalam Islam, tidak ada bukti yang sahih dari hadits atau ajaran Nabi Muhammad shollallohu ‘alayhi wasallam yang menyatakan bahwa bulan Safar menyebabkan segala macam kesialan atau masalah. Islam menekankan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, baik kesialan maupun keberuntungan, adalah hasil dari kehendak Allah ta’ala. Oleh karena itu, tidak tepat untuk mengaitkan segala masalah yang mungkin terjadi dalam bulan Safar dengan bulan itu sendiri. Bahkan Rasulullah sendiri membantah bahwa bulan Safar bulan sial. Lewat riwayat Imam Bukhari, Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda; Artinya: “Tidak ada penyakit menular, tidak ada ramalan buruk, tidak ada kesialan karena burung hammah, tidak ada sial bulan Safar, dan larilah kamu dari penyakit kusta seperti kamu lari dari singa” (HR. Bukhari). Islam mendasarkan ajarannya pada tauhid (keyakinan kepada satu Tuhan yang Maha Esa) dan mengajarkan kebenaran serta akhlak yang baik. Islam menekankan pentingnya ilmu pengetahuan, pemahaman yang benar, dan akal sehat dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu, Islam mendorong umatnya untuk menjauhi khurafat, tahayul, dan kepercayaan tanpa dasar yang dapat menyesatkan. Termasuk kepercayaan bahwa bulan Safar adalah bulan yang sial. Perlu ditegaskan bahwa dalam Islam, kepercayaan pada kesialan atau keberuntungan tertentu yang terkait dengan bulan atau tanggal tertentu adalah bentuk syirik (mempersekutukan Allah) dan kepercayaan yang salah. Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu, termasuk keberuntungan dan kesialan, ditentukan oleh Allah ta’ala semata, bukan oleh bulan atau tanggal tertentu. Keyakinan seperti ini bertentangan dengan konsep tauhid (keyakinan akan keesaan Allah). Lebih lanjut, seperti bulan-bulan lainnya dalam Islam, bulan Safar juga memiliki amalan-amalan yang dianjurkan untuk dilakukan oleh umat Muslim. Diantara amalan yang dianjurkan di bulan Safar yaitu meningkatkan kebaikan dan kepedulian sosial. Bulan Safar dapat dijadikan momentum untuk meningkatkan amal kebajikan dan kepedulian sosial. Berbuat baik kepada sesama, bersedekah, dan memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan adalah amalan-amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Ini adalah cara yang baik untuk meningkatkan hubungan sosial dan memperbaiki kondisi masyarakat. Sebagaimana Sedekah, baik yang wajib yaitu zakat, maupun sedekah sunnah merupakan salah satu pilar ajaran Islam. Keutamaannya pun sangat banyak. Di antaranya adalah sedekah lebih ampuh digunakan sebagai ikhtiar tolak balak daripada sekadar do’a. Dalam hal ini, Abu Hurairah ra sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Rasulullah shollallohu ‘alayhi wasallam pun mantap memilih sedekah untuk tolak balak daripada sekadar do’a.
ARTIKEL04/08/2025 | Muhamad Alfian
Sedekah di Bulan Safar: Menolak Bala, Menjemput Berkah
Sedekah di Bulan Safar: Menolak Bala, Menjemput Berkah
Selama bertahun-tahun, sebagian masyarakat masih meyakini bahwa Bulan Safar adalah bulan sial atau penuh kesialan. Padahal, dalam Islam tidak ada bulan yang membawa kesialan. Semua waktu adalah ciptaan Allah SWT yang penuh dengan keberkahan, termasuk Bulan Safar. Justru, di saat masih ada keyakinan yang menyimpang ini, umat Islam perlu memperbanyak amal kebaikan, salah satunya dengan Sedekah di Bulan Safar. Sedekah di Bulan Safar adalah bentuk ikhtiar spiritual yang menguatkan iman dan memperbaiki akhlak. Sedekah bukanlah jimat atau penolak bala secara magis, melainkan wujud ketundukan kepada Allah dan bentuk kepedulian kepada sesama. Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa kesialan tidak berkaitan dengan waktu atau tempat, melainkan dari perbuatan manusia itu sendiri. Melalui Sedekah di Bulan Safar, seorang muslim memperkuat keyakinan bahwa hanya Allah yang mampu mendatangkan manfaat dan menolak mudarat. Dengan bersedekah, kita menyambung kasih sayang, menolong yang lemah, dan menghapus dosa-dosa kecil yang mungkin mengundang bala. Tradisi salah kaprah yang menyebut Bulan Safar sebagai bulan musibah perlu diluruskan dengan pendidikan dan penguatan iman. Umat Islam diajak untuk tidak terjebak pada mitos, melainkan menghidupkan bulan ini dengan ibadah, doa, dan Sedekah di Bulan Safar sebagai wujud nyata pengabdian kepada Allah. Karena itu, mari kita isi Bulan Safar dengan amalan-amalan positif yang dianjurkan Rasulullah SAW, dan tinggalkan anggapan negatif yang tidak berdasar. Salah satunya adalah membiasakan diri melakukan Sedekah di Bulan Safar, yang bukan hanya menolak bala, tetapi juga menjemput berkah hidup. Keutamaan Sedekah di Bulan Safar Menurut Islam Dalam Islam, sedekah memiliki banyak keutamaan. Ia bisa menjadi penolak bala, pembuka rezeki, penghapus dosa, dan pemberat amal di akhirat kelak. Maka dari itu, Sedekah di Bulan Safar menjadi amalan istimewa yang sangat dianjurkan sebagai bentuk kesadaran spiritual dan sosial seorang muslim. Pertama, Sedekah di Bulan Safar dapat menjadi sarana untuk menolak bala. Rasulullah SAW bersabda: “Bersegeralah bersedekah, karena musibah tidak pernah mendahului sedekah.” (HR. Thabrani). Hadis ini menunjukkan bahwa sedekah bisa menjadi benteng perlindungan, terutama di bulan yang masih banyak disalahpahami ini. Kedua, Sedekah di Bulan Safar menumbuhkan rasa syukur dan empati kepada sesama. Dalam kondisi apapun, berbagi dengan orang lain adalah tanda hati yang lapang. Justru ketika banyak orang takut akan bala, seorang muslim yang sedekah menunjukkan bahwa ia menyerahkan semua urusan kepada Allah SWT. Ketiga, Sedekah di Bulan Safar membuka pintu rezeki. Dalam hadis lain disebutkan bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta, bahkan akan diganti dengan yang lebih baik. Dengan bersedekah di bulan ini, seorang muslim memperkuat keyakinannya terhadap janji Allah tentang rezeki yang tak terduga. Keempat, Sedekah di Bulan Safar memperkuat solidaritas sosial. Banyak orang yang membutuhkan uluran tangan kita, entah dalam bentuk makanan, uang, atau perhatian. Bulan Safar menjadi momen tepat untuk mempererat ukhuwah dan saling menolong. Kelima, Sedekah di Bulan Safar juga menjadi sarana pembersih hati. Ketika seseorang memberikan hartanya di bulan yang masih diselimuti mitos ini, ia sedang melawan rasa takut yang tidak berdasar dan mengokohkan keimanan bahwa keberuntungan datang dari Allah, bukan dari waktu atau bulan tertentu. Amalan Sedekah yang Dianjurkan di Bulan Safar Ada banyak bentuk Sedekah di Bulan Safar yang bisa dilakukan oleh umat Islam. Tidak harus dengan nominal besar, yang terpenting adalah niat ikhlas dan konsistensi dalam berbagi. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa setiap kebaikan adalah sedekah. Pertama, Sedekah di Bulan Safar bisa dilakukan dengan memberikan makanan kepada fakir miskin, anak yatim, atau orang yang sedang kesulitan. Memberi makan adalah bentuk sedekah yang paling dicintai oleh Allah SWT. Kedua, Sedekah di Bulan Safar dapat berupa infak kepada lembaga zakat resmi seperti BAZNAS atau LAZ. Dana yang dihimpun akan disalurkan untuk keperluan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat yang membutuhkan. Ketiga, Sedekah di Bulan Safar juga bisa diwujudkan dalam bentuk tenaga dan waktu. Membantu tetangga, mengajarkan anak yatim, atau bahkan menyebarkan informasi yang bermanfaat adalah bentuk sedekah yang sangat mulia. Keempat, sedekah digital juga bisa dilakukan. Banyak platform donasi yang terpercaya membuka ruang bagi umat Islam untuk melakukan Sedekah di Bulan Safar secara online. Ini adalah kemudahan teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk kebaikan. Kelima, Sedekah di Bulan Safar bisa dijadikan program rutin keluarga. Orang tua bisa mengajak anak-anak untuk menabung sedekah, agar mereka tumbuh dengan semangat memberi dan tidak terjebak pada pemikiran negatif tentang bulan Safar. Membantah Mitos dan Meningkatkan Iman Lewat Sedekah di Bulan Safar Keyakinan bahwa Bulan Safar membawa kesialan merupakan warisan jahiliyah yang bertentangan dengan ajaran Islam. Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada penularan penyakit tanpa izin Allah, tidak ada thiyarah (takhayul sial), tidak ada burung hantu pembawa malapetaka, dan tidak ada Safar.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan memahami hadis tersebut, sudah selayaknya umat Islam menghapus mitos yang melekat pada Bulan Safar dan menggantinya dengan amal ibadah, terutama Sedekah di Bulan Safar. Sedekah adalah bentuk penyerahan total kepada Allah, bukan kepada waktu, angka, atau hari tertentu. Sedekah di Bulan Safar menjadi penanda bahwa seorang muslim lebih percaya pada kekuatan amal saleh daripada keyakinan buta pada mitos. Ini adalah jihad akal dan iman, yang membuktikan bahwa keimanan lebih kuat dari tradisi yang tidak berdasar. Selain itu, Sedekah di Bulan Safar dapat menjadi sarana dakwah yang efektif. Ketika kita bersedekah, orang lain akan ikut tersentuh dan termotivasi. Perlahan, pemahaman tentang bulan Safar pun akan berubah dari bulan yang ditakuti menjadi bulan yang penuh kebaikan. Ulama seperti Imam Ibnu Rajab dan Syaikh Shalih al-Munajjid juga menegaskan bahwa tidak ada keutamaan atau kesialan dalam Bulan Safar, melainkan semua tergantung pada amal perbuatan seseorang. Maka Sedekah di Bulan Safar menjadi tindakan nyata untuk menyambut keberkahan Allah di bulan ini. Jadikan Sedekah di Bulan Safar sebagai Gerakan Hati Tidak ada bulan yang sial dalam Islam. Yang ada adalah hati yang malas beramal dan pikiran yang dibutakan oleh mitos. Sedekah di Bulan Safar adalah salah satu cara paling baik untuk menolak bala dengan syariat, bukan dengan tahayul. Ini adalah ikhtiar nyata menuju kehidupan yang lebih tenang, penuh keberkahan, dan sarat kepedulian. Mari jadikan Sedekah di Bulan Safar sebagai kebiasaan baru di tengah keluarga dan lingkungan kita. Ajak orang terdekat untuk memahami makna sesungguhnya dari bulan Safar dan mengisinya dengan amal-amal mulia, bukan rasa takut. Allah SWT tidak melihat besar kecilnya nominal sedekah, tapi niat dan keikhlasan kita dalam memberi. Dengan bersedekah di bulan ini, kita tidak hanya memperkuat iman, tapi juga menjadi bagian dari solusi umat. Semoga Allah SWT menerima amal kebaikan kita, termasuk Sedekah di Bulan Safar ini, sebagai pemberat timbangan kebaikan dan pelindung dari segala musibah. Aamiin.
ARTIKEL31/07/2025 | M Hilmi Zuhdi
Arti Asyura: Makna Istilah dan Signifikansinya bagi Muslim
Arti Asyura: Makna Istilah dan Signifikansinya bagi Muslim
Arti Asyura merujuk pada hari ke-10 bulan Muharram, sebuah momen penting dalam Islam yang kaya akan makna spiritual dan sejarah. Hari ini diperingati dengan puasa sunnah sebagai wujud syukur atas keselamatan Nabi Musa AS dari kejaran Firaun, sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW. Arti Asyura tidak hanya terletak pada penamaan “kesepuluh” dalam bahasa Arab, tetapi juga pada nilai-nilai keimanan, kesabaran, dan tawakal yang terkandung di dalamnya. Artikel ini akan mengulas secara lengkap Arti Asyura, sejarahnya, serta cara umat Islam memperingatinya, dengan harapan dapat menginspirasi untuk mengamalkan ibadah di hari yang penuh keberkahan ini. Asal Usul dan Makna Istilah Asyura Arti Asyura secara harfiah adalah “kesepuluh,” berasal dari kata Arab ‘ashara yang berarti sepuluh. Dalam konteks Islam, istilah ini merujuk pada tanggal 10 Muharram, hari yang memiliki signifikansi besar karena peristiwa keselamatan Nabi Musa AS dan kaumnya dari Firaun. Arti Asyura juga mencerminkan nilai syukur yang mendalam. Ketika Nabi Musa AS diselamatkan dengan dibelahnya Laut Merah oleh Allah SWT, ia berpuasa sebagai ungkapan syukur. Rasulullah SAW mengikuti tradisi ini dan menganjurkan umatnya untuk berpuasa pada hari Asyura. Arti Asyura tidak hanya terbatas pada aspek linguistik, tetapi juga pada dimensi spiritual. Hari ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk selalu bersyukur atas nikmat Allah SWT, terutama nikmat keselamatan dan kemenangan atas kezaliman. Dalam tradisi Islam, Arti Asyura juga terkait dengan anjuran Rasulullah SAW untuk menambah puasa Tasua pada tanggal 9 Muharram. Hal ini dilakukan untuk membedakan tradisi umat Islam dengan kaum Yahudi, yang juga memperingati hari Asyura dengan berpuasa. Arti Asyura secara keseluruhan mengajarkan umat Islam tentang pentingnya menjaga keimanan dan keteguhan hati. Hari ini menjadi simbol bahwa Allah SWT selalu memberikan pertolongan kepada hamba-Nya yang sabar dan bertawakal. Signifikansi Hari Asyura dalam Islam Arti Asyura memiliki signifikansi besar karena kaitannya dengan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah para nabi. Selain keselamatan Nabi Musa AS, beberapa riwayat menyebutkan bahwa pada hari Asyura, Nabi Nuh AS selamat dari banjir besar, menjadikan hari ini penuh makna. Arti Asyura juga terletak pada keutamaan puasa yang dianjurkan Rasulullah SAW. Dalam hadis riwayat Muslim, puasa Asyura dapat menghapus dosa-dosa kecil selama setahun yang lalu, menjadikannya salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan. Arti Asyura dalam konteks spiritual mengajarkan umat Islam untuk merenungkan nikmat Allah SWT. Dengan berpuasa pada hari ini, seorang muslim diajak untuk menghargai keselamatan dan keberkahan yang diberikan Allah SWT dalam kehidupan. Arti Asyura juga mencakup dimensi sosial, di mana umat Islam dianjurkan untuk berbagi kebaikan, seperti menyediakan makanan berbuka atau bersedekah. Hal ini mencerminkan semangat ukhuwah islamiah yang diperkuat di hari Asyura. Arti Asyura sebagai hari penuh keberkahan juga menjadi pengingat untuk memulai tahun baru Islam dengan ibadah yang baik. Bulan Muharram sebagai salah satu bulan suci menjadi waktu yang tepat untuk memperbarui komitmen spiritual. Amalan yang Dapat Dilakukan pada Hari Asyura Arti Asyura menjadi lebih bermakna ketika diiringi dengan amalan-amalan yang dianjurkan, seperti puasa sunnah. Puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram, bersama dengan puasa Tasua pada tanggal 9 Muharram, adalah cara utama untuk memperingati hari ini. Arti Asyura juga terkait dengan doa yang dapat dipanjatkan di hari ini, terutama saat berbuka puasa. Doa seperti “Dzahaba adh-dhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaAllah” (artinya: Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insyaAllah) adalah doa berbuka puasa yang menjadi salah satu Amalan Hari Asyura yang dianjurkan. Membaca doa ini dengan penuh kekhusyukan dapat menambah keberkahan di hari yang istimewa ini. Arti Asyura juga mencakup amalan seperti memperbanyak zikir dan shalawat. Dengan mengisi hari Asyura dengan zikir, seperti “Subhanallah”, “Alhamdulillah”, dan “Allahu Akbar”, seorang muslim dapat menjaga hati tetap terhubung dengan Allah SWT dan memperoleh ketenangan batin. Selain itu, Arti Asyura dapat dihayati melalui sedekah, seperti berbagi makanan saat berbuka puasa atau memberikan bantuan kepada yang membutuhkan. Sedekah di hari Asyura mencerminkan semangat kebaikan dan solidaritas yang selaras dengan makna hari ini. Arti Asyura juga mengajak umat Islam untuk membaca Al-Qur’an, terutama surah-surah yang berkaitan dengan kisah para nabi, seperti Surah Taha. Membaca Al-Qur’an dengan penuh perenungan dapat memperdalam pemahaman tentang makna sejarah hari Asyura. Amalan lain yang terkait dengan Arti Asyura adalah menghadiri majelis ilmu atau pengajian yang membahas keutamaan hari Asyura. Kegiatan ini membantu umat Islam memahami signifikansi hari ini dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hikmah dari Arti Asyura bagi Kehidupan Muslim Arti Asyura mengandung hikmah tentang pentingnya bersyukur atas nikmat Allah SWT. Hari ini mengingatkan umat Islam untuk menghargai keselamatan, kesehatan, dan rezeki yang diberikan, sebagaimana Nabi Musa AS diselamatkan dari Firaun. Arti Asyura juga mengajarkan kesabaran dan tawakal dalam menghadapi cobaan hidup. Peristiwa keselamatan Nabi Musa AS menjadi bukti bahwa Allah SWT selalu memberikan jalan keluar bagi hamba-Nya yang bertakwa. Selain itu, Arti Asyura mengajak umat Islam untuk memperbaiki akhlak melalui puasa dan amalan lainnya. Dengan menahan hawa nafsu, seorang muslim melatih diri untuk menjadi lebih sabar, rendah hati, dan penuh kasih sayang. Arti Asyura juga menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi. Dengan berbagi kebaikan di hari Asyura, seperti mengadakan kegiatan keagamaan atau berbagi makanan, seorang muslim dapat menyebarkan nilai-nilai Islam yang penuh kasih sayang. Arti Asyura sebagai hari penuh keberkahan menginspirasi umat Islam untuk memulai tahun baru Islam dengan semangat ibadah. Dengan mengamalkan puasa dan doa di hari ini, seorang muslim dapat memperkuat komitmen untuk hidup sesuai ajaran Islam. Arti Asyura adalah lebih dari sekadar istilah yang berarti “kesepuluh”; ia adalah simbol syukur, keimanan, dan keteguhan hati yang menginspirasi umat Islam untuk beribadah dengan penuh keikhlasan. Dengan memahami dan mengamalkan Arti Asyura melalui puasa, doa, dan kebaikan sosial, seorang muslim dapat meraih keberkahan di dunia dan akhirat. Mari sambut hari Asyura dengan semangat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, meneladani perjuangan para nabi, dan memperkuat ukhuwah islamiah.
ARTIKEL14/07/2025 | M Hilmi Zuhdi
Sedekah Sebagai Gaya Hidup
Sedekah Sebagai Gaya Hidup
Sedekah bukan sekadar tindakan sporadis atau kegiatan sesekali, tetapi sebuah gaya hidup yang memberi dampak positif bagi diri sendiri dan orang lain di sekitar. Dalam Islam, sedekah dianggap sebagai salah satu ibadah yang sangat dianjurkan. Namun, sedekah tidak hanya terbatas pada memberikan harta atau benda, melainkan juga mencakup berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Menjadikan sedekah sebagai gaya hidup berarti mengubah cara kita memandang kekayaan dan memberikan prioritas pada kebaikan. Ini berarti tidak hanya memberikan sebagian dari harta kita kepada orang yang membutuhkan, tetapi juga meluangkan waktu, tenaga, dan kemampuan kita untuk membantu sesama. Sedekah sebagai gaya hidup memperkuat rasa empati dan kepedulian terhadap orang lain, serta membawa rasa kebahagiaan dan kepuasan yang mendalam. Sedekah sebagai gaya hidup juga melibatkan sikap rendah hati dan kesederhanaan dalam berbagi kebaikan. Kita tidak perlu menunggu memiliki kekayaan yang melimpah untuk dapat berbuat sedekah. Bahkan dengan sumber daya yang terbatas, kita masih bisa memberikan yang terbaik dari apa yang kita miliki. Setiap bentuk sedekah, baik besar maupun kecil, memiliki nilai yang sama di hadapan Allah SWT. Selain itu, sedekah sebagai gaya hidup juga membawa dampak positif bagi masyarakat secara keseluruhan. Ketika banyak orang mempraktikkan sedekah sebagai gaya hidup, akan tercipta lingkungan yang lebih harmonis dan saling mendukung. Orang-orang akan saling membantu satu sama lain dalam mengatasi kesulitan dan membagikan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari. Praktik sedekah sebagai gaya hidup juga membantu mengurangi kesenjangan sosial dan kemiskinan. Dengan berbagi kekayaan dan sumber daya kepada yang membutuhkan, kita dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Sedekah tidak hanya memberikan manfaat kepada penerima, tetapi juga kepada pemberi dalam bentuk pahala dan berkah yang diberikan oleh Allah SWT. Dengan demikian, sedekah sebagai gaya hidup adalah sebuah konsep yang sangat bermakna dalam Islam dan juga dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita mengubah pola pikir dan perilaku kita untuk selalu berbuat baik dan berbagi kepada sesama, kita dapat merasakan kebahagiaan yang mendalam dan membantu menciptakan dunia yang lebih baik untuk semua orang. Semoga kita semua dapat menjadikan sedekah sebagai gaya hidup yang terus menerus membawa berkah bagi diri sendiri dan orang lain di sekitar kita.
ARTIKEL14/07/2025 | M Hilmi Zuhdi
Zakat: Pilar Keuangan Islam Yang Membangun Solidaritas Sosial
Zakat: Pilar Keuangan Islam Yang Membangun Solidaritas Sosial
Pengertian Zakat Dalam Islam, zakat merupakan salah satu dari lima Rukun Islam, yang tidak hanya berperan sebagai ibadah spiritual tetapi juga sebagai alat untuk kesejahteraan sosial dan ekonomi. Zakat berasal dari kata Arab yang berarti “tumbuh” atau “bersih”. Secara esensial, zakat adalah bagian dari harta yang diwajibkan oleh Allah untuk diberikan kepada golongan tertentu dalam masyarakat, sebagai bentuk pembersihan harta dan jiwa. Pentingnya Zakat Zakat memiliki peran penting dalam pembangunan dan solidaritas sosial dalam masyarakat Islam. Melalui zakat, distribusi kekayaan diharapkan lebih merata, mengurangi kesenjangan sosial, dan membantu mereka yang membutuhkan. Zakat juga berfungsi sebagai alat pembersihan jiwa, mengingatkan umat Islam akan pentingnya berbagi, kesederhanaan, dan menghindari keserakahan. Jenis-jenis Zakat Ada dua jenis utama zakat dalam Islam: Zakat Fitrah dan Zakat Maal. Zakat Fitrah adalah zakat yang diberikan pada akhir bulan Ramadhan, sebelum hari raya Idul Fitri. Zakat ini wajib bagi setiap Muslim, tanpa memandang usia atau status ekonomi. Sementara itu, Zakat Maal adalah zakat yang diwajibkan atas harta tertentu yang telah memenuhi nisab (batas minimum) dan haul (periode kepemilikan). Penghitungan dan Distribusi Zakat Penghitungan zakat dilakukan berdasarkan nisab yang telah ditetapkan. Nisab biasanya dihitung dari nilai emas atau perak. Untuk Zakat Maal, harta yang dizakatkan meliputi uang tunai, emas, perak, saham, properti, hasil pertanian, ternak, dan lain-lain. Setiap jenis harta memiliki aturan penghitungan yang berbeda. Distribusi zakat harus sesuai dengan delapan asnaf (golongan penerima) yang disebutkan dalam Al-Qur’an: fakir, miskin, amil (pengelola zakat), muallaf (orang yang baru masuk Islam), riqab (budak yang ingin memerdekakan diri), gharim (orang yang berhutang), fisabilillah (di jalan Allah), dan ibnusabil (musafir yang kekurangan). Kesimpulan Zakat bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga alat pemberdayaan sosial dan ekonomi yang esensial dalam Islam. Dengan melaksanakan zakat, seorang Muslim tidak hanya mematuhi perintah agama tetapi juga berkontribusi secara aktif dalam mengurangi kemiskinan dan ketidakadilan sosial. Melalui zakat, umat Islam dapat membangun masyarakat yang lebih harmonis, adil, dan sejahtera.
ARTIKEL11/07/2025 | M Hilmi Zuhdi
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.

BAZNAS

Info Rekening Zakat