Artikel Terbaru
Jika Hari Memiliki Mahkota, Maka Jumat Adalah Rajanya
Jika Hari Memiliki Mahkota, Maka Jumat Adalah Rajanya
Di antara tujuh hari yang Allah SWT anugerahkan kepada manusia, ada satu hari yang memiliki kedudukan paling mulia. Seandainya setiap hari memiliki mahkota, maka Jumat adalah rajanya. Bukan tanpa alasan, karena Allah SWT menjadikan hari Jumat sebagai hari yang dipenuhi kemuliaan, keberkahan, serta berbagai keutamaan yang tidak dimiliki hari-hari lainnya. Bagi seorang Muslim, Jumat bukan sekadar penanda akhir pekan, melainkan kesempatan emas untuk memperbanyak amal saleh dan mendekatkan diri kepada Allah.
Keistimewaan hari Jumat ditegaskan langsung oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim:
"Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke surga, pada hari itu ia dikeluarkan dari surga, dan kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jumat."(HR. Muslim No. 854)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa Jumat bukanlah hari biasa. Ia menjadi saksi berbagai peristiwa besar dalam sejarah umat manusia dan akan menjadi hari terjadinya kiamat. Karena itu, Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap hari yang penuh kemuliaan ini.
Hari Penuh Berkah dan Ampunan
Allah SWT juga memberikan perhatian khusus terhadap hari Jumat dengan mewajibkan kaum laki-laki Muslim yang memenuhi syarat untuk melaksanakan salat Jumat. Perintah tersebut termaktub dalam firman-Nya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."(QS. Al-Jumu'ah [62]: 9)
Ayat ini mengajarkan bahwa urusan dunia hendaknya dikesampingkan sejenak ketika panggilan Allah berkumandang. Kesuksesan sejati bukan hanya diukur dari keberhasilan mencari rezeki, tetapi juga dari kesiapan memenuhi panggilan ibadah.
Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa hari Jumat menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil apabila seorang Muslim menjaganya dengan baik.
"Salat lima waktu, dari Jumat ke Jumat, dan dari Ramadan ke Ramadan menjadi penghapus dosa di antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi."(HR. Muslim No. 233)
Inilah bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Setiap pekan, Allah menghadirkan momentum untuk membersihkan hati dan memperbarui keimanan.
Waktu Mustajab untuk Berdoa
Salah satu keistimewaan hari Jumat adalah adanya waktu yang sangat mustajab untuk berdoa. Rasulullah SAW bersabda:
"Pada hari Jumat terdapat suatu waktu. Tidaklah seorang Muslim mendapatinya lalu ia berdoa kepada Allah meminta suatu kebaikan, melainkan Allah akan mengabulkannya."(HR. Al-Bukhari No. 935 dan Muslim No. 852)
Para ulama berbeda pendapat mengenai waktu tersebut. Sebagian berpendapat berada di antara duduknya imam hingga selesai salat Jumat, sementara pendapat lain—yang dipilih oleh banyak ulama seperti Ibnu Qayyim al-Jauziyyah—menyatakan bahwa waktu mustajab itu berada pada akhir hari Jumat, setelah salat Asar hingga menjelang Magrib. Perbedaan ini justru menjadi dorongan agar seorang Muslim memperbanyak doa sepanjang hari Jumat.
Memperbanyak Salawat dan Membaca Al-Kahfi
Hari Jumat juga menjadi waktu terbaik untuk memperbanyak salawat kepada Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW bersabda:
"Perbanyaklah bersalawat kepadaku pada hari Jumat dan malam Jumat."(HR. Abu Dawud No. 1047)
Selain itu, membaca Surah Al-Kahfi juga menjadi amalan yang sangat dianjurkan.
Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat, maka akan dipancarkan cahaya baginya di antara dua Jumat."(HR. Al-Hakim; dinilai sahih oleh banyak ulama)
Cahaya yang dimaksud dipahami para ulama sebagai cahaya petunjuk, keberkahan, dan perlindungan dari berbagai fitnah.
Jumat dan Semangat Berbagi
Hari Jumat juga identik dengan semangat berbagi. Sedekah yang dilakukan pada hari mulia ini menjadi salah satu bentuk rasa syukur atas nikmat Allah sekaligus sarana membantu sesama.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan:
"Sedekah pada hari Jumat dibandingkan hari-hari lainnya seperti sedekah pada bulan Ramadan dibandingkan bulan-bulan lainnya."
Walaupun kutipan ini merupakan penjelasan ulama, bukan hadis Nabi, maknanya menggambarkan bagaimana para ulama memandang besarnya keutamaan memperbanyak sedekah pada hari Jumat. Momentum ini menjadi pengingat bahwa keberkahan Jumat tidak hanya diwujudkan melalui ibadah personal, tetapi juga dengan menghadirkan manfaat bagi orang lain melalui zakat, infak, dan sedekah.
Jadikan Jumat Sebagai Awal Perubahan
Sering kali manusia menunggu datangnya tahun baru untuk berubah. Padahal Islam menghadirkan kesempatan memperbaiki diri setiap pekan melalui hari Jumat. Dari Jumat ke Jumat, seorang Muslim diajak mengevaluasi diri, memperbaiki hubungan dengan Allah, mempererat silaturahmi, memperbanyak amal, dan menumbuhkan kepedulian kepada sesama.
Sebagaimana dikatakan oleh Al-Hasan al-Bashri:
"Setiap hari yang mataharinya terbit adalah kesempatan baru untuk menambah amal sebelum datang hari ketika amal tidak lagi diterima."
Hari Jumat adalah puncak dari kesempatan itu.
Penutup
Jika hari memiliki mahkota, maka Jumat adalah rajanya. Ia datang setiap pekan membawa keberkahan, ampunan, dan kesempatan untuk mendekat kepada Allah SWT. Jangan biarkan hari yang mulia ini berlalu hanya dengan rutinitas biasa. Hiasi ia dengan salat Jumat, membaca Al-Qur'an, memperbanyak salawat, berdoa, berzikir, serta berbagi kepada mereka yang membutuhkan.
Semoga setiap Jumat yang kita jumpai menjadi penghapus dosa, pembuka pintu rezeki, penenang hati, dan penguat langkah menuju ridha Allah SWT.
ARTIKEL07/08/2026 | M Hilmi Zuhdi
Bayar Zakat untuk Mendukung Pendidikan dan Masa Depan Anak Dhuafa
Zakat tidak hanya menjadi ibadah yang menyucikan harta, tetapi juga menjadi instrumen pemberdayaan yang mampu menciptakan perubahan bagi masyarakat. Salah satu bentuk pemanfaatan zakat yang memberikan dampak jangka panjang adalah melalui sektor pendidikan, termasuk Program Beasiswa Cendekia BAZNAS.
Beasiswa Cendekia BAZNAS merupakan program pemberdayaan pendidikan yang diselenggarakan oleh BAZNAS untuk membantu mahasiswa dari keluarga kurang mampu agar dapat melanjutkan pendidikan tinggi. Selain memberikan bantuan biaya pendidikan, program ini juga membekali para penerima manfaat dengan pembinaan kepemimpinan, pengembangan kompetensi, penguatan karakter, serta pembinaan nilai-nilai keislaman sehingga mereka mampu menjadi generasi yang unggul, mandiri, dan berkontribusi bagi masyarakat.
Melalui zakat yang ditunaikan di BAZNAS, masyarakat turut berkontribusi membuka akses pendidikan bagi mahasiswa yang memiliki potensi akademik, tetapi menghadapi keterbatasan ekonomi. Dengan demikian, zakat tidak hanya menjadi bentuk kepedulian sosial, tetapi juga investasi jangka panjang dalam mencetak sumber daya manusia yang berkualitas.
Pendidikan sebaai jalan keluar dari kemiskinan
Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam memutus rantai kemiskinan. Akses terhadap pendidikan yang berkualitas dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan peluang kerja sehingga seseorang memiliki kesempatan yang lebih besar untuk meningkatkan taraf hidupnya.
Namun, masih banyak mahasiswa berprestasi yang menghadapi kendala ekonomi sehingga berisiko menghentikan pendidikannya. Kondisi ini dapat menghambat lahirnya generasi yang memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa.
Melalui Program Beasiswa Cendekia BAZNAS, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan sekaligus mengembangkan kemampuan kepemimpinan, karakter, dan kompetensi. Program ini diharapkan dapat mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
Peran zakat dalam beasiswa
Zakat memiliki peran penting dalam memperluas akses pendidikan bagi mustahik yang memenuhi ketentuan syariat. Dana zakat yang dikelola secara amanah, profesional, dan transparan dapat disalurkan melalui berbagai program pemberdayaan, termasuk Program Beasiswa Cendekia BAZNAS.
Melalui program ini, dana zakat dimanfaatkan untuk membantu mahasiswa menyelesaikan pendidikan tinggi sekaligus mengembangkan kapasitas diri melalui berbagai kegiatan pembinaan. Dengan dukungan tersebut, penerima manfaat diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidupnya dan pada akhirnya berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Bagi muzaki, menunaikan zakat melalui BAZNAS memberikan ketenangan karena dana zakat dikelola sesuai syariat dan disalurkan kepada program-program yang memberikan manfaat nyata bagi mustahik, termasuk di bidang pendidikan.
ARTIKEL06/08/2026 | M Hilmi Zuhdi
Zakat untuk Dhuafa di Bulan Safar yang Tepat Sasaran
Dalam ajaran Islam, zakat merupakan salah satu ibadah yang memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial. Melalui zakat, umat Islam tidak hanya membersihkan harta, tetapi juga membantu saudara-saudara yang membutuhkan agar dapat menjalani kehidupan dengan lebih layak. Salah satu kelompok yang sangat berhak menerima zakat adalah kaum dhuafa, yaitu mereka yang hidup dalam keterbatasan ekonomi dan kesulitan memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
Pembahasan mengenai zakat untuk dhuafa bulan safar menjadi penting karena masih ada anggapan di masyarakat bahwa Bulan Safar identik dengan kesialan atau waktu yang kurang baik untuk melakukan amal. Padahal, Islam tidak pernah mengajarkan keyakinan tersebut. Justru setiap waktu adalah kesempatan terbaik untuk memperbanyak ibadah, termasuk menyalurkan zakat untuk dhuafa bulan safar agar manfaatnya dapat dirasakan oleh mereka yang membutuhkan.
Melaksanakan zakat untuk dhuafa bulan safar merupakan bentuk kepedulian sosial yang sejalan dengan nilai-nilai Islam. Selama zakat telah memenuhi syarat dan ketentuan syariat, penyalurannya tidak dibatasi oleh bulan tertentu. Oleh karena itu, Bulan Safar dapat menjadi momentum yang tepat untuk meningkatkan kepedulian kepada sesama sekaligus mengharap ridha Allah SWT.
Keutamaan zakat untuk dhuafa bulan safar Menurut Islam
Islam mengajarkan bahwa setiap amal saleh memiliki nilai yang besar apabila dilakukan dengan ikhlas. Begitu pula dengan zakat untuk dhuafa bulan safar, yang pada hakikatnya merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan kepedulian kepada sesama manusia. Tidak ada larangan untuk menunaikan zakat pada Bulan Safar selama telah memenuhi syarat wajib zakat.
Melaksanakan zakat untuk dhuafa bulan safar juga menjadi sarana membersihkan harta sebagaimana tujuan utama zakat dalam Islam. Harta yang dizakati akan menjadi lebih berkah karena terdapat hak orang lain yang telah ditunaikan sesuai ketentuan syariat.
Selain itu, zakat untuk dhuafa bulan safar mampu mempererat ukhuwah Islamiyah. Ketika kaum dhuafa memperoleh bantuan yang layak, mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup dan merasakan perhatian dari saudara-saudara sesama Muslim.
Banyak ulama menjelaskan bahwa waktu terbaik untuk beramal adalah kapan saja kesempatan itu datang. Oleh sebab itu, zakat untuk dhuafa bulan safar tidak perlu ditunda hanya karena adanya mitos yang berkembang di masyarakat mengenai Bulan Safar.
Pada akhirnya, zakat untuk dhuafa bulan safar merupakan wujud nyata dari ajaran Islam yang mengedepankan kasih sayang, keadilan, dan pemerataan kesejahteraan di tengah kehidupan umat.
Mengapa Dhuafa Menjadi Prioritas dalam Penyaluran zakat untuk dhuafa bulan safar
Dalam Al-Qur'an, Allah SWT telah menjelaskan delapan golongan penerima zakat (asnaf), salah satunya adalah fakir dan miskin. Oleh karena itu, zakat untuk dhuafa bulan safar menjadi bagian dari pelaksanaan syariat yang tepat sasaran ketika diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.
Melalui zakat untuk dhuafa bulan safar, kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, biaya pendidikan, maupun layanan kesehatan dapat terbantu. Hal ini menunjukkan bahwa zakat memiliki dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Penyaluran zakat untuk dhuafa bulan safar juga dapat membantu mengurangi kesenjangan sosial. Ketika masyarakat yang memiliki kelebihan harta menunaikan kewajibannya, distribusi kekayaan menjadi lebih merata sesuai prinsip keadilan Islam.
Selain manfaat ekonomi, zakat untuk dhuafa bulan safar memberikan harapan baru bagi penerima manfaat. Mereka tidak hanya memperoleh bantuan materi, tetapi juga merasakan kepedulian dan perhatian dari umat Islam lainnya.
Karena itulah, zakat untuk dhuafa bulan safar hendaknya disalurkan melalui lembaga zakat terpercaya atau langsung kepada mustahik yang benar-benar memenuhi kriteria menurut syariat.
Cara Agar zakat untuk dhuafa bulan safar Tepat Sasaran
Salah satu langkah penting dalam menyalurkan zakat untuk dhuafa bulan safar adalah memastikan bahwa penerima termasuk golongan mustahik sesuai ketentuan syariat Islam. Dengan demikian, zakat benar-benar memberikan manfaat kepada pihak yang berhak.
Menyalurkan zakat untuk dhuafa bulan safar melalui lembaga amil zakat resmi dapat menjadi pilihan yang baik. Lembaga tersebut umumnya memiliki sistem pendataan, survei lapangan, serta mekanisme distribusi yang lebih terstruktur.
Selain melalui lembaga resmi, zakat untuk dhuafa bulan safar juga dapat diberikan secara langsung apabila pemberi zakat mengetahui kondisi penerima dengan pasti. Cara ini tetap diperbolehkan selama memenuhi aturan syariat.
Transparansi dalam penyaluran zakat untuk dhuafa bulan safar menjadi faktor penting agar kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan zakat semakin meningkat. Laporan distribusi yang jelas akan memberikan keyakinan bahwa zakat benar-benar dimanfaatkan secara optimal.
Dengan pengelolaan yang amanah, zakat untuk dhuafa bulan safar tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga menjadi solusi nyata dalam membantu meningkatkan taraf hidup kaum dhuafa secara berkelanjutan.
Hikmah Menunaikan zakat untuk dhuafa bulan safar
Salah satu hikmah terbesar dari zakat untuk dhuafa bulan safar adalah tumbuhnya rasa syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan. Seorang Muslim menyadari bahwa harta hanyalah titipan yang harus digunakan sesuai ketentuan syariat.
Selain itu, zakat untuk dhuafa bulan safar menjadi sarana memperkuat solidaritas sosial. Hubungan antara orang yang mampu dan mereka yang membutuhkan akan semakin harmonis ketika dilandasi rasa saling peduli.
Melalui zakat untuk dhuafa bulan safar, umat Islam juga belajar menghilangkan sifat kikir dan mencintai harta secara berlebihan. Islam mengajarkan bahwa keberkahan tidak hanya diukur dari jumlah harta, tetapi juga dari manfaat yang diberikan kepada orang lain.
Hikmah lainnya dari zakat untuk dhuafa bulan safar adalah meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Ketika zakat dikelola dengan baik, berbagai program pemberdayaan ekonomi dapat membantu mustahik menjadi lebih mandiri.
Pada akhirnya, zakat untuk dhuafa bulan safar merupakan salah satu bentuk ibadah yang menghadirkan manfaat dunia sekaligus pahala akhirat. Dengan niat yang ikhlas dan penyaluran yang tepat sasaran, zakat menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus menghadirkan kebahagiaan bagi sesama.
Menunaikan zakat untuk dhuafa bulan safar merupakan amalan yang sangat dianjurkan ketika kewajiban zakat telah terpenuhi. Islam tidak mengenal anggapan bahwa Bulan Safar adalah bulan yang membawa kesialan sehingga menghalangi seseorang untuk beribadah atau berbagi kepada sesama.
Sebaliknya, zakat untuk dhuafa bulan safar dapat menjadi momentum memperbanyak amal saleh, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta membantu masyarakat yang hidup dalam keterbatasan. Penyaluran zakat yang tepat sasaran akan memberikan manfaat besar bagi mustahik sekaligus menghadirkan keberkahan bagi muzaki.
Semoga semakin banyak umat Islam yang memahami pentingnya zakat untuk dhuafa bulan safar, sehingga semangat berbagi terus tumbuh sepanjang tahun tanpa dipengaruhi oleh mitos atau kepercayaan yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Dengan demikian, zakat benar-benar menjadi instrumen pemerataan kesejahteraan dan wujud nyata kepedulian sosial sesuai tuntunan syariat.
ARTIKEL03/08/2026 | M Hilmi Zuhdi
Satu Hari yang Mampu Mengubah Hidup: Rahasia Keutamaan Hari Jumat
Di antara tujuh hari yang Allah SWT ciptakan, ada satu hari yang memiliki kedudukan istimewa di sisi-Nya, yaitu Hari Jumat. Bagi seorang muslim, Jumat bukan sekadar penanda akhir pekan, melainkan momentum untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, serta membuka pintu keberkahan yang luas. Bahkan, Rasulullah ? menyebut hari ini sebagai penghulu segala hari (Sayyidul Ayyam).
Lalu, apa sebenarnya rahasia keutamaan Hari Jumat sehingga mampu mengubah hidup seseorang?
Hari Terbaik dalam Sepekan
Rasulullah ? bersabda:
"Sebaik-baik hari ketika matahari terbit adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, dimasukkan ke dalam surga, dan pada hari itu pula beliau dikeluarkan dari surga."
(HR. Muslim No. 854)
Hadis ini menunjukkan bahwa Hari Jumat memiliki sejarah besar dalam perjalanan umat manusia. Banyak peristiwa penting terjadi pada hari tersebut, sehingga Allah SWT memberikan kemuliaan yang tidak dimiliki hari lainnya.
Ada Waktu Mustajab untuk Berdoa
Salah satu keistimewaan Hari Jumat adalah adanya waktu di mana doa seorang hamba tidak akan ditolak selama ia memohon kepada Allah dengan penuh keikhlasan.
Rasulullah ? bersabda:
"Pada hari Jumat terdapat suatu waktu. Tidaklah seorang muslim mendapati waktu itu dalam keadaan sedang shalat lalu memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Allah akan mengabulkannya."
(HR. Bukhari No. 935 dan Muslim No. 852)
Para ulama berbeda pendapat mengenai waktu tersebut, namun banyak yang berpendapat bahwa ia berada pada saat-saat terakhir setelah salat Asar hingga menjelang Magrib. Karena itu, jangan biarkan Jumat berlalu tanpa memperbanyak doa untuk diri sendiri, keluarga, dan seluruh kaum muslimin.
Hari Penghapus Dosa
Hari Jumat juga menjadi kesempatan untuk membersihkan diri dari dosa-dosa kecil yang dilakukan selama sepekan.
Rasulullah ? bersabda:
"Salat lima waktu, dari Jumat ke Jumat, dan dari Ramadan ke Ramadan adalah penghapus dosa-dosa di antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi."
(HR. Muslim No. 233)
Betapa besar kasih sayang Allah SWT. Setiap pekan, Dia memberikan kesempatan kepada hamba-Nya untuk kembali dalam keadaan lebih bersih melalui ibadah yang dilakukan dengan penuh keimanan.
Perbanyak Shalawat kepada Nabi ?
Hari Jumat juga merupakan waktu terbaik untuk memperbanyak shalawat kepada Rasulullah ?.
Beliau bersabda:
"Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jumat dan malam Jumat."
(HR. Abu Dawud No. 1047, dinilai hasan oleh sejumlah ulama)
Shalawat bukan hanya bentuk cinta kepada Rasulullah ?, tetapi juga menjadi sebab turunnya rahmat, diangkatnya derajat, serta diampuninya dosa.
Membaca Surah Al-Kahfi
Amalan lain yang sangat dianjurkan adalah membaca Surah Al-Kahfi.
Rasulullah ? bersabda:
"Barang siapa membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat, maka akan dipancarkan cahaya baginya di antara dua Jumat."
(HR. Al-Hakim, dinilai sahih oleh banyak ulama)
Cahaya tersebut bukan hanya bermakna keberkahan, tetapi juga petunjuk yang menerangi langkah seorang mukmin dalam menjalani kehidupan.
Sedekah di Hari Jumat
Banyak ulama menjelaskan bahwa sedekah pada Hari Jumat memiliki keutamaan tersendiri karena dilakukan pada hari yang paling mulia. Sedekah bukan hanya membantu sesama, tetapi juga menjadi sebab datangnya keberkahan rezeki, perlindungan dari berbagai musibah, dan ketenangan hati.
Allah SWT berfirman:
"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir; pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan pahala bagi siapa yang Dia kehendaki."
(QS. Al-Baqarah: 261)
Jumat adalah saat yang tepat untuk mengubah kepedulian menjadi amal nyata. Membantu anak yatim, fakir miskin, dhuafa, pendidikan, dakwah, maupun program pemberdayaan ekonomi adalah investasi akhirat yang pahalanya terus mengalir.
Jadikan Jumat Sebagai Titik Awal Perubahan
Bayangkan jika setiap Hari Jumat kita berusaha:
Berangkat lebih awal untuk salat Jumat.
Membaca Surah Al-Kahfi.
Memperbanyak shalawat.
Memperbanyak istighfar dan doa.
Bersedekah dengan ikhlas.
Mempererat silaturahmi dan memaafkan sesama.
Bila dilakukan secara istiqamah setiap pekan, kebiasaan-kebiasaan baik tersebut akan membentuk pribadi yang lebih dekat kepada Allah SWT. Perubahan besar dalam hidup sering kali berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Mari Isi Hari Jumat dengan Amal Terbaik
Hari Jumat hadir setiap pekan sebagai hadiah dari Allah SWT. Jangan biarkan ia berlalu hanya dengan rutinitas biasa. Jadikan Jumat sebagai momentum memperbanyak ibadah, memperbaiki akhlak, memperkuat hubungan dengan Allah, dan menebar manfaat kepada sesama.
Salah satu amalan yang dapat dilakukan adalah menunaikan sedekah melalui BAZNAS Kota Depok. Melalui amanah yang dititipkan, sedekah Anda akan disalurkan kepada mereka yang membutuhkan melalui berbagai program pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dakwah, dan pemberdayaan ekonomi umat.
Semoga setiap Jumat menjadi hari yang mengubah hidup kita menjadi lebih baik, mendekatkan kepada ridha Allah SWT, serta menjadi bekal terbaik menuju kehidupan akhirat. Aamiin.
ARTIKEL31/07/2026 | M Hilmi Zuhdi
Sedekah Menjauhkan Bala: Ikhtiar Meraih Perlindungan Allah SWT
Dalam kehidupan, setiap manusia tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Musibah, penyakit, kesulitan ekonomi, maupun berbagai ujian hidup dapat datang kapan saja atas kehendak Allah SWT. Sebagai seorang muslim, selain berikhtiar dan berdoa, Islam juga mengajarkan amalan yang memiliki keutamaan besar dalam memohon perlindungan kepada Allah, yaitu sedekah.
Sedekah bukan sekadar memberikan sebagian harta kepada mereka yang membutuhkan. Lebih dari itu, sedekah merupakan bentuk keimanan, rasa syukur, serta kepedulian sosial yang memiliki banyak keutamaan, salah satunya menjadi sebab datangnya perlindungan Allah dari berbagai musibah.
Sedekah sebagai Penolak Bala
Rasulullah SAW bersabda:
"Bersegeralah bersedekah, karena bala tidak akan mampu mendahului sedekah." (HR. Al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman, dinilai hasan oleh sebagian ulama).
Hadis ini menjelaskan bahwa sedekah menjadi salah satu sebab datangnya pertolongan dan perlindungan Allah SWT. Maksudnya bukan berarti seseorang terbebas sepenuhnya dari setiap ujian, tetapi Allah dapat menghindarkan hamba-Nya dari musibah yang lebih besar, meringankan cobaan, atau memberikan jalan keluar yang tidak disangka-sangka.
Allah SWT juga berfirman:
"Dan apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang terbaik." (QS. Saba': 39)
Ayat ini menunjukkan bahwa harta yang dikeluarkan di jalan Allah tidak akan berkurang. Sebaliknya, Allah menjanjikan keberkahan, kecukupan, serta balasan yang lebih baik bagi orang-orang yang gemar bersedekah.
Hikmah Sedekah dalam Kehidupan
Sedekah membawa banyak manfaat, baik secara spiritual maupun sosial, di antaranya:
Mendatangkan keberkahan rezeki.
Menumbuhkan rasa syukur dan kepedulian terhadap sesama.
Membersihkan hati dari sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan.
Menjadi sebab terkabulnya doa dengan izin Allah.
Menjadi salah satu ikhtiar memohon perlindungan Allah dari berbagai musibah.
Dengan bersedekah secara rutin, seorang muslim tidak hanya membantu meringankan beban orang lain, tetapi juga sedang membangun benteng keberkahan dalam kehidupannya sendiri.
Doa Memohon Perlindungan dari Bala
Selain memperbanyak sedekah, umat Islam dianjurkan untuk senantiasa berdoa memohon perlindungan kepada Allah SWT.
Doa:
?????????? ?????? ??????? ???? ???? ?????? ??????????? ???????? ??????????? ??????? ??????????? ??????????? ????????????
Latin:
Allahumma inni a'udzu bika min jahdil bala', wa darakis syaqa', wa su'il qadha', wa syamatatil a'da'.
Artinya:
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari beratnya cobaan, kesengsaraan yang menyusahkan, ketetapan takdir yang buruk, dan kegembiraan musuh atas musibah yang menimpaku." (HR. Bukhari dan Muslim).
Jadikan Sedekah sebagai Kebiasaan
Sedekah tidak harus menunggu kaya. Berapa pun yang kita keluarkan dengan penuh keikhlasan akan bernilai besar di sisi Allah SWT. Sedekah yang dilakukan secara istiqamah akan menghadirkan keberkahan bagi diri sendiri, keluarga, serta masyarakat yang menerima manfaatnya.
Melalui lembaga yang amanah dan profesional, sedekah yang kita tunaikan dapat disalurkan kepada fakir miskin, yatim, dhuafa, pelaku UMKM, bantuan kesehatan, pendidikan, hingga program pemberdayaan masyarakat sehingga manfaatnya semakin luas dan tepat sasaran.
Salurkan Sedekah Terbaik Melalui BAZNAS Kota Depok
Mari jadikan sedekah sebagai ikhtiar meraih keberkahan dan memohon perlindungan Allah SWT. Percayakan sedekah Anda melalui BAZNAS Kota Depok, agar setiap rupiah yang dititipkan dapat disalurkan secara amanah, transparan, dan memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat yang membutuhkan di Kota Depok.
Bersama BAZNAS Kota Depok, sedekah Anda menjadi harapan bagi mereka yang membutuhkan sekaligus menjadi investasi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.
Yuk, salurkan sedekah terbaik Anda melalui BAZNAS Kota Depok.
???? Layanan Jemput ZIS: 0878-7600-1222
"Sedekah hari ini, semoga Allah limpahkan keberkahan, menjaga keluarga kita dari berbagai keburukan, serta menjadikan setiap harta yang kita miliki semakin bernilai di sisi-Nya."
ARTIKEL30/07/2026 | M Hilmi Zuhdi
Zakat sebagai Solusi Pengentasan Kemiskinan: Membangun Kesejahteraan Melalui Kepedulian
Kemiskinan masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan bangsa. Di tengah berbagai upaya pemerintah dan masyarakat, Islam telah menghadirkan sebuah instrumen ekonomi yang tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga memiliki dampak sosial yang nyata, yaitu zakat. Sebagai salah satu rukun Islam, zakat bukan sekadar kewajiban individu, melainkan sistem distribusi kekayaan yang bertujuan menciptakan keadilan sosial dan mengurangi kesenjangan ekonomi.
Zakat sebagai Instrumen Keadilan Sosial
Islam mengajarkan bahwa di dalam harta seseorang terdapat hak orang lain yang membutuhkan. Melalui zakat, sebagian harta dari mereka yang memiliki kemampuan ekonomi (muzaki) disalurkan kepada golongan yang berhak menerima (mustahik). Mekanisme ini menciptakan pemerataan ekonomi sekaligus memperkuat solidaritas sosial.
Allah SWT berfirman:
"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka..." (QS. At-Taubah: 103)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat memiliki fungsi ganda, yaitu menyucikan harta dan jiwa pemberinya sekaligus menjadi sarana meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Peran Zakat dalam Mengurangi Kemiskinan
Pengelolaan zakat yang profesional mampu memberikan dampak nyata dalam pengentasan kemiskinan. Dana zakat tidak hanya disalurkan dalam bentuk bantuan konsumtif, tetapi juga diarahkan pada program-program produktif yang meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat.
Beberapa bentuk pemanfaatan zakat antara lain:
Bantuan modal usaha bagi pelaku UMKM.
Pelatihan keterampilan dan pendampingan usaha.
Beasiswa pendidikan bagi siswa dan mahasiswa dari keluarga kurang mampu.
Bantuan kesehatan untuk masyarakat dhuafa.
Program ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi keluarga.
Bantuan kemanusiaan bagi masyarakat yang terdampak bencana.
Melalui pendekatan tersebut, zakat tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan jangka pendek, tetapi juga membuka peluang agar mustahik mampu meningkatkan taraf hidupnya hingga menjadi mandiri.
Dari Mustahik Menjadi Muzaki
Salah satu tujuan utama pengelolaan zakat adalah menciptakan transformasi sosial, yaitu mengubah penerima zakat menjadi pemberi zakat. Ketika mustahik memperoleh pendampingan, modal usaha, dan akses terhadap pendidikan, mereka memiliki kesempatan untuk meningkatkan pendapatan serta keluar dari lingkaran kemiskinan.
Inilah konsep pemberdayaan yang menjadi fokus berbagai program pengelolaan zakat modern. Keberhasilan zakat tidak hanya diukur dari besarnya dana yang disalurkan, tetapi juga dari meningkatnya kualitas hidup para penerima manfaat.
Pentingnya Menyalurkan Zakat Melalui Lembaga Resmi
Agar manfaat zakat semakin luas dan tepat sasaran, penyalurannya perlu dilakukan melalui lembaga resmi yang memiliki sistem pengelolaan yang transparan, profesional, dan akuntabel. Di Indonesia, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) merupakan lembaga pemerintah nonstruktural yang diberi kewenangan untuk menghimpun dan menyalurkan zakat sesuai dengan ketentuan syariat dan peraturan perundang-undangan.
Melalui pengelolaan yang terencana, zakat dapat disalurkan dalam bentuk program pendidikan, kesehatan, ekonomi, kemanusiaan, dan dakwah yang memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat.
Membangun Masa Depan yang Lebih Sejahtera
Zakat bukan sekadar bantuan sosial, melainkan investasi sosial yang mampu memperkuat perekonomian umat. Semakin banyak masyarakat yang menunaikan zakat melalui lembaga yang terpercaya, semakin besar pula manfaat yang dapat dirasakan oleh mereka yang membutuhkan.
Pengentasan kemiskinan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama. Dengan menunaikan zakat secara benar dan profesional, setiap muslim turut berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih adil, mandiri, dan sejahtera.
Mari jadikan zakat sebagai gerakan kepedulian bersama. Karena setiap rupiah yang ditunaikan bukan hanya menyempurnakan ibadah, tetapi juga menjadi harapan baru bagi mereka yang sedang berjuang keluar dari kemiskinan.
ARTIKEL28/07/2026 | M Hilmi Zuhdi
Jumat Istimewa, Saatnya Menguatkan Kepedulian Sosial
Depok – Hari Jumat memiliki kedudukan yang istimewa dalam Islam. Rasulullah ? menyebutnya sebagai penghulu segala hari (sayyidul ayyam), hari yang dipenuhi keberkahan, ampunan, serta berbagai kesempatan untuk memperbanyak amal saleh. Selain menjadi momentum meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah SWT, Hari Jumat juga menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat kepedulian sosial kepada sesama.
Di tengah berbagai tantangan kehidupan, masih banyak saudara-saudara kita yang membutuhkan uluran tangan. Ada anak yatim yang memerlukan biaya pendidikan, keluarga dhuafa yang berjuang memenuhi kebutuhan pokok, pelaku UMKM yang membutuhkan modal usaha, hingga masyarakat yang memerlukan bantuan kesehatan. Semua kondisi tersebut mengingatkan bahwa ibadah tidak hanya diwujudkan melalui hubungan dengan Allah SWT (hablum minallah), tetapi juga melalui kepedulian kepada sesama manusia (hablum minannas).
Allah SWT berfirman:
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa."(QS. Al-Ma'idah: 2)
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa semangat berbagi merupakan bagian dari ajaran Islam. Kepedulian sosial bukan hanya tentang memberikan bantuan, tetapi juga menghadirkan harapan, menguatkan persaudaraan, dan membangun masyarakat yang lebih sejahtera.
Hari Jumat, Momentum Memperbanyak Amal Kebaikan
Banyak umat Islam memanfaatkan Hari Jumat untuk memperbanyak amalan sunnah seperti membaca Surah Al-Kahfi, memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad ?, memperbanyak doa, serta bersedekah. Meskipun sedekah dianjurkan setiap hari, menjadikan Hari Jumat sebagai momentum untuk berbagi dapat menjadi pengingat rutin agar semangat kepedulian terus tumbuh.
Setiap rupiah yang disalurkan dengan niat ikhlas memiliki manfaat besar bagi penerima. Bantuan pendidikan dapat menjaga semangat belajar seorang anak, bantuan kesehatan dapat meringankan beban keluarga yang sedang sakit, sementara bantuan ekonomi mampu membantu masyarakat membangun kemandirian.
Zakat, Infak, dan Sedekah Menjadi Jalan Kepedulian
Islam mengajarkan bahwa harta yang dimiliki bukan semata-mata untuk dinikmati sendiri, melainkan terdapat hak orang lain di dalamnya. Zakat merupakan kewajiban bagi yang telah memenuhi syarat, sedangkan infak dan sedekah menjadi amalan sunnah yang sangat dianjurkan.
Melalui pengelolaan yang amanah dan profesional, dana zakat, infak, dan sedekah dapat disalurkan secara tepat sasaran kepada mereka yang benar-benar membutuhkan. Selain membantu memenuhi kebutuhan dasar mustahik, dana tersebut juga dapat dikembangkan menjadi program pemberdayaan sehingga penerima manfaat memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
Bersama BAZNAS Kota Depok, Tebarkan Manfaat Lebih Luas
Sebagai lembaga resmi pengelola zakat yang dibentuk pemerintah, BAZNAS Kota Depok terus berkomitmen menghadirkan berbagai program di bidang pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dakwah, dan pemberdayaan ekonomi. Setiap amanah yang dititipkan oleh para muzaki dikelola secara transparan dan disalurkan kepada masyarakat yang berhak menerima.
Menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Depok bukan hanya memudahkan proses berbagi, tetapi juga memastikan bahwa bantuan yang diberikan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat Kota Depok.
Mari jadikan Hari Jumat sebagai awal dari kebiasaan baik untuk berbagi. Tidak perlu menunggu memiliki harta yang berlimpah, karena sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas akan bernilai besar di sisi Allah SWT.
Jumat adalah hari yang istimewa. Saatnya memperkuat kepedulian sosial, menebarkan manfaat, dan menghadirkan harapan bagi sesama. Bersama BAZNAS Kota Depok, mari wujudkan keberkahan melalui zakat, infak, dan sedekah untuk membangun masyarakat yang lebih peduli, berdaya, dan sejahtera.
ARTIKEL17/07/2026 | M Hilmi Zuhdi
BAZNAS Depok: Jembatan Amanah antara Muzaki dan Mustahik
Dalam ajaran Islam, zakat bukan sekadar kewajiban yang harus ditunaikan, tetapi juga menjadi sarana untuk menghadirkan keadilan sosial dan mempererat ukhuwah di tengah masyarakat. Di balik setiap zakat yang ditunaikan oleh seorang muzaki, terdapat harapan baru bagi mustahik untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Di sinilah peran BAZNAS hadir sebagai jembatan amanah antara muzaki dan mustahik.
Menyatukan Kepedulian dan Kebutuhan
Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk menyalurkan zakat secara langsung kepada penerima manfaat yang tepat. Di sisi lain, masih banyak masyarakat yang membutuhkan bantuan namun belum terjangkau oleh para dermawan.
BAZNAS hadir untuk menjembatani kedua pihak tersebut. Amanah yang dititipkan oleh para muzaki dikelola secara profesional dan disalurkan kepada para mustahik sesuai dengan ketentuan syariat Islam sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an:
"Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil zakat, para mualaf, untuk memerdekakan hamba sahaya, orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan." (QS. At-Taubah: 60)
Ayat ini menegaskan bahwa zakat memiliki aturan dan sasaran yang jelas sehingga membutuhkan pengelolaan yang amanah dan bertanggung jawab.
Amanah dalam Mengelola, Profesional dalam Menyalurkan
Sebagai lembaga resmi yang dibentuk oleh pemerintah berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, BAZNAS menjalankan pengelolaan zakat dengan prinsip:
Amanah, menjaga kepercayaan yang diberikan oleh para muzaki.
Profesional, melalui sistem pengelolaan yang terukur dan terencana.
Transparan, dengan laporan dan pertanggungjawaban yang dapat diakses masyarakat.
Tepat Sasaran, memastikan bantuan diterima oleh mereka yang benar-benar membutuhkan.
Kepercayaan masyarakat merupakan modal utama dalam pengelolaan zakat. Oleh karena itu, setiap rupiah yang dititipkan tidak hanya dicatat dan diawasi, tetapi juga diupayakan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi umat.
Dari Bantuan Menjadi Pemberdayaan
Peran BAZNAS tidak berhenti pada penyaluran bantuan konsumtif semata. Lebih dari itu, zakat diarahkan menjadi instrumen pemberdayaan yang mampu mengubah kehidupan mustahik menjadi lebih mandiri.
Melalui berbagai program di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dakwah, dan kemanusiaan, mustahik didorong untuk bangkit dan meningkatkan kualitas hidupnya.
Harapannya, mustahik hari ini dapat menjadi muzaki di masa depan.
Inilah esensi zakat yang sesungguhnya: bukan hanya membantu seseorang bertahan hari ini, tetapi juga membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.
BAZNAS Kota Depok: Menghadirkan Manfaat untuk Masyarakat
Di Kota Depok, BAZNAS Kota Depok menjalankan amanah masyarakat melalui berbagai program unggulan seperti:
Depok Cerdas, mendukung pendidikan melalui beasiswa dan bantuan pendidikan.
Depok Sehat, membantu masyarakat memperoleh layanan kesehatan yang layak.
Depok Peduli, memberikan bantuan sosial dan kemanusiaan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Depok Taqwa, mendukung kegiatan dakwah dan syiar Islam.
Depok Sejahtera, memberdayakan pelaku usaha mikro melalui bantuan modal usaha dan pendampingan.
Melalui program-program tersebut, zakat tidak hanya menjadi ibadah individual, tetapi juga menjadi kekuatan kolektif untuk membangun kesejahteraan masyarakat.
Membangun Kepercayaan, Menebarkan Kebermanfaatan
Rasulullah ? bersabda:
"Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan kemuliaan berbagi dan pentingnya membantu sesama. Ketika muzaki mempercayakan zakatnya kepada BAZNAS, maka kepercayaan tersebut berubah menjadi pendidikan bagi anak-anak yang membutuhkan, layanan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu, modal usaha bagi pelaku UMKM, hingga bantuan kemanusiaan bagi mereka yang tertimpa musibah.
Setiap zakat yang ditunaikan membawa harapan baru bagi penerima manfaat dan menjadi investasi kebaikan yang pahalanya terus mengalir.
BAZNAS, Penghubung Kebaikan untuk Umat
BAZNAS bukan sekadar lembaga pengelola zakat, tetapi merupakan jembatan amanah yang menghubungkan kepedulian para muzaki dengan kebutuhan para mustahik.
Ketika zakat dikelola secara profesional dan disalurkan secara tepat sasaran, maka zakat tidak hanya membersihkan harta dan menyucikan jiwa, tetapi juga menjadi kekuatan untuk mengurangi kemiskinan, mempersempit kesenjangan sosial, dan menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.
Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Depok agar setiap amanah yang dititipkan dapat menjadi keberkahan bagi pemberi dan harapan bagi penerima.
BAZNAS: Jembatan Amanah antara Muzaki dan Mustahik.
ARTIKEL09/07/2026 | M Hilmi Zuhdi
Mengapa Menyalurkan Zakat Melalui BAZNAS Kota Depok Lebih Tepat? Pilihan Amanah untuk Zakat Depok yang Berdampak
Menunaikan zakat bukan sekadar menggugurkan kewajiban sebagai seorang muslim, tetapi juga menjadi wujud kepedulian terhadap sesama. Di tengah perkembangan teknologi dan semakin banyaknya pilihan lembaga penyalur zakat, penting bagi setiap muzaki untuk memastikan bahwa zakat yang ditunaikan dikelola secara amanah, profesional, transparan, dan tepat sasaran.
Bagi masyarakat Kota Depok, BAZNAS Kota Depok menjadi pilihan yang tepat untuk menyalurkan zakat, infak, dan sedekah. Sebagai lembaga resmi yang dibentuk pemerintah sesuai Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, BAZNAS Kota Depok berkomitmen menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan.
1. BAZNAS Kota Depok adalah Lembaga Resmi dan Terpercaya
Kepercayaan merupakan fondasi utama dalam pengelolaan zakat. BAZNAS Kota Depok mengelola dana zakat masyarakat berdasarkan prinsip syariat Islam dengan sistem yang profesional, transparan, dan akuntabel.
Setiap dana yang dititipkan oleh para muzaki tidak hanya dicatat dan dilaporkan secara berkala, tetapi juga disalurkan kepada penerima manfaat sesuai dengan ketentuan syariat.
Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil zakat, para mualaf, untuk memerdekakan hamba sahaya, orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan..." (QS. At-Taubah: 60)
Ayat tersebut menjadi pedoman bahwa zakat harus dikelola secara tepat agar benar-benar sampai kepada delapan golongan penerima (asnaf).
2. Zakat Anda Tepat Sasaran dan Memberikan Dampak Nyata
Ketika Anda menunaikan zakat Depok melalui BAZNAS Kota Depok, zakat yang diberikan akan disalurkan melalui proses pendataan dan verifikasi yang cermat sehingga bantuan diterima oleh masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Lebih dari sekadar bantuan konsumtif, zakat juga diwujudkan dalam program pemberdayaan yang membantu mustahik meningkatkan kualitas hidupnya hingga mampu mandiri secara ekonomi.
Inilah makna zakat yang sesungguhnya: menghadirkan harapan, mengurangi kesenjangan, dan membangun kesejahteraan bersama.
3. Mendukung Lima Program Unggulan BAZNAS Kota Depok
Dana zakat yang Anda tunaikan akan memberikan manfaat melalui berbagai program unggulan, antara lain:
Depok Cerdas, mendukung pendidikan melalui beasiswa dan bantuan perlengkapan sekolah.
Depok Sehat, membantu masyarakat memperoleh layanan kesehatan yang layak.
Depok Peduli, memberikan bantuan kemanusiaan bagi korban bencana, keluarga prasejahtera, dan masyarakat yang membutuhkan.
Depok Taqwa, memperkuat syiar Islam serta mendukung kegiatan dakwah dan keagamaan.
Depok Sejahtera, memberdayakan pelaku usaha mikro melalui bantuan modal usaha, pelatihan, dan pendampingan.
Dengan demikian, zakat yang Anda tunaikan tidak hanya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga menjadi investasi sosial yang membawa perubahan jangka panjang.
4. Bayar Zakat Online Lebih Mudah, Aman, dan Praktis
Kini menunaikan zakat tidak lagi terbatas oleh waktu maupun tempat. Melalui layanan bayar zakat online, masyarakat dapat menunaikan zakat kapan saja dengan proses yang cepat, aman, dan nyaman.
Kemudahan ini menjadi bentuk komitmen BAZNAS Kota Depok dalam menghadirkan layanan zakat yang modern tanpa mengurangi nilai ibadah dan amanah dalam pengelolaannya.
Dengan beberapa langkah sederhana, zakat Anda dapat segera diterima dan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.
5. Setiap Zakat Menjadi Ikhtiar Membangun Kota Depok yang Lebih Berdaya
Rasulullah ? bersabda:
"Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa memberi adalah kemuliaan. Ketika masyarakat mempercayakan zakatnya kepada BAZNAS Kota Depok, manfaatnya akan dirasakan lebih luas karena dikelola secara kolektif untuk menjawab berbagai persoalan sosial, ekonomi, pendidikan, dan kemanusiaan di Kota Depok.
Semakin banyak masyarakat yang menunaikan zakat melalui BAZNAS Kota Depok, semakin besar pula dampak yang dapat diwujudkan bagi kesejahteraan umat.
Tunaikan Zakat Anda Bersama BAZNAS Kota Depok
Zakat adalah ibadah yang membersihkan harta sekaligus menyucikan jiwa. Allah SWT berfirman:
"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka." (QS. At-Taubah: 103)
Jangan tunda kebaikan. Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Depok agar setiap rupiah yang Anda amanahkan menjadi jalan keberkahan, membantu sesama, dan menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat.
BAZNAS Kota Depok mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan zakat sebagai gaya hidup kepedulian. Bersama, kita dapat membangun Kota Depok yang lebih sejahtera, berdaya, dan penuh keberkahan.
ARTIKEL08/07/2026 | M Hilmi Zuhdi
Menebar Kebaikan di Hari Jumat: BAZNAS Kota Depok, Jembatan Amanah untuk Berbagi
Hari Jumat merupakan hari yang istimewa dalam Islam. Selain menjadi hari terbaik dalam sepekan, Jumat juga menjadi momentum bagi setiap muslim untuk memperbanyak amal saleh, memperkuat ibadah, dan menebarkan kebaikan kepada sesama. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah bersedekah, karena setiap harta yang dikeluarkan di jalan Allah akan menjadi investasi pahala yang terus mengalir dan membawa keberkahan bagi kehidupan.
Allah SWT berfirman:
"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir; pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 261)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa setiap rupiah yang diinfakkan dengan ikhlas tidak akan pernah berkurang nilainya di sisi Allah. Sebaliknya, Allah menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi hamba-Nya yang gemar berbagi.
Keutamaan sedekah pada hari Jumat juga dijelaskan oleh ulama besar, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, yang mengatakan:
"Sedekah pada hari Jumat dibandingkan dengan hari-hari lainnya seperti sedekah pada bulan Ramadan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya."
Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa hari Jumat merupakan waktu yang sangat istimewa untuk memperbanyak amal kebaikan, terutama dengan membantu mereka yang membutuhkan.
Namun, agar sedekah benar-benar memberikan manfaat yang luas dan tepat sasaran, diperlukan lembaga yang amanah, profesional, dan terpercaya dalam mengelolanya. Di sinilah BAZNAS Kota Depok hadir sebagai jembatan kebaikan antara para muzaki dengan masyarakat yang membutuhkan.
Sebagai lembaga resmi yang dibentuk pemerintah sesuai amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, BAZNAS Kota Depok mengelola dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) secara transparan, akuntabel, dan profesional. Dana yang dihimpun disalurkan kepada mustahik melalui berbagai program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Penyaluran tersebut diwujudkan melalui lima pilar program, yaitu Depok Sehat, Depok Cerdas, Depok Peduli, Depok Makmur, dan Depok Taqwa. Melalui program-program tersebut, BAZNAS Kota Depok membantu masyarakat dalam bidang kesehatan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, bantuan kemanusiaan, hingga penguatan nilai-nilai keagamaan. Dengan demikian, setiap zakat, infak, dan sedekah yang ditunaikan menjadi bagian dari upaya membangun kesejahteraan umat secara berkelanjutan.
Hari Jumat menjadi momentum terbaik untuk menguatkan kepedulian sosial. Ketika seseorang berbagi, bukan hanya penerima yang merasakan manfaatnya, tetapi juga pemberi yang memperoleh ketenangan hati, keberkahan rezeki, serta pahala yang terus mengalir. Semangat berbagi inilah yang menjadi fondasi terciptanya masyarakat yang saling peduli dan saling menguatkan.
Mari jadikan setiap Jumat sebagai langkah nyata untuk menebarkan kebaikan. Salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Depok agar setiap amanah yang dititipkan dapat dikelola secara profesional dan disalurkan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan. Bersama BAZNAS Kota Depok, setiap kebaikan yang kita berikan akan menjadi harapan bagi sesama, menghadirkan senyum bagi yang membutuhkan, serta menjadi jalan menuju keberkahan dunia dan akhirat.
"Berbagi bukanlah tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa besar kepedulian yang kita tanamkan. Melalui BAZNAS Kota Depok, setiap kebaikan menjadi lebih bermakna, tepat sasaran, dan membawa manfaat bagi umat."
ARTIKEL03/07/2026 | M Hilmi Zuhdi
Awal Mula Kalender Hijriah dan Peran Besar Khalifah Umar bin Khattab
Kalender Hijriah menjadi sistem penanggalan yang digunakan umat Islam untuk menentukan berbagai waktu ibadah, seperti Ramadan, Idulfitri, Iduladha, dan ibadah haji. Di balik penggunaannya, terdapat sejarah penting tentang bagaimana kalender ini ditetapkan pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, yang menjadi tonggak dalam perkembangan administrasi dan peradaban Islam.
Latar Belakang Penetapan Kalender Hijriah
Pada masa awal Islam, umat Muslim belum memiliki sistem penanggalan resmi. Berbagai surat, dokumen pemerintahan, dan keputusan administratif sering kali hanya mencantumkan nama bulan tanpa menyebutkan tahun. Kondisi ini menimbulkan kebingungan, terutama ketika wilayah kekuasaan Islam semakin luas dan urusan pemerintahan menjadi semakin kompleks.
Diriwayatkan bahwa salah seorang gubernur mengirimkan surat kepada Khalifah Umar bin Khattab untuk menyampaikan bahwa surat-surat resmi yang diterima tidak mencantumkan tahun, sehingga menyulitkan pelaksanaan administrasi pemerintahan. Masukan tersebut kemudian menjadi salah satu alasan perlunya menetapkan sistem penanggalan yang baku.
Musyawarah Para Sahabat
Untuk menentukan penanggalan resmi, Khalifah Umar mengundang para sahabat Rasulullah SAW bermusyawarah. Dalam pertemuan tersebut muncul beberapa usulan mengenai titik awal perhitungan tahun, di antaranya berdasarkan tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW, tahun diangkatnya beliau menjadi nabi, tahun wafat beliau, maupun tahun hijrah dari Makkah ke Madinah.
Setelah mempertimbangkan berbagai pendapat, para sahabat sepakat menjadikan peristiwa hijrah sebagai awal penanggalan Islam. Hijrah dipilih karena menjadi titik balik yang menandai lahirnya masyarakat Islam yang mandiri serta awal terbentuknya pemerintahan Islam di Madinah.
Mengapa Disebut Kalender Hijriah?
Istilah "Hijriah" berasal dari kata hijrah, yaitu perpindahan Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Peristiwa tersebut bukan sekadar perpindahan tempat tinggal, tetapi menjadi momentum penting dalam sejarah Islam karena membuka jalan bagi perkembangan dakwah dan terbentuknya masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Oleh karena itu, kalender yang digunakan umat Islam kemudian dikenal sebagai kalender Hijriah.
Mengapa Muharram Menjadi Bulan Pertama?
Meskipun hijrah Nabi Muhammad SAW berlangsung pada bulan Rabiulawal, para sahabat menetapkan Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah.
Keputusan tersebut didasarkan pada beberapa pertimbangan. Muharram merupakan bulan yang datang setelah Zulhijah, ketika umat Islam menyelesaikan ibadah haji. Selain itu, setelah Baiat Aqabah, kaum muslimin mulai mempersiapkan hijrah pada bulan Muharram sehingga bulan ini dipandang sebagai awal dari perjalanan menuju terbentuknya masyarakat Islam di Madinah.
Peran Besar Khalifah Umar bin Khattab
Sebagai khalifah kedua, Umar bin Khattab memiliki peran penting dalam menetapkan kalender Hijriah sebagai sistem penanggalan resmi negara Islam. Keputusan tersebut memberikan banyak manfaat bagi kehidupan umat Islam, di antaranya:
* Menyatukan sistem administrasi pemerintahan.
* Mempermudah pencatatan surat-menyurat dan dokumen resmi.
* Menjadi acuan dalam penentuan waktu ibadah.
* Memperkuat identitas umat Islam melalui sistem penanggalan yang berlandaskan sejarah Islam.
Kebijakan ini menunjukkan kepemimpinan Umar bin Khattab yang mengedepankan musyawarah, ketertiban administrasi, dan kemaslahatan umat.
Kalender Hijriah dalam Kehidupan Umat Islam
Hingga saat ini, kalender Hijriah masih digunakan untuk menentukan berbagai ibadah dan hari-hari besar Islam. Awal Ramadan, Idulfitri, Iduladha, ibadah haji, hingga bulan-bulan mulia seperti Muharram, Rajab, Zulkaidah, dan Zulhijah semuanya mengacu pada penanggalan Hijriah.
Selain menjadi pedoman ibadah, kalender Hijriah juga mengingatkan umat Islam pada perjalanan dakwah Rasulullah SAW serta perjuangan para sahabat dalam membangun peradaban Islam.
Warisan Peradaban yang Terus Digunakan
Penetapan kalender Hijriah oleh Khalifah Umar bin Khattab merupakan salah satu warisan penting dalam sejarah Islam yang manfaatnya masih dirasakan hingga kini. Melalui sistem penanggalan ini, umat Islam memiliki acuan yang tidak hanya mengatur waktu ibadah, tetapi juga menghubungkan setiap pergantian tahun dengan peristiwa hijrah yang menjadi simbol pengorbanan, perjuangan, dan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.
Karena itu, setiap datangnya tahun baru Hijriah, umat Islam tidak hanya memperingati pergantian kalender, tetapi juga mengenang nilai-nilai hijrah sebagai inspirasi untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
ARTIKEL02/07/2026 | M Hilmi Zuhdi
Peran BAZNAS dalam Menghidupkan Nilai Ukhuwah melalui Budaya Berbagi
Islam adalah agama yang mengajarkan kasih sayang, kepedulian, dan persaudaraan. Salah satu cara nyata untuk memperkuat persaudaraan (ukhuwah islamiyah) adalah melalui budaya berbagi kepada sesama. Berbagi bukan sekadar memberikan sebagian harta, tetapi merupakan wujud keimanan yang melahirkan kepedulian sosial, mengurangi kesenjangan, serta mempererat hubungan antarumat.
Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat, semangat berbagi menjadi kebutuhan bersama. Ketika seseorang membantu saudaranya yang sedang kesulitan, sesungguhnya ia sedang membangun kekuatan umat. Dari sinilah lahir masyarakat yang saling menopang, saling mendoakan, dan saling menguatkan.
Allah Swt. berfirman:
"Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah [2]: 261)
Ayat tersebut menegaskan bahwa setiap harta yang dikeluarkan di jalan Allah tidak akan mengurangi kekayaan, justru akan dilipatgandakan keberkahannya oleh Allah Swt. Hal ini menunjukkan bahwa berbagi merupakan investasi akhirat sekaligus solusi bagi kesejahteraan sosial.
Selain itu, Allah juga berfirman:
"Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian." (QS. Az-Zariyat [51]: 19)
Ayat ini mengingatkan bahwa dalam setiap rezeki yang Allah titipkan terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan. Oleh karena itu, zakat, infak, dan sedekah bukan hanya bentuk kebaikan sukarela, tetapi juga manifestasi tanggung jawab sosial seorang muslim.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menjelaskan bahwa harta merupakan amanah dari Allah Swt. yang akan menjadi berkah apabila dimanfaatkan untuk kemaslahatan orang lain. Beliau menegaskan bahwa sifat dermawan merupakan salah satu akhlak mulia yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah dan kepada sesamanya.
Senada dengan itu, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata:
"Sedekah memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menolak berbagai musibah, meskipun berasal dari orang yang berbuat maksiat atau bahkan dari orang zalim. Sebab Allah menghilangkan berbagai musibah dengan sedekah."
Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa berbagi memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial. Sedekah tidak hanya memberi manfaat bagi penerimanya, tetapi juga menjadi sebab datangnya keberkahan dan perlindungan bagi pemberinya.
Zakat, Infak, dan Sedekah sebagai Pilar Ukhuwah
Zakat, infak, dan sedekah (ZIS) merupakan instrumen ekonomi Islam yang memiliki dampak luas bagi kehidupan masyarakat. Melalui zakat, kebutuhan dasar mustahik dapat dipenuhi secara lebih terstruktur. Sementara infak dan sedekah menjadi ruang bagi setiap muslim untuk terus menebarkan manfaat kapan pun dan dalam keadaan apa pun.
Budaya berbagi melalui ZIS melahirkan berbagai manfaat, di antaranya:
Mempererat ukhuwah islamiyah dan solidaritas sosial.
Mengurangi kesenjangan ekonomi di tengah masyarakat.
Menumbuhkan rasa syukur dan kepedulian terhadap sesama.
Mendorong pemberdayaan ekonomi umat secara berkelanjutan.
Menghadirkan keberkahan dalam kehidupan pribadi maupun sosial.
Ketika budaya berbagi menjadi kebiasaan, masyarakat akan tumbuh menjadi komunitas yang kuat, saling mendukung, dan mampu menghadapi berbagai tantangan bersama.
Peran BAZNAS dalam Mengelola Zakat, Infak, dan Sedekah
Sebagai lembaga resmi yang dibentuk pemerintah untuk mengelola zakat, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) memiliki peran strategis dalam menghimpun, mengelola, dan mendistribusikan dana zakat, infak, dan sedekah secara amanah, profesional, dan tepat sasaran.
Melalui berbagai program di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, kemanusiaan, dan dakwah, BAZNAS berupaya memastikan bahwa dana yang dititipkan oleh para muzaki memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat yang membutuhkan. Pengelolaan yang transparan dan akuntabel juga menjadi bentuk komitmen untuk menjaga kepercayaan publik.
Di tingkat daerah, BAZNAS turut menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendukung pengentasan kemiskinan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta pemberdayaan mustahik agar dapat bertransformasi menjadi muzaki di masa depan. Dengan demikian, zakat tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga produktif dan berkelanjutan.
Penutup
Budaya berbagi adalah fondasi kuat dalam membangun ukhuwah islamiyah. Melalui zakat, infak, dan sedekah, umat Islam tidak hanya menjalankan perintah Allah Swt., tetapi juga menghadirkan harapan bagi mereka yang membutuhkan. Semakin banyak tangan yang memberi, semakin kuat pula persaudaraan yang terjalin di tengah masyarakat.
Mari menjadikan berbagi sebagai gaya hidup dan bagian dari ibadah sehari-hari. Salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS agar setiap amanah yang dititipkan dapat dikelola secara profesional, tepat sasaran, serta memberikan manfaat yang luas bagi kemajuan dan kesejahteraan umat.
ARTIKEL01/07/2026 | M Hilmi Zuhdi
Berbagi Bersama, Menguatkan Umat: Spirit Zakat, Infak, dan Sedekah dalam Islam
Islam merupakan agama yang mengajarkan keseimbangan antara ibadah kepada Allah SWT dan kepedulian terhadap sesama. Salah satu bentuk nyata kepedulian tersebut diwujudkan melalui zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Ketiganya bukan sekadar bentuk kedermawanan, tetapi juga instrumen yang mampu memperkuat persaudaraan, mengurangi kesenjangan sosial, serta membangun kesejahteraan umat.
Allah SWT berfirman:
"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 261)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa setiap harta yang dikeluarkan dengan ikhlas di jalan Allah tidak akan mengurangi kekayaan seseorang. Sebaliknya, Allah menjanjikan balasan yang berlipat ganda, baik berupa keberkahan hidup maupun pahala di akhirat.
Zakat merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat nisab dan haul. Melalui zakat, terjadi pemerataan ekonomi sehingga harta tidak hanya beredar di kalangan orang-orang yang mampu. Sementara itu, infak dan sedekah memberikan ruang yang lebih luas bagi setiap muslim untuk berbagi sesuai kemampuan, kapan pun dan dalam jumlah berapa pun.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulum al-Din menjelaskan bahwa:
"Harta hanyalah amanah. Kesempurnaan syukur atas nikmat harta adalah dengan menunaikan hak-hak Allah di dalamnya serta membantu mereka yang membutuhkan."
Pernyataan tersebut mengingatkan bahwa kepemilikan harta bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui kemanfaatan bagi sesama.
Senada dengan itu, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah mengatakan:
"Sedekah memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menolak berbagai musibah, meskipun berasal dari orang yang berbuat zalim atau bahkan dari orang yang belum sempurna keimanannya. Sebab Allah menjadikan pada sedekah kekuatan yang luar biasa."
Kutipan tersebut menggambarkan bahwa sedekah bukan hanya bernilai sosial, tetapi juga menjadi sebab datangnya perlindungan dan keberkahan dari Allah SWT.
Spirit ZIS juga memiliki dampak yang luas dalam kehidupan bermasyarakat. Dana zakat, infak, dan sedekah dapat dikelola secara produktif untuk membantu pendidikan anak-anak dhuafa, meningkatkan layanan kesehatan, memperkuat perekonomian melalui pemberdayaan usaha mikro, membantu korban bencana, hingga membiayai berbagai program dakwah dan kemanusiaan. Dengan pengelolaan yang amanah dan profesional, ZIS menjadi solusi nyata dalam mengurangi kemiskinan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Lebih dari itu, budaya berbagi membentuk karakter seorang muslim agar tidak diperbudak oleh kecintaan terhadap harta. Rasulullah SAW bersabda:
"Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa memberi merupakan kemuliaan yang harus terus diupayakan oleh setiap muslim. Semangat berbagi menjadikan seseorang lebih peduli, rendah hati, serta memiliki tanggung jawab sosial terhadap lingkungan sekitarnya.
Di era modern, semangat ZIS semakin relevan untuk menjawab berbagai tantangan sosial. Ketika semakin banyak umat Islam menunaikan zakat, memperbanyak infak, dan membiasakan sedekah, maka akan lahir masyarakat yang saling menguatkan, saling membantu, dan tumbuh dalam keberkahan.
Mari jadikan zakat sebagai kewajiban yang ditunaikan dengan penuh kesadaran, infak sebagai kebiasaan, dan sedekah sebagai gaya hidup. Dengan berbagi bersama, kita tidak hanya membantu mereka yang membutuhkan, tetapi juga memperkuat persatuan umat, menumbuhkan solidaritas sosial, dan meraih ridha Allah SWT.
Berbagi bukanlah tentang seberapa besar yang kita miliki, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat kita hadirkan bagi sesama. Sebab, umat yang kuat adalah umat yang saling menguatkan melalui zakat, infak, dan sedekah.
ARTIKEL30/06/2026 | M Hilmi Zuhdi
Sejarah Muharram: Asal Usul Bulan Mulia dalam Islam
Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah sekaligus salah satu dari empat bulan yang dimuliakan dalam Islam. Bulan ini memiliki kedudukan istimewa karena menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperbanyak amal saleh, meningkatkan ketakwaan, dan melakukan refleksi diri dalam menyambut tahun baru Hijriah.
Muharram sebagai Awal Tahun Hijriah
Kalender Hijriah mulai digunakan pada masa pemerintahan Umar bin Khattab sebagai sistem penanggalan resmi bagi umat Islam. Penetapan kalender ini didasarkan pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, sebuah peristiwa penting yang menandai awal terbentuknya masyarakat Islam.
Meskipun peristiwa hijrah terjadi pada bulan Rabiulawal, para sahabat sepakat menjadikan Muharram sebagai awal tahun Hijriah karena pada bulan inilah kaum muslimin mulai mempersiapkan hijrah setelah terjadinya Baiat Aqabah. Selain itu, Muharram datang setelah berakhirnya musim ibadah haji pada bulan Zulhijah, sehingga dianggap sebagai waktu yang tepat untuk memulai lembaran baru.
Asal Usul Nama Muharram
Secara bahasa, kata Muharram berasal dari bahasa Arab yang berarti "diharamkan" atau "dimuliakan". Nama ini menunjukkan bahwa sejak masa Arab pra-Islam, bulan Muharram telah dipandang sebagai bulan yang memiliki kehormatan, terutama karena peperangan dilarang dilakukan pada bulan tersebut.
Islam kemudian menegaskan kembali kemuliaan Muharram sebagai salah satu bulan haram yang harus dihormati oleh umat Islam.
Muharram Termasuk Bulan Haram
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an bahwa jumlah bulan menurut ketetapan-Nya adalah dua belas bulan, dan di antaranya terdapat empat bulan haram. Keempat bulan tersebut adalah Zulkaidah, Zulhijah, Muharram, dan Rajab.
Pada bulan-bulan haram, umat Islam dianjurkan untuk lebih menjaga diri dari perbuatan dosa serta memperbanyak amal kebajikan. Nilai pahala atas amal saleh dilipatgandakan, sementara pelanggaran terhadap larangan Allah juga memiliki konsekuensi yang lebih besar.
Keutamaan Bulan Muharram
Muharram memiliki sejumlah keutamaan yang dijelaskan dalam hadis-hadis Rasulullah SAW. Salah satunya adalah anjuran memperbanyak puasa sunnah pada bulan ini.
Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram. Oleh karena itu, banyak umat Islam yang melaksanakan puasa sunnah, terutama pada tanggal 9 dan 10 Muharram (Tasua dan Asyura), atau tanggal 10 dan 11 Muharram.
Selain berpuasa, Muharram juga menjadi momentum untuk memperbanyak zikir, sedekah, membaca Al-Qur'an, dan berbagai amal kebajikan lainnya.
Peristiwa Penting di Bulan Muharram
Dalam tradisi Islam, tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura memiliki nilai sejarah yang penting. Salah satu peristiwa yang paling dikenal adalah diselamatkannya Musa AS beserta kaumnya dari kejaran Fir'aun. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, Nabi Musa berpuasa pada hari tersebut.
Ketika tiba di Madinah, Rasulullah SAW mendapati kaum Yahudi berpuasa pada Hari Asyura untuk mengenang peristiwa tersebut. Beliau kemudian turut berpuasa dan menganjurkan umat Islam untuk melaksanakannya, dengan menambahkan puasa pada hari sebelumnya atau sesudahnya agar berbeda dari tradisi kaum Yahudi.
Muharram sebagai Momentum Muhasabah
Datangnya bulan Muharram menjadi pengingat bagi umat Islam untuk melakukan evaluasi terhadap perjalanan hidup selama satu tahun terakhir. Tahun baru Hijriah bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, tetapi juga kesempatan untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.
Momentum ini juga dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak amal sosial seperti sedekah, infak, dan zakat sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat yang membutuhkan.
Menyambut Muharram dengan Amal Kebaikan
Kemuliaan bulan Muharram menjadi kesempatan bagi setiap muslim untuk memulai tahun Hijriah dengan semangat beribadah dan berbuat baik. Dengan memperbanyak amal saleh, menjaga akhlak, serta meningkatkan kepedulian sosial, Muharram dapat menjadi awal yang penuh keberkahan bagi kehidupan pribadi maupun masyarakat.
Memaknai Muharram tidak hanya sebatas mengenang sejarah, tetapi juga menjadikannya sebagai momentum untuk memperkuat keimanan dan membangun komitmen dalam menjalankan ajaran Islam sepanjang tahun.
ARTIKEL29/06/2026 | M Hilmi Zuhdi
Makna Hijrah dalam Islam yang Relevan untuk Kehidupan Masa Kini
Makna hijrah dalam Islam merupakan salah satu konsep penting yang tidak hanya berkaitan dengan perpindahan tempat, tetapi juga perubahan diri menuju kehidupan yang lebih baik sesuai tuntunan Allah SWT. Ketika mendengar kata hijrah, sebagian besar umat Islam mungkin langsung teringat pada peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Namun, sesungguhnya hijrah memiliki makna yang jauh lebih luas dan relevan dalam kehidupan modern saat ini.
Makna hijrah dalam Islam mengajarkan bahwa setiap muslim memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, meninggalkan kebiasaan buruk, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hijrah menjadi simbol transformasi spiritual yang membawa seseorang dari keadaan kurang baik menuju keadaan yang lebih diridhai oleh-Nya.
Dalam kehidupan yang penuh tantangan seperti sekarang, makna hijrah dalam Islam menjadi semakin penting. Arus informasi yang cepat, perubahan gaya hidup, dan berbagai godaan dunia membuat umat Islam perlu memiliki pegangan yang kuat agar tetap berada di jalan yang benar.
Hijrah bukan sekadar tren atau perubahan penampilan semata. Sebaliknya, makna hijrah dalam Islam menekankan perubahan hati, pola pikir, dan perilaku yang didasarkan pada nilai-nilai keimanan serta ketakwaan kepada Allah SWT.
Melalui pemahaman yang benar tentang makna hijrah dalam Islam, seorang muslim dapat menjalani kehidupan dengan lebih terarah, penuh tujuan, dan senantiasa berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.
Sejarah dan Dasar Makna Hijrah dalam Islam
Makna hijrah dalam Islam tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan Rasulullah SAW bersama para sahabat. Peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah menjadi titik balik penting dalam perkembangan dakwah Islam dan pembentukan masyarakat muslim yang kuat.
Dalam sejarah tersebut, makna hijrah dalam Islam menunjukkan keberanian, pengorbanan, serta ketaatan kepada perintah Allah SWT. Rasulullah SAW meninggalkan kampung halaman yang dicintainya demi menjaga dan mengembangkan ajaran Islam.
Selain perpindahan fisik, makna hijrah dalam Islam juga mengandung pesan spiritual yang mendalam. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa hijrah sejati adalah meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT.
Hadis Nabi SAW menjelaskan bahwa seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah. Oleh karena itu, makna hijrah dalam Islam tidak terbatas pada perpindahan geografis, tetapi mencakup perubahan perilaku menuju ketaatan.
Hingga saat ini, makna hijrah dalam Islam tetap menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk terus memperbaiki diri dan berjuang menegakkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Makna Hijrah dalam Islam sebagai Perubahan Akhlak
Salah satu bentuk nyata dari makna hijrah dalam Islam adalah perubahan akhlak yang lebih baik. Akhlak merupakan cerminan keimanan seseorang dan menjadi salah satu indikator keberhasilan proses hijrah.
Ketika seseorang memahami makna hijrah dalam Islam, ia akan berusaha meninggalkan sifat-sifat buruk seperti sombong, iri hati, dengki, dan suka menyakiti orang lain. Sebagai gantinya, ia berusaha menumbuhkan sifat sabar, rendah hati, dan penuh kasih sayang.
Dalam kehidupan sosial, makna hijrah dalam Islam juga terlihat dari cara seseorang memperlakukan keluarga, tetangga, dan masyarakat. Seorang muslim yang berhijrah akan berusaha menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Perubahan akhlak yang baik merupakan bukti bahwa makna hijrah dalam Islam telah benar-benar meresap ke dalam hati. Hijrah bukan hanya tampak dari luar, tetapi juga terlihat dalam sikap dan tindakan sehari-hari.
Karena itu, setiap muslim hendaknya menjadikan makna hijrah dalam Islam sebagai motivasi untuk terus memperbaiki karakter dan menjadi teladan yang baik bagi orang lain.
Makna Hijrah dalam Islam di Era Modern
Di era digital saat ini, makna hijrah dalam Islam memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan masa lalu. Kemajuan teknologi memberikan banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan berbagai ujian yang dapat menjauhkan seseorang dari nilai-nilai Islam.
Memahami makna hijrah dalam Islam berarti mampu menggunakan teknologi secara bijak. Seorang muslim hendaknya memanfaatkan media sosial, internet, dan berbagai platform digital untuk hal-hal yang bermanfaat dan bernilai ibadah.
Selain itu, makna hijrah dalam Islam juga dapat diwujudkan dengan meninggalkan konten negatif, ujaran kebencian, serta perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Hijrah digital menjadi salah satu bentuk hijrah yang relevan pada masa kini.
Dalam dunia kerja dan pendidikan, makna hijrah dalam Islam mendorong umat Islam untuk bekerja secara jujur, profesional, dan bertanggung jawab. Nilai-nilai Islam harus tetap menjadi pedoman dalam setiap aktivitas.
Dengan demikian, makna hijrah dalam Islam tetap relevan meskipun zaman terus berubah. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mampu menjadi solusi bagi berbagai persoalan kehidupan modern.
Makna Hijrah dalam Islam dan Kepedulian Sosial
Makna hijrah dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia kepada Allah SWT, tetapi juga hubungan dengan sesama manusia. Islam mengajarkan bahwa seorang muslim yang baik harus memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Ketika memahami makna hijrah dalam Islam, seseorang akan terdorong untuk membantu orang yang membutuhkan, memperhatikan kaum dhuafa, dan berkontribusi bagi kesejahteraan masyarakat.
Salah satu contoh nyata implementasi nilai hijrah adalah semangat berbagi dan pemberdayaan umat melalui berbagai program sosial. Program kurban yang diselenggarakan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menunjukkan bagaimana ibadah dapat memberikan dampak sosial yang luas. Program Kurban Berkah Berdayakan Desa 2026 tidak hanya membantu penerima manfaat, tetapi juga memberdayakan peternak kecil di berbagai daerah.
Lebih jauh lagi, makna hijrah dalam Islam tercermin dalam upaya membantu masyarakat yang terdampak bencana serta saudara-saudara muslim di Palestina. BAZNAS menyalurkan kurban ke wilayah bencana dan Palestina sebagai bentuk kepedulian sosial yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.
Melalui semangat berbagi tersebut, makna hijrah dalam Islam menjadi lebih nyata karena mendorong umat Islam untuk tidak hanya memperbaiki diri sendiri, tetapi juga memberikan manfaat bagi orang lain.
Langkah Menerapkan Makna Hijrah dalam Islam dalam Kehidupan Sehari-hari
Untuk mewujudkan makna hijrah dalam Islam, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah memperkuat niat karena Allah SWT. Setiap perubahan yang dilakukan harus dilandasi keikhlasan agar bernilai ibadah.
Selanjutnya, makna hijrah dalam Islam dapat diterapkan dengan memperbaiki kualitas ibadah seperti shalat, membaca Al-Qur'an, berzikir, dan memperbanyak doa kepada Allah SWT.
Langkah berikutnya adalah memilih lingkungan yang baik. Makna hijrah dalam Islam mengajarkan pentingnya berteman dengan orang-orang saleh yang dapat memberikan pengaruh positif dalam kehidupan.
Selain itu, makna hijrah dalam Islam juga diwujudkan dengan terus menuntut ilmu agama. Pengetahuan yang benar akan membantu seseorang memahami ajaran Islam secara lebih mendalam dan menghindari kesalahan dalam beribadah.
Dengan konsistensi dan kesabaran, makna hijrah dalam Islam akan menjadi bagian dari kehidupan seorang muslim yang senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Pada akhirnya, makna hijrah dalam Islam merupakan proses perubahan menuju kehidupan yang lebih baik sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya. Hijrah tidak hanya berarti perpindahan tempat, tetapi juga transformasi hati, pikiran, dan perilaku.
Di tengah berbagai tantangan kehidupan modern, makna hijrah dalam Islam tetap relevan sebagai pedoman bagi umat Islam untuk menjaga keimanan, memperbaiki akhlak, dan meningkatkan kualitas ibadah. Hijrah mengajarkan bahwa setiap muslim memiliki kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya.
Lebih dari itu, makna hijrah dalam Islam juga mendorong kepedulian sosial, semangat berbagi, dan pemberdayaan masyarakat sebagaimana dicontohkan dalam berbagai program kemanusiaan dan pemberdayaan umat yang dijalankan oleh lembaga-lembaga Islam.
Dengan memahami dan mengamalkan makna hijrah dalam Islam, setiap muslim dapat menjalani kehidupan yang lebih bermakna, penuh keberkahan, serta memberikan manfaat bagi sesama dan lingkungan sekitar.
ARTIKEL26/06/2026 | M Hilmi Zuhdi
Zakat untuk Pendidikan Anak Dhuafa: Dampak Nyata yang Bisa Dilihat
Zakat tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat kurang mampu, tetapi juga berperan penting dalam membuka akses pendidikan bagi anak-anak dhuafa. Melalui dana zakat yang dikelola secara amanah dan profesional oleh Badan Amil Zakat Nasional, banyak anak dari keluarga prasejahtera mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan meraih masa depan yang lebih baik.
Mengapa Pendidikan Penting?
Pendidikan Membuka Peluang Masa Depan
Pendidikan merupakan salah satu kunci utama untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang. Dengan memperoleh pendidikan yang layak, anak-anak memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan potensi, memperoleh pekerjaan yang baik, dan meningkatkan taraf hidup keluarganya di masa depan.
Bagi anak-anak dhuafa, pendidikan sering kali menjadi jalan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan yang dialami keluarganya selama bertahun-tahun.
Mengurangi Risiko Putus Sekolah
Keterbatasan ekonomi menjadi salah satu penyebab utama anak-anak dari keluarga kurang mampu mengalami kesulitan mengakses pendidikan. Biaya sekolah, perlengkapan belajar, transportasi, hingga kebutuhan penunjang lainnya sering kali menjadi beban yang berat bagi keluarga.
Melalui dukungan dana zakat, berbagai hambatan tersebut dapat dikurangi sehingga anak-anak memiliki kesempatan untuk terus belajar dan menyelesaikan pendidikannya.
Membangun Generasi yang Berkualitas
Investasi dalam bidang pendidikan tidak hanya memberikan manfaat bagi individu, tetapi juga bagi masyarakat secara luas. Anak-anak yang memperoleh pendidikan yang baik berpotensi menjadi generasi yang produktif, mandiri, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya.
Bentuk Bantuan dari Zakat
Beasiswa Pendidikan
Salah satu bentuk pemanfaatan zakat yang paling banyak dirasakan adalah pemberian beasiswa bagi siswa dan mahasiswa dari keluarga dhuafa. Bantuan ini membantu meringankan biaya pendidikan sehingga mereka dapat fokus pada proses belajar.
Bantuan Perlengkapan Sekolah
Dana zakat juga dapat digunakan untuk menyediakan perlengkapan sekolah seperti seragam, tas, buku, alat tulis, dan kebutuhan belajar lainnya. Bantuan ini membantu memastikan anak-anak memiliki sarana yang memadai untuk mengikuti kegiatan pendidikan.
Dukungan Biaya Pendidikan
Selain beasiswa, zakat dapat dimanfaatkan untuk membantu biaya pendidikan yang harus dibayarkan oleh keluarga mustahik, termasuk kebutuhan akademik tertentu yang mendukung keberlangsungan proses belajar.
Program Pembinaan dan Pengembangan Diri
Beberapa program pendidikan berbasis zakat tidak hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga menyediakan pembinaan karakter, pelatihan keterampilan, pendampingan belajar, serta pengembangan kapasitas diri agar penerima manfaat dapat tumbuh secara optimal.
Dampak bagi Keluarga Mustahik
Meringankan Beban Ekonomi Keluarga
Bantuan pendidikan dari dana zakat membantu keluarga mustahik mengurangi pengeluaran yang berkaitan dengan kebutuhan sekolah anak. Dengan demikian, keluarga dapat lebih fokus memenuhi kebutuhan pokok lainnya tanpa harus mengorbankan pendidikan anak.
Meningkatkan Semangat Belajar Anak
Ketika kebutuhan pendidikan terpenuhi, anak-anak cenderung lebih termotivasi untuk belajar dan berprestasi. Dukungan yang diberikan melalui program zakat menjadi bentuk perhatian yang mendorong mereka untuk terus mengejar cita-cita.
Memberikan Harapan untuk Kehidupan yang Lebih Baik
Pendidikan yang berkelanjutan membuka peluang bagi anak-anak dhuafa untuk memperoleh masa depan yang lebih cerah. Kesempatan ini tidak hanya berdampak pada individu penerima manfaat, tetapi juga memberikan harapan baru bagi keluarganya untuk meningkatkan kondisi ekonomi di masa mendatang.
Memutus Rantai Kemiskinan
Salah satu dampak terbesar dari program pendidikan berbasis zakat adalah kemampuannya dalam membantu memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Anak yang memperoleh pendidikan yang baik memiliki peluang lebih besar untuk mencapai kemandirian ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
Zakat untuk Masa Depan Generasi Bangsa
Pemanfaatan zakat di bidang pendidikan menunjukkan bahwa zakat memiliki peran yang sangat strategis dalam pembangunan sumber daya manusia. Melalui bantuan pendidikan yang tepat sasaran, anak-anak dhuafa dapat memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan meraih cita-cita mereka.
Setiap zakat yang ditunaikan tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga menjadi investasi sosial yang memberikan manfaat jangka panjang bagi masa depan umat. Dengan mendukung pendidikan anak-anak dhuafa, zakat turut berkontribusi dalam menciptakan generasi yang lebih berdaya, mandiri, dan siap membangun Indonesia yang lebih sejahtera.
ARTIKEL24/06/2026 | M Hilmi Zuhdi
Cara Menyambut Muharram dengan Ibadah dan Semangat Hijrah
Muharram merupakan salah satu bulan yang sangat istimewa dalam kalender Islam. Bulan ini menjadi penanda awal tahun baru Hijriah sekaligus momentum bagi umat Islam untuk melakukan introspeksi diri, memperbaiki amal, dan memperkuat tekad dalam menjalani kehidupan yang lebih baik sesuai tuntunan agama. Oleh karena itu, memahami Cara Menyambut Muharram dengan benar sangat penting agar pergantian tahun Hijriah tidak hanya menjadi peristiwa seremonial, tetapi juga menjadi sarana peningkatan keimanan dan ketakwaan.
Sebagai seorang muslim, datangnya Muharram seharusnya disambut dengan rasa syukur kepada Allah SWT karena masih diberikan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan hidup dan memperbanyak amal saleh. Semangat hijrah yang diwariskan dari peristiwa perpindahan Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah dapat menjadi inspirasi bagi setiap muslim untuk meninggalkan kebiasaan buruk menuju kehidupan yang lebih baik.
Artikel ini akan membahas secara lengkap Cara Menyambut Muharram dengan ibadah dan semangat hijrah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Keutamaan Bulan Muharram dalam Islam
Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Dalam bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal kebaikan dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan.
Keutamaan Muharram juga terlihat dari berbagai hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan bahwa puasa sunnah terbaik setelah puasa Ramadan adalah puasa di bulan Muharram. Hal ini menunjukkan betapa besarnya nilai ibadah yang dilakukan pada bulan tersebut.
Selain itu, Muharram menjadi pengingat akan sejarah besar umat Islam, yaitu hijrah Rasulullah SAW yang menjadi titik awal perkembangan peradaban Islam hingga menyebar ke berbagai penjuru dunia.
Mengapa Muharram Identik dengan Semangat Hijrah?
Ketika membahas Cara Menyambut Muharram, kita tidak dapat melepaskan pembahasan tentang hijrah. Secara umum, hijrah berarti berpindah atau meninggalkan sesuatu menuju keadaan yang lebih baik.
Dalam konteks kehidupan seorang muslim saat ini, hijrah dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, antara lain:
Meninggalkan kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik.
Meninggalkan kemalasan menuju semangat beribadah.
Meninggalkan perbuatan maksiat menuju ketaatan.
Meninggalkan sikap negatif menuju akhlak yang lebih mulia.
Semangat hijrah bukan sekadar perubahan penampilan luar, melainkan transformasi hati, pola pikir, dan perilaku agar semakin dekat kepada Allah SWT.
Cara Menyambut Muharram dengan Memperbanyak Muhasabah
Salah satu Cara Menyambut Muharram yang sangat dianjurkan adalah melakukan muhasabah atau evaluasi diri. Pergantian tahun Hijriah menjadi waktu yang tepat untuk meninjau kembali perjalanan hidup selama setahun terakhir.
Muhasabah dapat dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada diri sendiri:
Apakah kualitas salat sudah semakin baik?
Apakah hubungan dengan keluarga sudah harmonis?
Apakah masih ada kebiasaan buruk yang perlu ditinggalkan?
Apakah target ibadah tahun lalu sudah tercapai?
Melalui muhasabah, seorang muslim dapat mengetahui kekurangan yang masih perlu diperbaiki dan merancang langkah-langkah positif untuk masa depan.
Memperbanyak Taubat kepada Allah SWT
Muharram merupakan momen yang tepat untuk memperbarui taubat. Setiap manusia pasti memiliki kesalahan dan dosa, baik yang disadari maupun yang tidak disadari.
Karena itu, salah satu Cara Menyambut Muharram yang paling utama adalah memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah SWT.
Taubat yang sungguh-sungguh mencakup beberapa hal:
Menyesali perbuatan dosa yang pernah dilakukan.
Berhenti dari perbuatan tersebut.
Bertekad tidak mengulanginya kembali.
Mengembalikan hak orang lain jika berkaitan dengan sesama manusia.
Dengan taubat yang tulus, seorang muslim dapat memasuki tahun baru Hijriah dengan hati yang lebih bersih dan penuh harapan.
Memperbanyak Ibadah Sunnah
Muharram merupakan waktu yang tepat untuk meningkatkan kualitas ibadah. Selain menjalankan ibadah wajib dengan baik, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak amalan sunnah.
Beberapa ibadah sunnah yang dapat dilakukan antara lain:
1. Puasa Sunnah Muharram
Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak puasa sunnah pada bulan Muharram. Salah satu yang paling terkenal adalah puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram.
Selain itu, dianjurkan pula berpuasa pada tanggal 9 Muharram atau Tasua sebagai pembeda dari tradisi umat lain.
2. Membaca Al-Qur'an
Muharram dapat menjadi momentum untuk meningkatkan interaksi dengan Al-Qur'an. Misalnya dengan:
Menambah target tilawah harian.
Memahami makna ayat-ayat Al-Qur'an.
Menghafalkan surat-surat pendek.
Mengikuti kajian tafsir.
3. Memperbanyak Zikir dan Doa
Zikir membantu hati menjadi lebih tenang dan dekat dengan Allah SWT. Pergantian tahun Hijriah dapat dijadikan pengingat untuk lebih sering mengingat Allah dalam setiap aktivitas.
Menyusun Target Kebaikan di Tahun Baru Hijriah
Sebagian orang membuat resolusi ketika memasuki tahun baru Masehi. Demikian pula dalam Islam, Muharram dapat dijadikan momen untuk menetapkan target kebaikan.
Dalam praktik Cara Menyambut Muharram, menyusun target ibadah sangat bermanfaat agar kehidupan menjadi lebih terarah.
Contoh target yang bisa dibuat:
Salat berjamaah lebih rutin.
Menambah hafalan Al-Qur'an.
Bersedekah secara konsisten setiap bulan.
Mengikuti majelis ilmu secara berkala.
Menjaga hubungan baik dengan keluarga.
Target yang realistis dan terukur akan membantu seseorang lebih mudah mencapainya.
Mempererat Silaturahmi dan Ukhuwah Islamiyah
Muharram juga menjadi waktu yang baik untuk memperbaiki hubungan dengan sesama. Tidak sedikit konflik yang berlangsung bertahun-tahun hanya karena kesalahpahaman kecil.
Oleh sebab itu, salah satu Cara Menyambut Muharram yang bernilai besar adalah mempererat silaturahmi.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Menghubungi keluarga yang lama tidak berkomunikasi.
Meminta maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan.
Mengunjungi kerabat dan sahabat.
Membantu sesama yang membutuhkan.
Silaturahmi bukan hanya memperkuat hubungan sosial, tetapi juga mendatangkan keberkahan dalam kehidupan.
Menumbuhkan Semangat Hijrah dalam Kehidupan Sehari-hari
Semangat hijrah harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Muharram tidak hanya menjadi peringatan sejarah, tetapi juga momentum perubahan diri.
Berikut beberapa bentuk hijrah yang relevan saat ini:
Hijrah dalam Ibadah
Meningkatkan kualitas salat, memperbanyak doa, dan lebih disiplin menjalankan kewajiban agama.
Hijrah dalam Akhlak
Mengurangi amarah, menjaga lisan, menghormati orang tua, dan memperlakukan sesama dengan baik.
Hijrah dalam Pergaulan
Memilih lingkungan yang mendukung kebaikan dan menjauhkan diri dari pergaulan yang dapat merusak iman.
Hijrah dalam Pemanfaatan Waktu
Menggunakan waktu untuk kegiatan yang bermanfaat seperti belajar, bekerja secara produktif, dan beribadah.
Mengajarkan Makna Muharram kepada Keluarga
Muharram juga dapat menjadi sarana pendidikan Islam dalam keluarga. Orang tua dapat mengenalkan nilai-nilai hijrah kepada anak-anak sejak dini.
Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan bersama keluarga:
Membaca kisah hijrah Rasulullah SAW.
Mengadakan diskusi ringan tentang makna tahun baru Hijriah.
Mengajak anak berpuasa sunnah sesuai kemampuannya.
Membiasakan doa dan zikir bersama.
Melalui pendekatan ini, nilai-nilai Islam dapat diwariskan kepada generasi berikutnya dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami.
Hal-Hal yang Perlu Dihindari Saat Menyambut Muharram
Dalam menjalankan Cara Menyambut Muharram, umat Islam juga perlu menghindari berbagai praktik yang tidak memiliki dasar yang jelas dalam syariat.
Beberapa hal yang perlu dihindari antara lain:
Menganggap Muharram sebagai bulan sial.
Melakukan ritual yang tidak memiliki landasan agama.
Berlebihan dalam perayaan hingga melalaikan ibadah.
Mempercayai mitos atau takhayul yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Muharram seharusnya diisi dengan aktivitas yang mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan dengan hal-hal yang dapat mengurangi nilai ibadah.
Hikmah Menyambut Muharram dengan Ibadah dan Semangat Hijrah
Ada banyak hikmah yang dapat diperoleh ketika seorang muslim memahami Cara Menyambut Muharram dengan benar.
Di antaranya adalah:
Meningkatkan kualitas hubungan dengan Allah SWT.
Menumbuhkan kesadaran untuk memperbaiki diri.
Menambah semangat dalam menjalankan ibadah.
Memperkuat hubungan dengan keluarga dan masyarakat.
Menjadikan kehidupan lebih terarah dan bermakna.
Muharram bukan hanya pergantian angka dalam kalender, tetapi kesempatan untuk membuka lembaran baru yang lebih baik.
Pada akhirnya, Cara Menyambut Muharram tidak cukup hanya dengan mengucapkan selamat tahun baru Hijriah, tetapi harus diwujudkan melalui peningkatan ibadah, muhasabah diri, taubat yang tulus, serta semangat hijrah menuju kehidupan yang lebih baik. Muharram adalah momentum yang sangat berharga bagi umat Islam untuk memperbarui niat, memperkuat keimanan, dan memperbanyak amal saleh.
Dengan memahami dan menerapkan Cara Menyambut Muharram secara benar, setiap muslim dapat menjadikan awal tahun Hijriah sebagai titik awal perubahan positif yang berkelanjutan. Semoga Muharram menjadi bulan yang membawa keberkahan, meningkatkan ketakwaan, dan menguatkan semangat hijrah dalam setiap aspek kehidupan kita.
ARTIKEL10/06/2026 | M Hilmi Zuhdi
Keutamaan Bersedekah kepada Anak Yatim di Bulan Muharram
Muharram, Bulan Mulia untuk Memperbanyak Kebaikan
Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Sebagai pembuka tahun Hijriah, bulan ini menjadi momentum bagi umat Muslim untuk memperbaiki diri, meningkatkan ibadah, dan memperbanyak amal saleh. Di antara amalan yang sangat dianjurkan adalah bersedekah kepada anak yatim.
Anak yatim memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Rasulullah ? memberikan perhatian besar kepada mereka dan mendorong umatnya untuk senantiasa menjaga, menyayangi, serta memenuhi kebutuhan mereka. Ketika sedekah diberikan pada bulan Muharram, nilai kebaikan tersebut menjadi semakin bermakna karena dilakukan pada waktu yang penuh keberkahan.
Mendapatkan Pahala yang Berlipat
Setiap sedekah yang diberikan dengan ikhlas akan mendapatkan balasan dari Allah SWT. Terlebih lagi ketika sedekah tersebut diberikan kepada anak yatim yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Sedekah bukan hanya membantu memenuhi kebutuhan mereka, tetapi juga menjadi investasi pahala bagi pemberinya.
Allah SWT berfirman bahwa setiap kebaikan akan dibalas dengan ganjaran yang berlipat ganda. Oleh karena itu, Muharram menjadi kesempatan emas untuk memperbanyak amal yang bermanfaat bagi sesama.
Meneladani Akhlak Rasulullah ?
Rasulullah ? sendiri adalah seorang yatim sejak kecil. Beliau sangat memahami perasaan dan kebutuhan anak yatim. Karena itu, beliau menganjurkan umatnya untuk memuliakan mereka.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah ? bersabda:
"Aku dan orang yang menanggung anak yatim akan berada di surga seperti ini," sambil beliau merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
Hadis ini menunjukkan betapa besar kemuliaan orang yang peduli terhadap kehidupan anak yatim.
Membuka Pintu Keberkahan Rezeki
Sedekah tidak akan mengurangi harta. Sebaliknya, sedekah menjadi sebab datangnya keberkahan, ketenangan hati, dan kemudahan dalam kehidupan. Ketika seseorang membantu anak yatim dengan tulus, ia sedang menanam kebaikan yang kelak akan berbuah keberkahan dalam berbagai bentuk.
Banyak orang merasakan bahwa setelah gemar bersedekah, Allah SWT memberikan jalan keluar dari kesulitan, memperluas rezeki, dan menghadirkan kebahagiaan dalam keluarga.
Menumbuhkan Kepedulian Sosial
Memberikan santunan kepada anak yatim di bulan Muharram juga menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa empati dan kepedulian sosial. Masyarakat diajak untuk tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga memperhatikan mereka yang membutuhkan dukungan.
Semangat berbagi ini akan mempererat persaudaraan dan menciptakan lingkungan yang lebih harmonis serta penuh kasih sayang.
Penutup
Muharram adalah bulan yang tepat untuk memulai tahun dengan amal terbaik. Bersedekah kepada anak yatim bukan hanya membantu mereka menjalani kehidupan yang lebih baik, tetapi juga menjadi jalan meraih keberkahan, pahala, dan kedekatan dengan Allah SWT.
Mari jadikan bulan Muharram sebagai momentum untuk memperbanyak kepedulian dan berbagi kebahagiaan kepada anak-anak yatim. Sebab, senyum yang kita hadirkan untuk mereka dapat menjadi amal yang terus mengalir nilainya di sisi Allah SWT.
ARTIKEL09/06/2026 | M Hilmi Zuhdi
Kurban Hari Ini, Kebahagiaan untuk Banyak Hati
Hari Raya Iduladha bukan sekadar tentang menyembelih hewan kurban. Lebih dari itu, kurban adalah simbol keikhlasan, ketaatan, dan kepedulian kepada sesama. Di tengah kehidupan yang semakin sibuk dan penuh tantangan, ibadah kurban mengajarkan kita untuk kembali membuka hati, berbagi, dan menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain.
Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menjadi pelajaran besar tentang arti pengorbanan dan ketundukan kepada Allah SWT. Dengan penuh keikhlasan, Nabi Ibrahim menjalankan perintah Allah, dan dari situlah lahir makna kurban yang hingga hari ini terus dijalankan umat Islam di seluruh dunia.
Allah SWT berfirman:
“Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”
(QS. Al-Kautsar: 2)
Kurban bukan hanya ibadah pribadi, tetapi juga ibadah sosial. Daging kurban yang dibagikan menjadi kebahagiaan bagi banyak orang, terutama mereka yang jarang menikmati makanan layak. Ada senyum anak-anak, rasa syukur keluarga sederhana, dan hangatnya kebersamaan yang hadir dari setiap potong daging kurban yang dibagikan.
Di balik ibadah kurban, ada nilai empati yang tumbuh. Kita diajak untuk tidak hidup hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga peduli terhadap keadaan sekitar. Sebab sejatinya, harta yang kita miliki juga memiliki hak untuk dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah (hewan kurban).”
(HR. Tirmidzi)
Hari ini, kurban bukan tentang siapa yang paling besar hewannya atau siapa yang paling banyak berkurban. Kurban adalah tentang ketulusan hati. Tentang niat untuk mendekat kepada Allah dan menghadirkan manfaat bagi sesama.
Mungkin bagi sebagian orang, berkurban adalah hal biasa. Namun bagi orang lain, daging kurban yang diterima setahun sekali bisa menjadi kebahagiaan yang sangat berarti. Dari situlah kita belajar bahwa kebahagiaan sejati hadir saat kita mampu berbagi.
Mari jadikan momentum Iduladha sebagai kesempatan untuk memperkuat iman, memperluas kepedulian, dan menebar manfaat. Karena kurban hari ini, bukan hanya tentang ibadah, tetapi tentang menghadirkan kebahagiaan untuk banyak hati.
ARTIKEL21/05/2026 | M Hilmi Zuhdi
Raihlah Ikhlas dan Takwa dari Ibadah Kurban
Menyembelih Kurban adalah suatu ibadah yang mulia dan bentuk pendekatan diri pada Allah. Bahkan, seringkali ibadah Kurban digandengkan dengan ibadah shalat, sesuai dengan firman Allah dalam Surah Al-Kautsar ayat 2:
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah.”
Firman Allah dalam Surah Al-An’am ayat 162 juga menegaskan:
“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, nusuk-ku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.”
Di antara tafsiran an-nusuk adalah sembelihan, menurut pendapat Ibnu ‘Abbas, Sa’id bin Jubair, Mujahid, dan Ibnu Qutaibah. Az Zajaj menyatakan bahwa makna an-nusuk adalah segala sesuatu yang mendekatkan diri pada Allah, namun umumnya digunakan untuk sembelihan.
Namun, yang perlu kita pahami adalah bahwa yang ingin dicapai dari ibadah kurban bukan hanya daging atau darahnya, tetapi keikhlasan dan ketakwaan. Firman Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 37 menyatakan:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”
Allah tidaklah butuh pada segala sesuatu, dan Dialah yang pantas diagungkan. Yang Allah harapkan dari qurban adalah keikhlasan, ihtisab (selalu mengharap-harap pahala dari-Nya), dan niat yang sholih. Oleh karena itu, Allah berfirman, “Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapai ridho-Nya”.
Inilah yang seharusnya menjadi motivasi ketika seseorang berqurban: ikhlas, bukan riya’ atau berbangga dengan harta yang dimiliki, dan bukan pula menjalankannya karena sudah menjadi rutinitas tahunan.
Dalam konteks ini, penting bagi umat Islam untuk merenungkan makna yang lebih dalam dari ibadah kurban. Sembelihan yang dilakukan bukanlah sekadar tindakan mekanis, tetapi ekspresi dari pengabdian dan kesadaran akan keikhlasan kepada Allah Ta’ala.
Bahkan, terkait dengan peribadatan dalam membelanjakan harta halal, memadukan praktik ber qurban dengan investasi yang sesuai syariah juga merupakan bentuk yang sangat bermakna dalam mencapai keberkahan finansial. Dengan memilih investasi yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, kita tidak hanya memastikan kepatuhan terhadap nilai-nilai Islam, tetapi juga mengelola keuangan dengan bijaksana dan bertanggung jawab.
Dengan demikian, sembelihan kurban bukan hanya tentang pengorbanan hewan semata, tetapi juga tentang pengorbanan hati yang ikhlas kepada Allah dan penuh dengan ketakwaan. Melalui ibadah kurban yang dilakukan dengan keikhlasan dan niat yang tulus, serta pengelolaan keuangan yang berdasarkan prinsip-prinsip syariah, kita dapat meraih berkah dan keberkahan dalam hidup kita serta mendekatkan diri pada ridha Allah
ARTIKEL08/04/2026 | M Hilmi Zuhdi

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Depok.
Lihat Daftar Rekening →