WhatsApp Icon
Jika Hari Memiliki Mahkota, Maka Jumat Adalah Rajanya

Jika Hari Memiliki Mahkota, Maka Jumat Adalah Rajanya

Di antara tujuh hari yang Allah SWT anugerahkan kepada manusia, ada satu hari yang memiliki kedudukan paling mulia. Seandainya setiap hari memiliki mahkota, maka Jumat adalah rajanya. Bukan tanpa alasan, karena Allah SWT menjadikan hari Jumat sebagai hari yang dipenuhi kemuliaan, keberkahan, serta berbagai keutamaan yang tidak dimiliki hari-hari lainnya. Bagi seorang Muslim, Jumat bukan sekadar penanda akhir pekan, melainkan kesempatan emas untuk memperbanyak amal saleh dan mendekatkan diri kepada Allah.

Keistimewaan hari Jumat ditegaskan langsung oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim:

"Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke surga, pada hari itu ia dikeluarkan dari surga, dan kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jumat."
(HR. Muslim No. 854)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa Jumat bukanlah hari biasa. Ia menjadi saksi berbagai peristiwa besar dalam sejarah umat manusia dan akan menjadi hari terjadinya kiamat. Karena itu, Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap hari yang penuh kemuliaan ini.

Hari Penuh Berkah dan Ampunan

Allah SWT juga memberikan perhatian khusus terhadap hari Jumat dengan mewajibkan kaum laki-laki Muslim yang memenuhi syarat untuk melaksanakan salat Jumat. Perintah tersebut termaktub dalam firman-Nya:

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."
(QS. Al-Jumu'ah [62]: 9)

Ayat ini mengajarkan bahwa urusan dunia hendaknya dikesampingkan sejenak ketika panggilan Allah berkumandang. Kesuksesan sejati bukan hanya diukur dari keberhasilan mencari rezeki, tetapi juga dari kesiapan memenuhi panggilan ibadah.

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa hari Jumat menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil apabila seorang Muslim menjaganya dengan baik.

"Salat lima waktu, dari Jumat ke Jumat, dan dari Ramadan ke Ramadan menjadi penghapus dosa di antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi."
(HR. Muslim No. 233)

Inilah bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Setiap pekan, Allah menghadirkan momentum untuk membersihkan hati dan memperbarui keimanan.

Waktu Mustajab untuk Berdoa

Salah satu keistimewaan hari Jumat adalah adanya waktu yang sangat mustajab untuk berdoa. Rasulullah SAW bersabda:

"Pada hari Jumat terdapat suatu waktu. Tidaklah seorang Muslim mendapatinya lalu ia berdoa kepada Allah meminta suatu kebaikan, melainkan Allah akan mengabulkannya."
(HR. Al-Bukhari No. 935 dan Muslim No. 852)

Para ulama berbeda pendapat mengenai waktu tersebut. Sebagian berpendapat berada di antara duduknya imam hingga selesai salat Jumat, sementara pendapat lain—yang dipilih oleh banyak ulama seperti Ibnu Qayyim al-Jauziyyah—menyatakan bahwa waktu mustajab itu berada pada akhir hari Jumat, setelah salat Asar hingga menjelang Magrib. Perbedaan ini justru menjadi dorongan agar seorang Muslim memperbanyak doa sepanjang hari Jumat.

Memperbanyak Salawat dan Membaca Al-Kahfi

Hari Jumat juga menjadi waktu terbaik untuk memperbanyak salawat kepada Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW bersabda:

"Perbanyaklah bersalawat kepadaku pada hari Jumat dan malam Jumat."
(HR. Abu Dawud No. 1047)

Selain itu, membaca Surah Al-Kahfi juga menjadi amalan yang sangat dianjurkan.

Rasulullah SAW bersabda:

"Barang siapa membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat, maka akan dipancarkan cahaya baginya di antara dua Jumat."
(HR. Al-Hakim; dinilai sahih oleh banyak ulama)

Cahaya yang dimaksud dipahami para ulama sebagai cahaya petunjuk, keberkahan, dan perlindungan dari berbagai fitnah.

Jumat dan Semangat Berbagi

Hari Jumat juga identik dengan semangat berbagi. Sedekah yang dilakukan pada hari mulia ini menjadi salah satu bentuk rasa syukur atas nikmat Allah sekaligus sarana membantu sesama.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan:

"Sedekah pada hari Jumat dibandingkan hari-hari lainnya seperti sedekah pada bulan Ramadan dibandingkan bulan-bulan lainnya."

Walaupun kutipan ini merupakan penjelasan ulama, bukan hadis Nabi, maknanya menggambarkan bagaimana para ulama memandang besarnya keutamaan memperbanyak sedekah pada hari Jumat. Momentum ini menjadi pengingat bahwa keberkahan Jumat tidak hanya diwujudkan melalui ibadah personal, tetapi juga dengan menghadirkan manfaat bagi orang lain melalui zakat, infak, dan sedekah.

Jadikan Jumat Sebagai Awal Perubahan

Sering kali manusia menunggu datangnya tahun baru untuk berubah. Padahal Islam menghadirkan kesempatan memperbaiki diri setiap pekan melalui hari Jumat. Dari Jumat ke Jumat, seorang Muslim diajak mengevaluasi diri, memperbaiki hubungan dengan Allah, mempererat silaturahmi, memperbanyak amal, dan menumbuhkan kepedulian kepada sesama.

Sebagaimana dikatakan oleh Al-Hasan al-Bashri:

"Setiap hari yang mataharinya terbit adalah kesempatan baru untuk menambah amal sebelum datang hari ketika amal tidak lagi diterima."

Hari Jumat adalah puncak dari kesempatan itu.

Penutup

Jika hari memiliki mahkota, maka Jumat adalah rajanya. Ia datang setiap pekan membawa keberkahan, ampunan, dan kesempatan untuk mendekat kepada Allah SWT. Jangan biarkan hari yang mulia ini berlalu hanya dengan rutinitas biasa. Hiasi ia dengan salat Jumat, membaca Al-Qur'an, memperbanyak salawat, berdoa, berzikir, serta berbagi kepada mereka yang membutuhkan.

Semoga setiap Jumat yang kita jumpai menjadi penghapus dosa, pembuka pintu rezeki, penenang hati, dan penguat langkah menuju ridha Allah SWT.

07/08/2026 | Kontributor: M Hilmi Zuhdi
Bayar Zakat untuk Mendukung Pendidikan dan Masa Depan Anak Dhuafa

Zakat tidak hanya menjadi ibadah yang menyucikan harta, tetapi juga menjadi instrumen pemberdayaan yang mampu menciptakan perubahan bagi masyarakat. Salah satu bentuk pemanfaatan zakat yang memberikan dampak jangka panjang adalah melalui sektor pendidikan, termasuk Program Beasiswa Cendekia BAZNAS.

Beasiswa Cendekia BAZNAS merupakan program pemberdayaan pendidikan yang diselenggarakan oleh BAZNAS untuk membantu mahasiswa dari keluarga kurang mampu agar dapat melanjutkan pendidikan tinggi. Selain memberikan bantuan biaya pendidikan, program ini juga membekali para penerima manfaat dengan pembinaan kepemimpinan, pengembangan kompetensi, penguatan karakter, serta pembinaan nilai-nilai keislaman sehingga mereka mampu menjadi generasi yang unggul, mandiri, dan berkontribusi bagi masyarakat.

Melalui zakat yang ditunaikan di BAZNAS, masyarakat turut berkontribusi membuka akses pendidikan bagi mahasiswa yang memiliki potensi akademik, tetapi menghadapi keterbatasan ekonomi. Dengan demikian, zakat tidak hanya menjadi bentuk kepedulian sosial, tetapi juga investasi jangka panjang dalam mencetak sumber daya manusia yang berkualitas.

Pendidikan sebaai jalan keluar dari kemiskinan

Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam memutus rantai kemiskinan. Akses terhadap pendidikan yang berkualitas dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan peluang kerja sehingga seseorang memiliki kesempatan yang lebih besar untuk meningkatkan taraf hidupnya.

Namun, masih banyak mahasiswa berprestasi yang menghadapi kendala ekonomi sehingga berisiko menghentikan pendidikannya. Kondisi ini dapat menghambat lahirnya generasi yang memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa.

Melalui Program Beasiswa Cendekia BAZNAS, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan sekaligus mengembangkan kemampuan kepemimpinan, karakter, dan kompetensi. Program ini diharapkan dapat mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.

Peran zakat dalam beasiswa

Zakat memiliki peran penting dalam memperluas akses pendidikan bagi mustahik yang memenuhi ketentuan syariat. Dana zakat yang dikelola secara amanah, profesional, dan transparan dapat disalurkan melalui berbagai program pemberdayaan, termasuk Program Beasiswa Cendekia BAZNAS.

Melalui program ini, dana zakat dimanfaatkan untuk membantu mahasiswa menyelesaikan pendidikan tinggi sekaligus mengembangkan kapasitas diri melalui berbagai kegiatan pembinaan. Dengan dukungan tersebut, penerima manfaat diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidupnya dan pada akhirnya berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Bagi muzaki, menunaikan zakat melalui BAZNAS memberikan ketenangan karena dana zakat dikelola sesuai syariat dan disalurkan kepada program-program yang memberikan manfaat nyata bagi mustahik, termasuk di bidang pendidikan.

 

06/08/2026 | Kontributor: M Hilmi Zuhdi
Zakat untuk Dhuafa di Bulan Safar yang Tepat Sasaran

Dalam ajaran Islam, zakat merupakan salah satu ibadah yang memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial. Melalui zakat, umat Islam tidak hanya membersihkan harta, tetapi juga membantu saudara-saudara yang membutuhkan agar dapat menjalani kehidupan dengan lebih layak. Salah satu kelompok yang sangat berhak menerima zakat adalah kaum dhuafa, yaitu mereka yang hidup dalam keterbatasan ekonomi dan kesulitan memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

Pembahasan mengenai zakat untuk dhuafa bulan safar menjadi penting karena masih ada anggapan di masyarakat bahwa Bulan Safar identik dengan kesialan atau waktu yang kurang baik untuk melakukan amal. Padahal, Islam tidak pernah mengajarkan keyakinan tersebut. Justru setiap waktu adalah kesempatan terbaik untuk memperbanyak ibadah, termasuk menyalurkan zakat untuk dhuafa bulan safar agar manfaatnya dapat dirasakan oleh mereka yang membutuhkan.

Melaksanakan zakat untuk dhuafa bulan safar merupakan bentuk kepedulian sosial yang sejalan dengan nilai-nilai Islam. Selama zakat telah memenuhi syarat dan ketentuan syariat, penyalurannya tidak dibatasi oleh bulan tertentu. Oleh karena itu, Bulan Safar dapat menjadi momentum yang tepat untuk meningkatkan kepedulian kepada sesama sekaligus mengharap ridha Allah SWT.

Keutamaan zakat untuk dhuafa bulan safar Menurut Islam

Islam mengajarkan bahwa setiap amal saleh memiliki nilai yang besar apabila dilakukan dengan ikhlas. Begitu pula dengan zakat untuk dhuafa bulan safar, yang pada hakikatnya merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan kepedulian kepada sesama manusia. Tidak ada larangan untuk menunaikan zakat pada Bulan Safar selama telah memenuhi syarat wajib zakat.

Melaksanakan zakat untuk dhuafa bulan safar juga menjadi sarana membersihkan harta sebagaimana tujuan utama zakat dalam Islam. Harta yang dizakati akan menjadi lebih berkah karena terdapat hak orang lain yang telah ditunaikan sesuai ketentuan syariat.

Selain itu, zakat untuk dhuafa bulan safar mampu mempererat ukhuwah Islamiyah. Ketika kaum dhuafa memperoleh bantuan yang layak, mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup dan merasakan perhatian dari saudara-saudara sesama Muslim.

Banyak ulama menjelaskan bahwa waktu terbaik untuk beramal adalah kapan saja kesempatan itu datang. Oleh sebab itu, zakat untuk dhuafa bulan safar tidak perlu ditunda hanya karena adanya mitos yang berkembang di masyarakat mengenai Bulan Safar.

Pada akhirnya, zakat untuk dhuafa bulan safar merupakan wujud nyata dari ajaran Islam yang mengedepankan kasih sayang, keadilan, dan pemerataan kesejahteraan di tengah kehidupan umat.

Mengapa Dhuafa Menjadi Prioritas dalam Penyaluran zakat untuk dhuafa bulan safar

Dalam Al-Qur'an, Allah SWT telah menjelaskan delapan golongan penerima zakat (asnaf), salah satunya adalah fakir dan miskin. Oleh karena itu, zakat untuk dhuafa bulan safar menjadi bagian dari pelaksanaan syariat yang tepat sasaran ketika diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.

Melalui zakat untuk dhuafa bulan safar, kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, biaya pendidikan, maupun layanan kesehatan dapat terbantu. Hal ini menunjukkan bahwa zakat memiliki dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Penyaluran zakat untuk dhuafa bulan safar juga dapat membantu mengurangi kesenjangan sosial. Ketika masyarakat yang memiliki kelebihan harta menunaikan kewajibannya, distribusi kekayaan menjadi lebih merata sesuai prinsip keadilan Islam.

Selain manfaat ekonomi, zakat untuk dhuafa bulan safar memberikan harapan baru bagi penerima manfaat. Mereka tidak hanya memperoleh bantuan materi, tetapi juga merasakan kepedulian dan perhatian dari umat Islam lainnya.

Karena itulah, zakat untuk dhuafa bulan safar hendaknya disalurkan melalui lembaga zakat terpercaya atau langsung kepada mustahik yang benar-benar memenuhi kriteria menurut syariat.

Cara Agar zakat untuk dhuafa bulan safar Tepat Sasaran

Salah satu langkah penting dalam menyalurkan zakat untuk dhuafa bulan safar adalah memastikan bahwa penerima termasuk golongan mustahik sesuai ketentuan syariat Islam. Dengan demikian, zakat benar-benar memberikan manfaat kepada pihak yang berhak.

Menyalurkan zakat untuk dhuafa bulan safar melalui lembaga amil zakat resmi dapat menjadi pilihan yang baik. Lembaga tersebut umumnya memiliki sistem pendataan, survei lapangan, serta mekanisme distribusi yang lebih terstruktur.

Selain melalui lembaga resmi, zakat untuk dhuafa bulan safar juga dapat diberikan secara langsung apabila pemberi zakat mengetahui kondisi penerima dengan pasti. Cara ini tetap diperbolehkan selama memenuhi aturan syariat.

Transparansi dalam penyaluran zakat untuk dhuafa bulan safar menjadi faktor penting agar kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan zakat semakin meningkat. Laporan distribusi yang jelas akan memberikan keyakinan bahwa zakat benar-benar dimanfaatkan secara optimal.

Dengan pengelolaan yang amanah, zakat untuk dhuafa bulan safar tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga menjadi solusi nyata dalam membantu meningkatkan taraf hidup kaum dhuafa secara berkelanjutan.

Hikmah Menunaikan zakat untuk dhuafa bulan safar

Salah satu hikmah terbesar dari zakat untuk dhuafa bulan safar adalah tumbuhnya rasa syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan. Seorang Muslim menyadari bahwa harta hanyalah titipan yang harus digunakan sesuai ketentuan syariat.

Selain itu, zakat untuk dhuafa bulan safar menjadi sarana memperkuat solidaritas sosial. Hubungan antara orang yang mampu dan mereka yang membutuhkan akan semakin harmonis ketika dilandasi rasa saling peduli.

Melalui zakat untuk dhuafa bulan safar, umat Islam juga belajar menghilangkan sifat kikir dan mencintai harta secara berlebihan. Islam mengajarkan bahwa keberkahan tidak hanya diukur dari jumlah harta, tetapi juga dari manfaat yang diberikan kepada orang lain.

Hikmah lainnya dari zakat untuk dhuafa bulan safar adalah meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Ketika zakat dikelola dengan baik, berbagai program pemberdayaan ekonomi dapat membantu mustahik menjadi lebih mandiri.

Pada akhirnya, zakat untuk dhuafa bulan safar merupakan salah satu bentuk ibadah yang menghadirkan manfaat dunia sekaligus pahala akhirat. Dengan niat yang ikhlas dan penyaluran yang tepat sasaran, zakat menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus menghadirkan kebahagiaan bagi sesama.

Menunaikan zakat untuk dhuafa bulan safar merupakan amalan yang sangat dianjurkan ketika kewajiban zakat telah terpenuhi. Islam tidak mengenal anggapan bahwa Bulan Safar adalah bulan yang membawa kesialan sehingga menghalangi seseorang untuk beribadah atau berbagi kepada sesama.

Sebaliknya, zakat untuk dhuafa bulan safar dapat menjadi momentum memperbanyak amal saleh, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta membantu masyarakat yang hidup dalam keterbatasan. Penyaluran zakat yang tepat sasaran akan memberikan manfaat besar bagi mustahik sekaligus menghadirkan keberkahan bagi muzaki.

Semoga semakin banyak umat Islam yang memahami pentingnya zakat untuk dhuafa bulan safar, sehingga semangat berbagi terus tumbuh sepanjang tahun tanpa dipengaruhi oleh mitos atau kepercayaan yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Dengan demikian, zakat benar-benar menjadi instrumen pemerataan kesejahteraan dan wujud nyata kepedulian sosial sesuai tuntunan syariat.

 

03/08/2026 | Kontributor: M Hilmi Zuhdi
Satu Hari yang Mampu Mengubah Hidup: Rahasia Keutamaan Hari Jumat

 

Di antara tujuh hari yang Allah SWT ciptakan, ada satu hari yang memiliki kedudukan istimewa di sisi-Nya, yaitu Hari Jumat. Bagi seorang muslim, Jumat bukan sekadar penanda akhir pekan, melainkan momentum untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, serta membuka pintu keberkahan yang luas. Bahkan, Rasulullah ? menyebut hari ini sebagai penghulu segala hari (Sayyidul Ayyam).

Lalu, apa sebenarnya rahasia keutamaan Hari Jumat sehingga mampu mengubah hidup seseorang?

Hari Terbaik dalam Sepekan

Rasulullah ? bersabda:

"Sebaik-baik hari ketika matahari terbit adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, dimasukkan ke dalam surga, dan pada hari itu pula beliau dikeluarkan dari surga."

(HR. Muslim No. 854)

Hadis ini menunjukkan bahwa Hari Jumat memiliki sejarah besar dalam perjalanan umat manusia. Banyak peristiwa penting terjadi pada hari tersebut, sehingga Allah SWT memberikan kemuliaan yang tidak dimiliki hari lainnya.

Ada Waktu Mustajab untuk Berdoa

Salah satu keistimewaan Hari Jumat adalah adanya waktu di mana doa seorang hamba tidak akan ditolak selama ia memohon kepada Allah dengan penuh keikhlasan.

Rasulullah ? bersabda:

"Pada hari Jumat terdapat suatu waktu. Tidaklah seorang muslim mendapati waktu itu dalam keadaan sedang shalat lalu memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Allah akan mengabulkannya."

(HR. Bukhari No. 935 dan Muslim No. 852)

Para ulama berbeda pendapat mengenai waktu tersebut, namun banyak yang berpendapat bahwa ia berada pada saat-saat terakhir setelah salat Asar hingga menjelang Magrib. Karena itu, jangan biarkan Jumat berlalu tanpa memperbanyak doa untuk diri sendiri, keluarga, dan seluruh kaum muslimin.

Hari Penghapus Dosa

Hari Jumat juga menjadi kesempatan untuk membersihkan diri dari dosa-dosa kecil yang dilakukan selama sepekan.

Rasulullah ? bersabda:

"Salat lima waktu, dari Jumat ke Jumat, dan dari Ramadan ke Ramadan adalah penghapus dosa-dosa di antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi."

(HR. Muslim No. 233)

Betapa besar kasih sayang Allah SWT. Setiap pekan, Dia memberikan kesempatan kepada hamba-Nya untuk kembali dalam keadaan lebih bersih melalui ibadah yang dilakukan dengan penuh keimanan.

Perbanyak Shalawat kepada Nabi ?

Hari Jumat juga merupakan waktu terbaik untuk memperbanyak shalawat kepada Rasulullah ?.

Beliau bersabda:

"Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jumat dan malam Jumat."

(HR. Abu Dawud No. 1047, dinilai hasan oleh sejumlah ulama)

Shalawat bukan hanya bentuk cinta kepada Rasulullah ?, tetapi juga menjadi sebab turunnya rahmat, diangkatnya derajat, serta diampuninya dosa.

Membaca Surah Al-Kahfi

Amalan lain yang sangat dianjurkan adalah membaca Surah Al-Kahfi.

Rasulullah ? bersabda:

"Barang siapa membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat, maka akan dipancarkan cahaya baginya di antara dua Jumat."

(HR. Al-Hakim, dinilai sahih oleh banyak ulama)

Cahaya tersebut bukan hanya bermakna keberkahan, tetapi juga petunjuk yang menerangi langkah seorang mukmin dalam menjalani kehidupan.

Sedekah di Hari Jumat

Banyak ulama menjelaskan bahwa sedekah pada Hari Jumat memiliki keutamaan tersendiri karena dilakukan pada hari yang paling mulia. Sedekah bukan hanya membantu sesama, tetapi juga menjadi sebab datangnya keberkahan rezeki, perlindungan dari berbagai musibah, dan ketenangan hati.

Allah SWT berfirman:

"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir; pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan pahala bagi siapa yang Dia kehendaki."

(QS. Al-Baqarah: 261)

Jumat adalah saat yang tepat untuk mengubah kepedulian menjadi amal nyata. Membantu anak yatim, fakir miskin, dhuafa, pendidikan, dakwah, maupun program pemberdayaan ekonomi adalah investasi akhirat yang pahalanya terus mengalir.

Jadikan Jumat Sebagai Titik Awal Perubahan

Bayangkan jika setiap Hari Jumat kita berusaha:

  • Berangkat lebih awal untuk salat Jumat.
  • Membaca Surah Al-Kahfi.
  • Memperbanyak shalawat.
  • Memperbanyak istighfar dan doa.
  • Bersedekah dengan ikhlas.
  • Mempererat silaturahmi dan memaafkan sesama.

Bila dilakukan secara istiqamah setiap pekan, kebiasaan-kebiasaan baik tersebut akan membentuk pribadi yang lebih dekat kepada Allah SWT. Perubahan besar dalam hidup sering kali berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Mari Isi Hari Jumat dengan Amal Terbaik

Hari Jumat hadir setiap pekan sebagai hadiah dari Allah SWT. Jangan biarkan ia berlalu hanya dengan rutinitas biasa. Jadikan Jumat sebagai momentum memperbanyak ibadah, memperbaiki akhlak, memperkuat hubungan dengan Allah, dan menebar manfaat kepada sesama.

Salah satu amalan yang dapat dilakukan adalah menunaikan sedekah melalui BAZNAS Kota Depok. Melalui amanah yang dititipkan, sedekah Anda akan disalurkan kepada mereka yang membutuhkan melalui berbagai program pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dakwah, dan pemberdayaan ekonomi umat.

Semoga setiap Jumat menjadi hari yang mengubah hidup kita menjadi lebih baik, mendekatkan kepada ridha Allah SWT, serta menjadi bekal terbaik menuju kehidupan akhirat. Aamiin.

 

31/07/2026 | Kontributor: M Hilmi Zuhdi
Sedekah Menjauhkan Bala: Ikhtiar Meraih Perlindungan Allah SWT

Dalam kehidupan, setiap manusia tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Musibah, penyakit, kesulitan ekonomi, maupun berbagai ujian hidup dapat datang kapan saja atas kehendak Allah SWT. Sebagai seorang muslim, selain berikhtiar dan berdoa, Islam juga mengajarkan amalan yang memiliki keutamaan besar dalam memohon perlindungan kepada Allah, yaitu sedekah.

Sedekah bukan sekadar memberikan sebagian harta kepada mereka yang membutuhkan. Lebih dari itu, sedekah merupakan bentuk keimanan, rasa syukur, serta kepedulian sosial yang memiliki banyak keutamaan, salah satunya menjadi sebab datangnya perlindungan Allah dari berbagai musibah.

Sedekah sebagai Penolak Bala

Rasulullah SAW bersabda:

"Bersegeralah bersedekah, karena bala tidak akan mampu mendahului sedekah."
(HR. Al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman, dinilai hasan oleh sebagian ulama).

Hadis ini menjelaskan bahwa sedekah menjadi salah satu sebab datangnya pertolongan dan perlindungan Allah SWT. Maksudnya bukan berarti seseorang terbebas sepenuhnya dari setiap ujian, tetapi Allah dapat menghindarkan hamba-Nya dari musibah yang lebih besar, meringankan cobaan, atau memberikan jalan keluar yang tidak disangka-sangka.

Allah SWT juga berfirman:

"Dan apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang terbaik."
(QS. Saba': 39)

Ayat ini menunjukkan bahwa harta yang dikeluarkan di jalan Allah tidak akan berkurang. Sebaliknya, Allah menjanjikan keberkahan, kecukupan, serta balasan yang lebih baik bagi orang-orang yang gemar bersedekah.

Hikmah Sedekah dalam Kehidupan

Sedekah membawa banyak manfaat, baik secara spiritual maupun sosial, di antaranya:

  • Mendatangkan keberkahan rezeki.
  • Menumbuhkan rasa syukur dan kepedulian terhadap sesama.
  • Membersihkan hati dari sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan.
  • Menjadi sebab terkabulnya doa dengan izin Allah.
  • Menjadi salah satu ikhtiar memohon perlindungan Allah dari berbagai musibah.

Dengan bersedekah secara rutin, seorang muslim tidak hanya membantu meringankan beban orang lain, tetapi juga sedang membangun benteng keberkahan dalam kehidupannya sendiri.

Doa Memohon Perlindungan dari Bala

Selain memperbanyak sedekah, umat Islam dianjurkan untuk senantiasa berdoa memohon perlindungan kepada Allah SWT.

Doa:

?????????? ?????? ??????? ???? ???? ?????? ??????????? ???????? ??????????? ??????? ??????????? ??????????? ????????????

Latin:

Allahumma inni a'udzu bika min jahdil bala', wa darakis syaqa', wa su'il qadha', wa syamatatil a'da'.

Artinya:

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari beratnya cobaan, kesengsaraan yang menyusahkan, ketetapan takdir yang buruk, dan kegembiraan musuh atas musibah yang menimpaku."
(HR. Bukhari dan Muslim).

Jadikan Sedekah sebagai Kebiasaan

Sedekah tidak harus menunggu kaya. Berapa pun yang kita keluarkan dengan penuh keikhlasan akan bernilai besar di sisi Allah SWT. Sedekah yang dilakukan secara istiqamah akan menghadirkan keberkahan bagi diri sendiri, keluarga, serta masyarakat yang menerima manfaatnya.

Melalui lembaga yang amanah dan profesional, sedekah yang kita tunaikan dapat disalurkan kepada fakir miskin, yatim, dhuafa, pelaku UMKM, bantuan kesehatan, pendidikan, hingga program pemberdayaan masyarakat sehingga manfaatnya semakin luas dan tepat sasaran.

Salurkan Sedekah Terbaik Melalui BAZNAS Kota Depok

Mari jadikan sedekah sebagai ikhtiar meraih keberkahan dan memohon perlindungan Allah SWT. Percayakan sedekah Anda melalui BAZNAS Kota Depok, agar setiap rupiah yang dititipkan dapat disalurkan secara amanah, transparan, dan memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat yang membutuhkan di Kota Depok.

Bersama BAZNAS Kota Depok, sedekah Anda menjadi harapan bagi mereka yang membutuhkan sekaligus menjadi investasi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.

Yuk, salurkan sedekah terbaik Anda melalui BAZNAS Kota Depok.

???? Layanan Jemput ZIS: 0878-7600-1222

"Sedekah hari ini, semoga Allah limpahkan keberkahan, menjaga keluarga kita dari berbagai keburukan, serta menjadikan setiap harta yang kita miliki semakin bernilai di sisi-Nya."

 

30/07/2026 | Kontributor: M Hilmi Zuhdi

Artikel Terbaru

Momentum Kebaikan di Bulan Safar
Momentum Kebaikan di Bulan Safar
Bulan Safar adalah bulan kedua dalam kalender Hijriah. Bulan ini dinamai Safar karena pada bulan ini, orang-orang Arab dulunya sering melakukan perjalanan jauh (safar). Bulan ini sering kali dikaitkan dengan berbagai keyakinan dan tradisi yang berkembang dalam masyarakat, termasuk dalam tradisi Islam. Salah satu yang populer adanya pemahaman bahwa bulan ini mengandung kesialan. Sejarah awal Islam, zaman "jahiliyah" mengacu pada periode sebelum datangnya Islam di Arab. Pada masa tersebut, masyarakat Arab hidup dalam berbagai bentuk kepercayaan, khurafat, dan praktik-praktik yang tidak memiliki dasar yang kuat atau ilmiah. Ketika Islam datang, salah satu tujuannya adalah untuk membersihkan masyarakat dari praktik-praktik kebatilan dan membimbing mereka menuju kebenaran. Namun, dalam Islam, tidak ada bukti yang sahih dari hadits atau ajaran Nabi Muhammad shollallohu ‘alayhi wasallam yang menyatakan bahwa bulan Safar menyebabkan segala macam kesialan atau masalah. Islam menekankan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, baik kesialan maupun keberuntungan, adalah hasil dari kehendak Allah ta’ala. Oleh karena itu, tidak tepat untuk mengaitkan segala masalah yang mungkin terjadi dalam bulan Safar dengan bulan itu sendiri. Bahkan Rasulullah sendiri membantah bahwa bulan Safar bulan sial. Lewat riwayat Imam Bukhari, Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda; Artinya: “Tidak ada penyakit menular, tidak ada ramalan buruk, tidak ada kesialan karena burung hammah, tidak ada sial bulan Safar, dan larilah kamu dari penyakit kusta seperti kamu lari dari singa” (HR. Bukhari). Islam mendasarkan ajarannya pada tauhid (keyakinan kepada satu Tuhan yang Maha Esa) dan mengajarkan kebenaran serta akhlak yang baik. Islam menekankan pentingnya ilmu pengetahuan, pemahaman yang benar, dan akal sehat dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu, Islam mendorong umatnya untuk menjauhi khurafat, tahayul, dan kepercayaan tanpa dasar yang dapat menyesatkan. Termasuk kepercayaan bahwa bulan Safar adalah bulan yang sial. Perlu ditegaskan bahwa dalam Islam, kepercayaan pada kesialan atau keberuntungan tertentu yang terkait dengan bulan atau tanggal tertentu adalah bentuk syirik (mempersekutukan Allah) dan kepercayaan yang salah. Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu, termasuk keberuntungan dan kesialan, ditentukan oleh Allah ta’ala semata, bukan oleh bulan atau tanggal tertentu. Keyakinan seperti ini bertentangan dengan konsep tauhid (keyakinan akan keesaan Allah). Lebih lanjut, seperti bulan-bulan lainnya dalam Islam, bulan Safar juga memiliki amalan-amalan yang dianjurkan untuk dilakukan oleh umat Muslim. Diantara amalan yang dianjurkan di bulan Safar yaitu meningkatkan kebaikan dan kepedulian sosial. Bulan Safar dapat dijadikan momentum untuk meningkatkan amal kebajikan dan kepedulian sosial. Berbuat baik kepada sesama, bersedekah, dan memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan adalah amalan-amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Ini adalah cara yang baik untuk meningkatkan hubungan sosial dan memperbaiki kondisi masyarakat. Sebagaimana Sedekah, baik yang wajib yaitu zakat, maupun sedekah sunnah merupakan salah satu pilar ajaran Islam. Keutamaannya pun sangat banyak. Di antaranya adalah sedekah lebih ampuh digunakan sebagai ikhtiar tolak balak daripada sekadar do’a. Dalam hal ini, Abu Hurairah ra sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Rasulullah shollallohu ‘alayhi wasallam pun mantap memilih sedekah untuk tolak balak daripada sekadar do’a.
ARTIKEL04/08/2025 | Muhamad Alfian
Sedekah di Bulan Safar: Menolak Bala, Menjemput Berkah
Sedekah di Bulan Safar: Menolak Bala, Menjemput Berkah
Selama bertahun-tahun, sebagian masyarakat masih meyakini bahwa Bulan Safar adalah bulan sial atau penuh kesialan. Padahal, dalam Islam tidak ada bulan yang membawa kesialan. Semua waktu adalah ciptaan Allah SWT yang penuh dengan keberkahan, termasuk Bulan Safar. Justru, di saat masih ada keyakinan yang menyimpang ini, umat Islam perlu memperbanyak amal kebaikan, salah satunya dengan Sedekah di Bulan Safar. Sedekah di Bulan Safar adalah bentuk ikhtiar spiritual yang menguatkan iman dan memperbaiki akhlak. Sedekah bukanlah jimat atau penolak bala secara magis, melainkan wujud ketundukan kepada Allah dan bentuk kepedulian kepada sesama. Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa kesialan tidak berkaitan dengan waktu atau tempat, melainkan dari perbuatan manusia itu sendiri. Melalui Sedekah di Bulan Safar, seorang muslim memperkuat keyakinan bahwa hanya Allah yang mampu mendatangkan manfaat dan menolak mudarat. Dengan bersedekah, kita menyambung kasih sayang, menolong yang lemah, dan menghapus dosa-dosa kecil yang mungkin mengundang bala. Tradisi salah kaprah yang menyebut Bulan Safar sebagai bulan musibah perlu diluruskan dengan pendidikan dan penguatan iman. Umat Islam diajak untuk tidak terjebak pada mitos, melainkan menghidupkan bulan ini dengan ibadah, doa, dan Sedekah di Bulan Safar sebagai wujud nyata pengabdian kepada Allah. Karena itu, mari kita isi Bulan Safar dengan amalan-amalan positif yang dianjurkan Rasulullah SAW, dan tinggalkan anggapan negatif yang tidak berdasar. Salah satunya adalah membiasakan diri melakukan Sedekah di Bulan Safar, yang bukan hanya menolak bala, tetapi juga menjemput berkah hidup. Keutamaan Sedekah di Bulan Safar Menurut Islam Dalam Islam, sedekah memiliki banyak keutamaan. Ia bisa menjadi penolak bala, pembuka rezeki, penghapus dosa, dan pemberat amal di akhirat kelak. Maka dari itu, Sedekah di Bulan Safar menjadi amalan istimewa yang sangat dianjurkan sebagai bentuk kesadaran spiritual dan sosial seorang muslim. Pertama, Sedekah di Bulan Safar dapat menjadi sarana untuk menolak bala. Rasulullah SAW bersabda: “Bersegeralah bersedekah, karena musibah tidak pernah mendahului sedekah.” (HR. Thabrani). Hadis ini menunjukkan bahwa sedekah bisa menjadi benteng perlindungan, terutama di bulan yang masih banyak disalahpahami ini. Kedua, Sedekah di Bulan Safar menumbuhkan rasa syukur dan empati kepada sesama. Dalam kondisi apapun, berbagi dengan orang lain adalah tanda hati yang lapang. Justru ketika banyak orang takut akan bala, seorang muslim yang sedekah menunjukkan bahwa ia menyerahkan semua urusan kepada Allah SWT. Ketiga, Sedekah di Bulan Safar membuka pintu rezeki. Dalam hadis lain disebutkan bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta, bahkan akan diganti dengan yang lebih baik. Dengan bersedekah di bulan ini, seorang muslim memperkuat keyakinannya terhadap janji Allah tentang rezeki yang tak terduga. Keempat, Sedekah di Bulan Safar memperkuat solidaritas sosial. Banyak orang yang membutuhkan uluran tangan kita, entah dalam bentuk makanan, uang, atau perhatian. Bulan Safar menjadi momen tepat untuk mempererat ukhuwah dan saling menolong. Kelima, Sedekah di Bulan Safar juga menjadi sarana pembersih hati. Ketika seseorang memberikan hartanya di bulan yang masih diselimuti mitos ini, ia sedang melawan rasa takut yang tidak berdasar dan mengokohkan keimanan bahwa keberuntungan datang dari Allah, bukan dari waktu atau bulan tertentu. Amalan Sedekah yang Dianjurkan di Bulan Safar Ada banyak bentuk Sedekah di Bulan Safar yang bisa dilakukan oleh umat Islam. Tidak harus dengan nominal besar, yang terpenting adalah niat ikhlas dan konsistensi dalam berbagi. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa setiap kebaikan adalah sedekah. Pertama, Sedekah di Bulan Safar bisa dilakukan dengan memberikan makanan kepada fakir miskin, anak yatim, atau orang yang sedang kesulitan. Memberi makan adalah bentuk sedekah yang paling dicintai oleh Allah SWT. Kedua, Sedekah di Bulan Safar dapat berupa infak kepada lembaga zakat resmi seperti BAZNAS atau LAZ. Dana yang dihimpun akan disalurkan untuk keperluan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat yang membutuhkan. Ketiga, Sedekah di Bulan Safar juga bisa diwujudkan dalam bentuk tenaga dan waktu. Membantu tetangga, mengajarkan anak yatim, atau bahkan menyebarkan informasi yang bermanfaat adalah bentuk sedekah yang sangat mulia. Keempat, sedekah digital juga bisa dilakukan. Banyak platform donasi yang terpercaya membuka ruang bagi umat Islam untuk melakukan Sedekah di Bulan Safar secara online. Ini adalah kemudahan teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk kebaikan. Kelima, Sedekah di Bulan Safar bisa dijadikan program rutin keluarga. Orang tua bisa mengajak anak-anak untuk menabung sedekah, agar mereka tumbuh dengan semangat memberi dan tidak terjebak pada pemikiran negatif tentang bulan Safar. Membantah Mitos dan Meningkatkan Iman Lewat Sedekah di Bulan Safar Keyakinan bahwa Bulan Safar membawa kesialan merupakan warisan jahiliyah yang bertentangan dengan ajaran Islam. Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada penularan penyakit tanpa izin Allah, tidak ada thiyarah (takhayul sial), tidak ada burung hantu pembawa malapetaka, dan tidak ada Safar.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan memahami hadis tersebut, sudah selayaknya umat Islam menghapus mitos yang melekat pada Bulan Safar dan menggantinya dengan amal ibadah, terutama Sedekah di Bulan Safar. Sedekah adalah bentuk penyerahan total kepada Allah, bukan kepada waktu, angka, atau hari tertentu. Sedekah di Bulan Safar menjadi penanda bahwa seorang muslim lebih percaya pada kekuatan amal saleh daripada keyakinan buta pada mitos. Ini adalah jihad akal dan iman, yang membuktikan bahwa keimanan lebih kuat dari tradisi yang tidak berdasar. Selain itu, Sedekah di Bulan Safar dapat menjadi sarana dakwah yang efektif. Ketika kita bersedekah, orang lain akan ikut tersentuh dan termotivasi. Perlahan, pemahaman tentang bulan Safar pun akan berubah dari bulan yang ditakuti menjadi bulan yang penuh kebaikan. Ulama seperti Imam Ibnu Rajab dan Syaikh Shalih al-Munajjid juga menegaskan bahwa tidak ada keutamaan atau kesialan dalam Bulan Safar, melainkan semua tergantung pada amal perbuatan seseorang. Maka Sedekah di Bulan Safar menjadi tindakan nyata untuk menyambut keberkahan Allah di bulan ini. Jadikan Sedekah di Bulan Safar sebagai Gerakan Hati Tidak ada bulan yang sial dalam Islam. Yang ada adalah hati yang malas beramal dan pikiran yang dibutakan oleh mitos. Sedekah di Bulan Safar adalah salah satu cara paling baik untuk menolak bala dengan syariat, bukan dengan tahayul. Ini adalah ikhtiar nyata menuju kehidupan yang lebih tenang, penuh keberkahan, dan sarat kepedulian. Mari jadikan Sedekah di Bulan Safar sebagai kebiasaan baru di tengah keluarga dan lingkungan kita. Ajak orang terdekat untuk memahami makna sesungguhnya dari bulan Safar dan mengisinya dengan amal-amal mulia, bukan rasa takut. Allah SWT tidak melihat besar kecilnya nominal sedekah, tapi niat dan keikhlasan kita dalam memberi. Dengan bersedekah di bulan ini, kita tidak hanya memperkuat iman, tapi juga menjadi bagian dari solusi umat. Semoga Allah SWT menerima amal kebaikan kita, termasuk Sedekah di Bulan Safar ini, sebagai pemberat timbangan kebaikan dan pelindung dari segala musibah. Aamiin.
ARTIKEL31/07/2025 | M Hilmi Zuhdi
Sedekah Sebagai Gaya Hidup
Sedekah Sebagai Gaya Hidup
Sedekah bukan sekadar tindakan sporadis atau kegiatan sesekali, tetapi sebuah gaya hidup yang memberi dampak positif bagi diri sendiri dan orang lain di sekitar. Dalam Islam, sedekah dianggap sebagai salah satu ibadah yang sangat dianjurkan. Namun, sedekah tidak hanya terbatas pada memberikan harta atau benda, melainkan juga mencakup berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Menjadikan sedekah sebagai gaya hidup berarti mengubah cara kita memandang kekayaan dan memberikan prioritas pada kebaikan. Ini berarti tidak hanya memberikan sebagian dari harta kita kepada orang yang membutuhkan, tetapi juga meluangkan waktu, tenaga, dan kemampuan kita untuk membantu sesama. Sedekah sebagai gaya hidup memperkuat rasa empati dan kepedulian terhadap orang lain, serta membawa rasa kebahagiaan dan kepuasan yang mendalam. Sedekah sebagai gaya hidup juga melibatkan sikap rendah hati dan kesederhanaan dalam berbagi kebaikan. Kita tidak perlu menunggu memiliki kekayaan yang melimpah untuk dapat berbuat sedekah. Bahkan dengan sumber daya yang terbatas, kita masih bisa memberikan yang terbaik dari apa yang kita miliki. Setiap bentuk sedekah, baik besar maupun kecil, memiliki nilai yang sama di hadapan Allah SWT. Selain itu, sedekah sebagai gaya hidup juga membawa dampak positif bagi masyarakat secara keseluruhan. Ketika banyak orang mempraktikkan sedekah sebagai gaya hidup, akan tercipta lingkungan yang lebih harmonis dan saling mendukung. Orang-orang akan saling membantu satu sama lain dalam mengatasi kesulitan dan membagikan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari. Praktik sedekah sebagai gaya hidup juga membantu mengurangi kesenjangan sosial dan kemiskinan. Dengan berbagi kekayaan dan sumber daya kepada yang membutuhkan, kita dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Sedekah tidak hanya memberikan manfaat kepada penerima, tetapi juga kepada pemberi dalam bentuk pahala dan berkah yang diberikan oleh Allah SWT. Dengan demikian, sedekah sebagai gaya hidup adalah sebuah konsep yang sangat bermakna dalam Islam dan juga dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita mengubah pola pikir dan perilaku kita untuk selalu berbuat baik dan berbagi kepada sesama, kita dapat merasakan kebahagiaan yang mendalam dan membantu menciptakan dunia yang lebih baik untuk semua orang. Semoga kita semua dapat menjadikan sedekah sebagai gaya hidup yang terus menerus membawa berkah bagi diri sendiri dan orang lain di sekitar kita.
ARTIKEL14/07/2025 | M Hilmi Zuhdi
Arti Asyura: Makna Istilah dan Signifikansinya bagi Muslim
Arti Asyura: Makna Istilah dan Signifikansinya bagi Muslim
Arti Asyura merujuk pada hari ke-10 bulan Muharram, sebuah momen penting dalam Islam yang kaya akan makna spiritual dan sejarah. Hari ini diperingati dengan puasa sunnah sebagai wujud syukur atas keselamatan Nabi Musa AS dari kejaran Firaun, sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW. Arti Asyura tidak hanya terletak pada penamaan “kesepuluh” dalam bahasa Arab, tetapi juga pada nilai-nilai keimanan, kesabaran, dan tawakal yang terkandung di dalamnya. Artikel ini akan mengulas secara lengkap Arti Asyura, sejarahnya, serta cara umat Islam memperingatinya, dengan harapan dapat menginspirasi untuk mengamalkan ibadah di hari yang penuh keberkahan ini. Asal Usul dan Makna Istilah Asyura Arti Asyura secara harfiah adalah “kesepuluh,” berasal dari kata Arab ‘ashara yang berarti sepuluh. Dalam konteks Islam, istilah ini merujuk pada tanggal 10 Muharram, hari yang memiliki signifikansi besar karena peristiwa keselamatan Nabi Musa AS dan kaumnya dari Firaun. Arti Asyura juga mencerminkan nilai syukur yang mendalam. Ketika Nabi Musa AS diselamatkan dengan dibelahnya Laut Merah oleh Allah SWT, ia berpuasa sebagai ungkapan syukur. Rasulullah SAW mengikuti tradisi ini dan menganjurkan umatnya untuk berpuasa pada hari Asyura. Arti Asyura tidak hanya terbatas pada aspek linguistik, tetapi juga pada dimensi spiritual. Hari ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk selalu bersyukur atas nikmat Allah SWT, terutama nikmat keselamatan dan kemenangan atas kezaliman. Dalam tradisi Islam, Arti Asyura juga terkait dengan anjuran Rasulullah SAW untuk menambah puasa Tasua pada tanggal 9 Muharram. Hal ini dilakukan untuk membedakan tradisi umat Islam dengan kaum Yahudi, yang juga memperingati hari Asyura dengan berpuasa. Arti Asyura secara keseluruhan mengajarkan umat Islam tentang pentingnya menjaga keimanan dan keteguhan hati. Hari ini menjadi simbol bahwa Allah SWT selalu memberikan pertolongan kepada hamba-Nya yang sabar dan bertawakal. Signifikansi Hari Asyura dalam Islam Arti Asyura memiliki signifikansi besar karena kaitannya dengan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah para nabi. Selain keselamatan Nabi Musa AS, beberapa riwayat menyebutkan bahwa pada hari Asyura, Nabi Nuh AS selamat dari banjir besar, menjadikan hari ini penuh makna. Arti Asyura juga terletak pada keutamaan puasa yang dianjurkan Rasulullah SAW. Dalam hadis riwayat Muslim, puasa Asyura dapat menghapus dosa-dosa kecil selama setahun yang lalu, menjadikannya salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan. Arti Asyura dalam konteks spiritual mengajarkan umat Islam untuk merenungkan nikmat Allah SWT. Dengan berpuasa pada hari ini, seorang muslim diajak untuk menghargai keselamatan dan keberkahan yang diberikan Allah SWT dalam kehidupan. Arti Asyura juga mencakup dimensi sosial, di mana umat Islam dianjurkan untuk berbagi kebaikan, seperti menyediakan makanan berbuka atau bersedekah. Hal ini mencerminkan semangat ukhuwah islamiah yang diperkuat di hari Asyura. Arti Asyura sebagai hari penuh keberkahan juga menjadi pengingat untuk memulai tahun baru Islam dengan ibadah yang baik. Bulan Muharram sebagai salah satu bulan suci menjadi waktu yang tepat untuk memperbarui komitmen spiritual. Amalan yang Dapat Dilakukan pada Hari Asyura Arti Asyura menjadi lebih bermakna ketika diiringi dengan amalan-amalan yang dianjurkan, seperti puasa sunnah. Puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram, bersama dengan puasa Tasua pada tanggal 9 Muharram, adalah cara utama untuk memperingati hari ini. Arti Asyura juga terkait dengan doa yang dapat dipanjatkan di hari ini, terutama saat berbuka puasa. Doa seperti “Dzahaba adh-dhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaAllah” (artinya: Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insyaAllah) adalah doa berbuka puasa yang menjadi salah satu Amalan Hari Asyura yang dianjurkan. Membaca doa ini dengan penuh kekhusyukan dapat menambah keberkahan di hari yang istimewa ini. Arti Asyura juga mencakup amalan seperti memperbanyak zikir dan shalawat. Dengan mengisi hari Asyura dengan zikir, seperti “Subhanallah”, “Alhamdulillah”, dan “Allahu Akbar”, seorang muslim dapat menjaga hati tetap terhubung dengan Allah SWT dan memperoleh ketenangan batin. Selain itu, Arti Asyura dapat dihayati melalui sedekah, seperti berbagi makanan saat berbuka puasa atau memberikan bantuan kepada yang membutuhkan. Sedekah di hari Asyura mencerminkan semangat kebaikan dan solidaritas yang selaras dengan makna hari ini. Arti Asyura juga mengajak umat Islam untuk membaca Al-Qur’an, terutama surah-surah yang berkaitan dengan kisah para nabi, seperti Surah Taha. Membaca Al-Qur’an dengan penuh perenungan dapat memperdalam pemahaman tentang makna sejarah hari Asyura. Amalan lain yang terkait dengan Arti Asyura adalah menghadiri majelis ilmu atau pengajian yang membahas keutamaan hari Asyura. Kegiatan ini membantu umat Islam memahami signifikansi hari ini dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hikmah dari Arti Asyura bagi Kehidupan Muslim Arti Asyura mengandung hikmah tentang pentingnya bersyukur atas nikmat Allah SWT. Hari ini mengingatkan umat Islam untuk menghargai keselamatan, kesehatan, dan rezeki yang diberikan, sebagaimana Nabi Musa AS diselamatkan dari Firaun. Arti Asyura juga mengajarkan kesabaran dan tawakal dalam menghadapi cobaan hidup. Peristiwa keselamatan Nabi Musa AS menjadi bukti bahwa Allah SWT selalu memberikan jalan keluar bagi hamba-Nya yang bertakwa. Selain itu, Arti Asyura mengajak umat Islam untuk memperbaiki akhlak melalui puasa dan amalan lainnya. Dengan menahan hawa nafsu, seorang muslim melatih diri untuk menjadi lebih sabar, rendah hati, dan penuh kasih sayang. Arti Asyura juga menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi. Dengan berbagi kebaikan di hari Asyura, seperti mengadakan kegiatan keagamaan atau berbagi makanan, seorang muslim dapat menyebarkan nilai-nilai Islam yang penuh kasih sayang. Arti Asyura sebagai hari penuh keberkahan menginspirasi umat Islam untuk memulai tahun baru Islam dengan semangat ibadah. Dengan mengamalkan puasa dan doa di hari ini, seorang muslim dapat memperkuat komitmen untuk hidup sesuai ajaran Islam. Arti Asyura adalah lebih dari sekadar istilah yang berarti “kesepuluh”; ia adalah simbol syukur, keimanan, dan keteguhan hati yang menginspirasi umat Islam untuk beribadah dengan penuh keikhlasan. Dengan memahami dan mengamalkan Arti Asyura melalui puasa, doa, dan kebaikan sosial, seorang muslim dapat meraih keberkahan di dunia dan akhirat. Mari sambut hari Asyura dengan semangat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, meneladani perjuangan para nabi, dan memperkuat ukhuwah islamiah.
ARTIKEL14/07/2025 | M Hilmi Zuhdi
Zakat: Pilar Keuangan Islam Yang Membangun Solidaritas Sosial
Zakat: Pilar Keuangan Islam Yang Membangun Solidaritas Sosial
Pengertian Zakat Dalam Islam, zakat merupakan salah satu dari lima Rukun Islam, yang tidak hanya berperan sebagai ibadah spiritual tetapi juga sebagai alat untuk kesejahteraan sosial dan ekonomi. Zakat berasal dari kata Arab yang berarti “tumbuh” atau “bersih”. Secara esensial, zakat adalah bagian dari harta yang diwajibkan oleh Allah untuk diberikan kepada golongan tertentu dalam masyarakat, sebagai bentuk pembersihan harta dan jiwa. Pentingnya Zakat Zakat memiliki peran penting dalam pembangunan dan solidaritas sosial dalam masyarakat Islam. Melalui zakat, distribusi kekayaan diharapkan lebih merata, mengurangi kesenjangan sosial, dan membantu mereka yang membutuhkan. Zakat juga berfungsi sebagai alat pembersihan jiwa, mengingatkan umat Islam akan pentingnya berbagi, kesederhanaan, dan menghindari keserakahan. Jenis-jenis Zakat Ada dua jenis utama zakat dalam Islam: Zakat Fitrah dan Zakat Maal. Zakat Fitrah adalah zakat yang diberikan pada akhir bulan Ramadhan, sebelum hari raya Idul Fitri. Zakat ini wajib bagi setiap Muslim, tanpa memandang usia atau status ekonomi. Sementara itu, Zakat Maal adalah zakat yang diwajibkan atas harta tertentu yang telah memenuhi nisab (batas minimum) dan haul (periode kepemilikan). Penghitungan dan Distribusi Zakat Penghitungan zakat dilakukan berdasarkan nisab yang telah ditetapkan. Nisab biasanya dihitung dari nilai emas atau perak. Untuk Zakat Maal, harta yang dizakatkan meliputi uang tunai, emas, perak, saham, properti, hasil pertanian, ternak, dan lain-lain. Setiap jenis harta memiliki aturan penghitungan yang berbeda. Distribusi zakat harus sesuai dengan delapan asnaf (golongan penerima) yang disebutkan dalam Al-Qur’an: fakir, miskin, amil (pengelola zakat), muallaf (orang yang baru masuk Islam), riqab (budak yang ingin memerdekakan diri), gharim (orang yang berhutang), fisabilillah (di jalan Allah), dan ibnusabil (musafir yang kekurangan). Kesimpulan Zakat bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga alat pemberdayaan sosial dan ekonomi yang esensial dalam Islam. Dengan melaksanakan zakat, seorang Muslim tidak hanya mematuhi perintah agama tetapi juga berkontribusi secara aktif dalam mengurangi kemiskinan dan ketidakadilan sosial. Melalui zakat, umat Islam dapat membangun masyarakat yang lebih harmonis, adil, dan sejahtera.
ARTIKEL11/07/2025 | M Hilmi Zuhdi
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Depok.

Lihat Daftar Rekening →